Film Palestine 36 merupakan sebuah drama sejarah yang ambisius, disutradarai oleh Annemarie Jacir, seorang sineas Palestina terkemuka.
Dirilis pada tahun 2025, film ini menjadi submisi resmi Palestina untuk Academy Awards ke-98, menyoroti periode krusial dalam sejarah Palestina: Pemberontakan Arab 1936-1939 melawan kekuasaan kolonial Inggris selama Mandate Palestina.
Dengan durasi sekitar 128 menit, film ini menggabungkan elemen epik historis dengan cerita intim tentang kehidupan sehari-hari warga Palestina, baik Muslim maupun Kristen, di tengah gejolak politik dan sosial.
Jacir, yang sebelumnya dikenal lewat film seperti Wajib dan When I Saw You, berhasil membangun narasi yang luas namun humanistis, menekankan akar konflik Arab-Israel yang masih relevan hingga kini.
Kebangkitan Desa di Tahun 1936
Sinopsis film berfokus pada tahun 1936, saat desa-desa Palestina bangkit melawan dominasi Inggris yang telah berlangsung 30 tahun.
Cerita mengikuti Yusuf (diperankan oleh Karim Daoud Anaya), seorang pemuda yang terjebak antara kehidupan desanya yang tenang dan hiruk-pikuk Yerusalem.
Di tengah pemberontakan anti-kolonial, ribuan imigran Yahudi tiba dari Eropa untuk melarikan diri dari penganiayaan antisemitisme, menciptakan ketegangan yang semakin memuncak.
Yusuf, sebagai tokoh sentral, mewakili dilema pribadi: keinginan akan masa depan damai versus realitas konflik yang tak terhindarkan.
Elemen-elemen seperti pemogokan umum, serangan gerilya, dan respons brutal Inggris digambarkan dengan detail, menunjukkan bagaimana peristiwa ini menjadi titik balik bagi Imperium Britania dan wilayah tersebut.
Review Film Palestine 36
Secara produksi, Palestine 36 adalah proyek terbesar Jacir hingga saat ini. Difilmkan di Palestina, Inggris, Prancis, dan negara lain, film ini melibatkan kru internasional dan bintang-bintang seperti Hiam Abbass (Successionk), Saleh Bakri, Kamel El Basha, Yasmine Al Massri, Jeremy Irons, Liam Cunningham, dan Robert Aramayo.
Penampilan Abbass sebagai tokoh kuat dalam keluarga Yusuf memberikan kedalaman emosional, sementara Irons dan Cunningham mewakili perspektif kolonial Inggris, menambahkan lapisan kompleksitas.
Sinematografi oleh Pierre de Kerchove menangkap keindahan lanskap Palestina—dari desa pedesaan hingga jalanan Yerusalem yang ramai—dengan visual yang memukau, meski diwarnai kekerasan.
Skor musik oleh Tamer Karawan memperkuat nuansa epik, menggabungkan elemen tradisional Arab dengan nada dramatis modern.
Tema utama film adalah kolonialisme, identitas, dan humanisme. Jacir tidak hanya menyoroti perlawanan Palestina, tapi juga menunjukkan dampaknya pada semua pihak: warga Palestina yang kehilangan tanah, imigran Yahudi yang mencari perlindungan, dan administrator Inggris yang terjebak dalam kebijakan imperial.
Ini bukan propaganda sederhana; film menghindari stereotip dengan menampilkan karakter multidimensional.
Misalnya, Yusuf bukan pahlawan revolusioner sempurna, melainkan manusia biasa yang bergulat dengan cinta, keluarga, dan ketakutan. Pendekatan ini sebagai epik historis yang intim, yang mengingatkan pada akar konflik tanpa menyederhanakannya.
Akan tetapi, menurutku film terlalu parsial, mengabaikan aspek tertentu dari sejarah Inggris di Palestina, seperti konteks Balfour Declaration atau dinamika internal pemberontakan.
Palestine 36 debut di Toronto International Film Festival 2025, diikuti pemutaran di festival lain seperti Red Sea Film Festival.
