Buku berjudul Islam Desa dan Islam Kota karya Azis Ahmad adalah sebuah undangan untuk melihat agama dengan cara yang lebih segar. Buku ini tidak hanya memotret perbedaan cara beragama di desa dan di kota, tapi juga mengajak kita merenung bagaimana nilai-nilai Islam menyentuh kehidupan melalui pengalaman pribadi penulis dan pengamatan sosial yang tajam.
Buku ini bercerita tentang sejarah dan keseharian dengan sangat lengkap. Penulis mengajak kita menelusuri fenomena keagamaan, mulai dari wajah Kota Makkah di zaman dulu hingga bagaimana anak muda masa kini belajar agama di dunia digital. Hal yang menarik, penulis menghubungkan ajaran agama dengan kondisi ekonomi, persis seperti yang ia alami sendiri saat bekerja sebagai penyedia sayur di Magelang hingga menjadi peneliti di Yogyakarta.
Pada bagian awal, kita diajak terbang ke masa Makkah sebelum Islam. Penulis menunjukkan sisi lain Makkah yang kala itu sudah menjadi pusat ekonomi yang ramai. Ada pelajaran penting di sini: dahulu, orang bersedekah sering kali hanya untuk pamer martabat dan mencari pujian. Namun, Islam datang membawa perubahan besar. Islam mengubah niat tersebut menjadi bentuk kasih sayang yang tulus kepada sesama, yang tujuannya semata-mata demi kebaikan, bukan demi pengakuan manusia.
Selanjutnya, buku Islam Desa dan Islam Kota mengalihkan pandangan kita ke Islam di pedesaan Indonesia. Lewat interaksinya dengan para petani sayur di lereng gunung, penulis mematahkan anggapan keliru bahwa orang desa itu pemalas. Justru sebaliknya, tradisi Islam di desa menjadi benteng yang kuat bagi manusia modern agar tidak merasa kesepian atau kehilangan arah di tengah hiruk-pikuk kota. Di desa, agama bukan sekadar aturan, tapi dipraktikkan melalui rasa saling menghargai dan kehangatan keluarga.
Salah satu kelebihan buku ini adalah kecerdikan penulis dalam menyatukan teori yang berat dengan kisah nyata di lapangan. Meski penulis mengutip pemikiran tokoh-tokoh besar dunia, gaya bahasanya tetap mengalir dan enak dibaca. Hal ini membuat topik yang tadinya terasa rumit menjadi sangat mudah dipahami oleh siapa pun.
Namun, sebagai catatan, isi buku ini banyak berangkat dari pengalaman pribadi penulis di sekitar Yogyakarta dan Magelang. Hal ini mungkin membuat sudut pandangnya terasa sangat lokal bagi pembaca dari daerah lain. Selain itu, karena saat ini teknologi sudah masuk ke pelosok desa, batas antara desa dan kota pun mulai memudar, sehingga pembaca perlu lebih jeli melihat relevansinya dengan kondisi saat ini yang serba digital.
Kita diingatkan untuk memiliki wawasan yang luas tentang wajah Islam Indonesia yang beragam dan tidak kaku. Meski ada beberapa bagian yang cukup mendalam secara ilmu sosial, buku ini tetap memberikan pelajaran hidup yang berharga. Penulis berhasil menunjukkan bahwa pengalaman beragama di desa maupun di kota memiliki keindahan masing-masing yang saling melengkapi.
Melalui buku ini, kita diajak untuk menjadi pribadi yang seimbang: memiliki pemikiran yang terbuka dan inovatif layaknya masyarakat kota, namun tetap menjaga ketulusan serta kehangatan hati seperti masyarakat desa. Kita diingatkan kembali bahwa sesuatu yang lama tidaklah selalu usang, dan segala hal yang baru pun belum tentu menjadi jawaban yang paling benar.
Buku ini sangat cocok bagi Anda yang sedang mencari ketenangan dan cara beragama di tengah zaman yang terus berubah. Singkatnya, ini adalah bacaan penting untuk belajar dari masa lalu demi membangun kehidupan beragama yang lebih bijaksana di masa depan.
Identitas Buku
Judul Buku: Islam Desa dan Islam Kota
Penulis: Azis Ahmad
Penerbit: IRCISOD (Imprint dari Diva Press Group)
Tahun Terbit: 2022 (Cetakan Pertama, November)
Jumlah Halaman: 200 Halaman (14 x 20 cm)
ISBN: 978-623-5348-36-0
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Jalani Hari dengan Tenang dalam Buku Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan
-
Kata Siapa Mayoritas Artinya Selalu Benar? Membaca Buku Musuh Masyarakat
-
Praktik Hukum yang Kian Rapuh di Novel Sui Generis
-
Buku Kamu Terlalu Banyak Bercanda: Ketika Tawa Menyembunyikan Luka
-
Hoppers: Film tentang Pesan Lingkungan dalam Balutan Animasi yang Memukau!
Terkini
-
Ramadan, Takjil, dan Seni Berkonsumsi Secukupnya
-
Puasa dari Algoritma: Cara Bijak Berkonsumsi Media Sosial di Bulan Ramadan
-
Jelang Jamu Persik Kediri, Bojan Hodak Dipusingkan dengan Masalah Ini!
-
Mindful Eating saat Puasa: Menghargai Makanan dan Mengendalikan Nafsu Berbuka
-
Kenapa Pertanyaan 'Kapan Nikah' Selalu Muncul saat Lebaran?