Bimo Aria Fundrika | Ryan Farizzal
Poster film It Was Just an Accident (IMDb)
Ryan Farizzal

It Was Just an Accident adalah film thriller 2025 yang disutradarai dan ditulis oleh Jafar Panahi, sineas Iran terkenal dengan karya-karyanya yang sering menyinggung isu sosial dan politik.

Film ini merupakan co-produksi antara Iran, Prancis, dan Luksemburg, diproduksi oleh Jafar Panahi Film Productions bersama Les Films Pelléas dan Bidibul Productions.

Dengan durasi 103 menit, film ini memenangkan Palme d'Or di Festival Film Cannes 2025, menandai pencapaian luar biasa bagi Panahi yang pernah mengalami penahanan oleh pemerintah Iran.

Selain itu, film ini juga dinominasikan untuk Golden Globe dan masuk shortlist Oscar 2026 untuk Best International Feature Film.

Sebuah Pertemuan Tak Terduga di Bengkel

Salah satu adegan di film It Was Just an Accident (IMDb)

Cerita berpusat pada Vahid, seorang mekanik mobil Azerbaijan yang pernah dipenjara oleh otoritas Iran dan diinterogasi dengan mata tertutup. Suatu hari, seorang pria bernama Eqbal datang ke bengkelnya dengan mobil rusak. Vahid mengenali suara derit kaki palsu Eqbal, yang membuatnya curiga bahwa Eqbal adalah salah satu penyiksanya dulu.

Plot ini berkembang menjadi thriller moral yang mengeksplorasi tema pengkhianatan, balas dendam, dan siklus kekerasan. Panahi dengan cerdik menggunakan elemen suara sebagai pendorong narasi, mencerminkan pengalaman pribadinya selama penahanan di mana ia mengandalkan pendengaran untuk mengidentifikasi orang.

Cerita dibangun dengan ketegangan lambat tapi pasti, dimulai dari insiden kecil yang memicu reaksi berantai, seperti disebutkan dalam deskripsi resmi.

Review Film It Was Just an Accident

Salah satu adegan di film It Was Just an Accident (IMDb)

Secara visual, sinematografi oleh Amin Jafari menonjol dengan pengambilan gambar long take yang minimalis, terutama di adegan pembuka dan penutup. Bengkel mobil sebagai setting utama memberikan nuansa klaustrofobik, memperkuat rasa paranoia Vahid.

Produksi film ini sederhana, sesuai gaya Panahi yang sering memproduksi film secara diam-diam di bawah tekanan sensor Iran. Editing oleh Amir Etminan lancar, menjaga ritme cerita tanpa kelebihan dramatisasi. Desain produksi dan kostum oleh Leila Naghdipari autentik, mencerminkan kehidupan sehari-hari di Iran.

Pemeran utama, Vahid Mobasseri sebagai Vahid, memberikan performa yang kuat dan emosional. Ia berhasil menyampaikan konflik batin melalui ekspresi wajah dan gerak tubuh yang halus. Mariam Afshari sebagai istri Vahid menambahkan lapisan emosi, sementara Ebrahim Azizi sebagai Eqbal menciptakan ketegangan dengan kehadirannya yang ambigu.

Aktor lain seperti Hadis Pakbaten dan Majid Panahi mendukung dengan baik, meskipun beberapa kritik menyebut aktingnya agak kaku di bagian tertentu. Secara keseluruhan, ensemble cast yang sebagian besar non-profesional menambah keaslian film.

Tema utama film ini adalah bagaimana korban penyiksaan bisa menjadi penyiksa, membalikkan dinamika kekuasaan. Panahi menyelipkan komentar sosial tentang rezim otoriter di Iran, tanpa propaganda berlebih. Humor gelap tersebar, seperti saat polisi mengeluarkan mesin kartu kredit, yang menjadi momen ikonik.

Ending film ini dipuji secara luas, dengan banyak penonton menyebutnya sebagai pukulan telak yang tak terlupakan. Rata-rata rating di Letterboxd mencapai 4.0, menunjukkan apresiasi tinggi dari kritikus dan penonton.

Kelebihan film ini terletak pada narasi yang cerdas dan relevansi sosialnya. Panahi berhasil membuat thriller yang tidak hanya menghibur tapi juga memprovokasi pemikiran tentang keadilan dan pengampunan.

Kekurangannya mungkin pada pacing yang lambat di tengah, yang bisa membuat sebagian penonton bosan, serta akting yang tidak selalu konsisten. Namun, ini tidak mengurangi dampak keseluruhan.

Di Indonesia, film ini tayang perdana di Jakarta World Cinema pada 4 Oktober 2025 dengan rating 13+. Dilanjutkan dengan special screening theatrical limited pada 14 Oktober 2025, dan rilis theatrical penuh pada 17 Oktober 2025 dengan rating 17+.

Selain itu, ada premiere di Jogja-NETPAC Asian Film Festival pada 30 November 2025. Versi digital tersedia di KlikFilm mulai 22 Januari 2026 dengan rating 17+. Ini membuat film accessible bagi penonton Indonesia yang tertarik dengan sinema internasional berkualitas.

Overall, It Was Just an Accident adalah masterpiece dari Jafar Panahi yang wajib ditonton. Film ini tidak hanya menawarkan ketegangan thriller tapi juga introspeksi mendalam tentang kemanusiaan. Dengan prestasi festivalnya, film ini layak mendapat tempat di daftar film terbaik 2025.

Kalau kamu penggemar film seperti The Lives of Others atau karya Panahi sebelumnya seperti Taxi, ini adalah pilihan tepat. Rating pribadi dariku: 9.5/10