Di Rotten Tomatoes, film mendapat rating tinggi dari kritikus, dipuji atas keberaniannya membahas isu kontemporer melalui lensa historis.
Penonton menghargai bagaimana film memberikan konteks atas konflik Gaza dan Tepi Barat saat ini, membuatnya relevan di tengah isu global.
Box office mencapai sekitar $1 juta di awal rilis, meski distribusi terbatas karena sensitivitas politik—bahkan ada insiden pembatalan pemutaran di Yerusalem oleh otoritas Israel.
Di Indonesia, Palestine 36 tayang di bioskop mulai 6 Maret 2026. Jadwal ini mencakup jaringan seperti Cinema XXI, CGV, dan Cinepolis di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan lainnya. Harga tiket rata-rata Rp 30.000-50.000, tergantung kota dan hari.
Film ini dirating Remaja (13+), dengan subtitle Bahasa Indonesia, membuatnya accessible bagi penonton lokal yang tertarik isu sejarah dan hak asasi manusia.
Di Surabaya, misalnya, tayang di bioskop seperti CGV dengan jam mulai pukul 15.00 WIB. Rilis ini tepat waktu, mengingat minat masyarakat Indonesia terhadap isu Palestina, sering dibahas di media sosial dan acara budaya.
Jadi bisa kusimpulkan, Palestine 36 adalah pencapaian sinematik yang penting. Ia tidak hanya mendokumentasikan sejarah tapi juga mengajak refleksi atas ketidakadilan kolonial yang membentuk dunia modern.
Bagi penggemar film seperti The Battle of Algiers atau Gandhi, ini wajib tonton sih. Kekuatannya terletak pada narasi yang berimbang, meski tak luput dari kontroversi.
Dalam era di mana sejarah sering dipolitisasi, film ini mengingatkan bahwa cerita manusia di balik konflik lebih penting daripada narasi hitam-putih.
Dengan panjang yang pas, ia berhasil menyampaikan pesan tanpa terasa bertele-tele. Film ini sangat aku rekomendasikan untuk ditonton. Jangan lewatkan tayangannya untuk memahami akar masalah yang masih bergema hingga saat ini. Rating pribadi dariku: 8/10.
Baca Juga
-
One Piece Live Action Season 2: Petualangan Absurd di Lautan Berbahaya!
-
Review Film Good Luck, Have Fun, Don't Die: Menyelamatkan Dunia dari Penjajahan AI Sambil Tertawa
-
Pemberontakan Perempuan ala Punk Rock yang Radikal: Ulasan Film The Bride!
-
Film Project Y: Thriller Emosional dengan Plot Twist Tak Terduga!
-
Sebuah Kritik Tajam Pakem Horor Indonesia: Ulasan Film Setan Alas!
Artikel Terkait
-
Review Film Na Willa: Suguhkan Dunia Masa Kecil yang Nyekruz!
-
Film Sirat: Meniti Jalan Sunyi yang Mengaduk-aduk Emosi Lewat Visual
-
Terbawa Karakter Ustaz di Kupilih Jalur Langit, Emir Mahira Kini Jaga Pandangan ke Lawan Jenis
-
Kandahar: Misi Pelarian Gerard Butler di Konflik Timur Tengah, Sahur Ini di Trans TV
-
Digarap 5 Tahun, Pelangi di Mars Jadi Film Sci-Fi Indonesia yang Dinanti
Ulasan
-
Film Sirat: Meniti Jalan Sunyi yang Mengaduk-aduk Emosi Lewat Visual
-
Digarap 5 Tahun, Pelangi di Mars Jadi Film Sci-Fi Indonesia yang Dinanti
-
Menemukan Kembali Arah Hidup di Novel Antara Berjuang dan Menyerah 2
-
Film War Machine: Latihan Militer Mendadak Berubah Jadi Teror Robot
-
Rumah yang Hampir Runtuh: Pelajaran Hidup dari Cicilan Rumah yang Menjerat