Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Salah satu adegan di serial One Piece Live-Action Season 2 (IMDb)
Ryan Farizzal

Serial One Piece Live Action Season 2, yang berjudul Into the Grand Line, telah tayang di Netflix pada 10 Maret 2026. Semua delapan episode dirilis sekaligus pada pukul 00:00 PT (sekitar 15:00 WIB), memungkinkan penggemar untuk binge-watching langsung.

Adaptasi live action dari manga legendaris Eiichiro Oda ini melanjutkan petualangan Monkey D. Luffy dan kru Straw Hat Pirates setelah musim pertama yang sukses besar pada 2023. Dengan produksi yang lebih ambisius, musim kedua ini membuktikan bahwa Netflix berhasil menangkap esensi absurd dan penuh semangat dari cerita asli, sambil memperbaiki beberapa kekurangan sebelumnya.

Duel Raksasa di Little Garden

Salah satu adegan di serial One Piece Live-Action Season 2 (IMDb)

Musim pertama memperkenalkan kita pada Luffy (diperankan oleh Iñaki Godoy), seorang pemuda berbadan karet yang bermimpi menjadi Raja Bajak Laut dengan menemukan harta karun One Piece. Dia merekrut kru awal: Zoro (Mackenyu), Nami (Emily Rudd), Usopp (Jacob Romero Gibson), dan Sanji (Taz Skylar). Mereka menghadapi musuh seperti Buggy dan Arlong, sambil membangun ikatan persahabatan yang menjadi inti cerita.

Musim kedua melanjutkan langsung dari akhir musim pertama, di mana Luffy mendapatkan bounty pertama dan memasuki Grand Line, lautan berbahaya penuh misteri dan ancaman baru. Cerita mengadaptasi arc Loguetown, Reverse Mountain, Whiskey Peak, Little Garden, dan Drum Island, memperkenalkan organisasi kriminal Baroque Works serta karakter ikonik seperti Tony Tony Chopper, Vivi (Charithra Chandran), dan Nico Robin (Lera Abova).

Secara plot, musim ini lebih dinamis dan penuh aksi dibandingkan musim pertama. Showrunner Matt Owens dan Joe Tracz berhasil memadatkan arc-arc panjang manga menjadi delapan episode tanpa terasa terburu-buru.

Fokus utama adalah petualangan Straw Hats melawan agen Baroque Works, yang dirancang seperti organisasi mata-mata absurd dengan nama kode seperti Mr. 0 hingga Mr. 13.

Cerita mengeksplorasi tema mimpi, persahabatan, dan pengkhianatan, dengan momen emosional yang menyentuh, seperti backstory Chopper yang membuatku meneteskan air mata. Akan tetapi, beberapa subplot minor dipotong untuk efisiensi, yang mungkin mengecewakan penggemar hardcore manga, tapi hal ini membuat narasi lebih ramping untuk penonton baru.

Review Serial One Piece Live-Action Season 2

Salah satu adegan di serial One Piece Live-Action Season 2 (IMDb)

Performa aktor menjadi sorotan utama. Iñaki Godoy semakin nyaman sebagai Luffy, menampilkan energi tak terbatas dan optimisme yang menular. Mackenyu sebagai Zoro tampil lebih garang dalam adegan pedang, sementara Emily Rudd memberikan kedalaman emosional pada Nami.

Taz Skylar dan Jacob Romero Gibson juga bersinar sebagai Sanji dan Usopp, dengan chemistry kru yang terasa alami. Pendatang baru seperti Charithra Chandran sebagai Vivi membawa nuansa politik dan empati, sementara Mikaela Hoover sebagai Chopper (dengan CGI) berhasil menggemaskan tanpa terlihat konyol.

Lera Abova sebagai Miss All Sunday (Robin) misterius dan karismatik, menjanjikan peran lebih besar di musim mendatang. Secara keseluruhan, casting tetap setia pada desain karakter Oda, meski dengan penyesuaian budaya untuk audiens global.

Visual dan produksi musim ini meningkat pesat. CGI untuk kemampuan Devil Fruit, seperti tubuh karet Luffy atau monster raksasa di Little Garden, terlihat lebih halus dibandingkan musim pertama.

Adegan aksi koreografi dengan baik, menggabungkan wirework dan efek praktis untuk pertarungan absurd seperti Zoro vs. Mr. 1 atau Luffy vs. Smoker. Lokasi syuting di Afrika Selatan dan set kapal Going Merry memberikan rasa petualangan autentik.

Namun, beberapa efek CGI, terutama pada karakter seperti Chopper, kadang terasa kurang sempurna, meski tidak mengganggu keseluruhan pengalaman. Musik oleh Sonya Belousova dan Giona Ostinelli tetap epik, dengan tema baru yang mengiringi masuknya Grand Line.

Kelebihan utama musim ini adalah kesetiaan pada sumber asli sambil memperbaiki masalah adaptasi modern. Tidak seperti adaptasi anime live action lain yang gagal (seperti Death Note atau Cowboy Bebop), One Piece berhasil menjaga nada kartun yang konyol tanpa terasa memalukan.

Ini adalah keajaiban yang menangkap dunia absurd Oda. Musim ini memperbaiki masalah streaming seperti pacing yang lambat, meski begitu ini adalah salah satu adaptasi terbaik di TV saat ini, sih Sobat Yoursay. Yang kukeluhkan malah tentang potongan subplotnya. Kekurangan minor termasuk pacing yang terkadang terlalu cepat di arc Drum Island dan CGI yang spotty, tapi ini tidak mengurangi kesenanganku streaming serial ini kok.

Secara keseluruhan, One Piece Live-Action Season 2 adalah peningkatan yang signifikan, membuktikan bahwa adaptasi ini bukan keberuntungan semata. Ini adalah tontonan wajib bagi penggemar anime, manga, atau siapa saja yang mencari petualangan penuh hati.

Dengan akhir yang menggoda arc Alabasta di musim ketiga (sudah dikonfirmasi), serial ini siap melanjutkan perjalanan panjangnya. Jika musim pertama membuatmu ragu, musim kedua akan membuatmu jatuh cinta! Jadi, buruan cepat streaming! Rating pribadi dariku: 9/10.