Dunia pasca-apokaliptik tidak pertama kali terlihat melalui bom yang meledak atau kota-kota yang hancur. Dunia itu ditunjukkan dalam tubuh seorang wanita muda bernama Lucy MacLean. Dia tumbuh di Vault 33—steril, rapi, dan penuh harapan seperti kehidupan di bunker pada umumnya—dia membawa serta nilai-nilai empati, kesopanan, dan kepercayaan pada kebaikan manusia di dunia yang telah lama kehilangan semua itu. Ketika dia melangkah keluar dari tempat perlindungan yang aman itu, Fallout bukan tentang kiamat—tetapi tentang bagaimana nilai-nilai kemanusiaan diuji, direndahkan, dan bahkan dikorbankan sebagai ekspresi dari dunia yang dibangun dari ambisi dan ketakutan.
Dari luar, serial Fallout mungkin tampak seperti fiksi ilmiah pasca-nuklir. Namun, di balik tampilan retro-futuristik dan kekerasan yang terang-terangan, Fallout adalah gambaran nyata dari pergolakan moral umat manusia kontemporer yang telah dibangun jauh sebelum kiamat menghancurkan segala sesuatu yang mereka sayangi. Serial ini membuktikan bahwa bom bukanlah penyebab utama kehancuran dunia. Sebaliknya, jauh sebelum bencana besar terjadi, keputusan-keputusan politik, ekonomi, dan sosial yang substansial telah mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.
Lucy MacLean merupakan karakter utama yang diperankan oleh Ella Purnell, tumbuh di lingkungan Vault 33. Lingkungan tersebut merupakan tempat yang nyaris utopis, dengan manusia diajarkan untuk berpegang pada aturan ketertiban, kerja sama, dan etika kolektif. Lucy bukanlah seorang pahlawan bersenjata dan bukan juga pimpinan kelompok bersenjata yang haus kekuasaan. Ia adalah orang yang percaya bahwa orang seharusnya bisa tolong-menolong satu sama lain.
Namun akibat penculikan ayahnya oleh kelompok kejahatan yang dipimpin Lee Moldaver, kepercayaan itu perlahan memudar. Untuk menyelamatkan ayahnya, ia harus keluar dari bunker dan berkelana ke di dunia permukaan. Di dunia permukaan itulah, Lucy menemukan banyak hal yang sangat bertentangan dengan apa yang diyakininya dan dijalankannya selama di Vault 33.
Di luar Vault, Lucy bukan hanya berhadapan dengan ancaman fisik dan kekerasan, melainkan juga dengan sistem nilai yang telah mengalami keruntuhan total. Kekerasan adalah bahasa sehari-hari, sementara, sebaliknya empati dianggap sebagai suatu kelemahan. Dalam perjalanannya, Lucy bertemu Cooper Howard, atau “The Ghoul” (Walton Goggins), sosok “zombie”, akan tetapi masih memiliki kesadaran dan nalar, selayaknya manusia. Ia adalah penyintas radiasi yang telah hidup selama lebih dari dua abad. Pertemuan ini menjadi salah satu momen paling penting dalam Fallout, karena memperlihatkan bagaimana dunia yang telah hancur memperlakukan tubuh yang rentan.
Tindak kekerasan yang dialami Lucy—termasuk saat ia disekap dan disakiti, serta dilukai untuk kepentingan orang lain—sesungguhnya bukan hanya sekadar untuk dijadikan sensasi. Hal ini berperan sebagai pengingat bahwa dalam dunia setelah kiamat, tubuh wanita seringkali menjadi arena dominasi. Lucy bukanlah korban karena kelemahannya, melainkan karena ia berada dalam sistem yang sudah lama menilai kemanusiaan sebagai sesuatu yang dapat dikorbankan demi kelangsungan hidup yang egois.
Cooper Howard adalah sosok manusia yang selamat, tetapi kehilangan arah. Ia bertahan hidup bukan karena semangat harapan, melainkan karena terus-menerus terpaku pada obsesinya: mencari anak dan istrinya. Kekerasannya bukanlah sifat alami, melainkan hasil dari trauma yang lama dan pengkhianatan sistem yang ia alami. Dalam cerita kembali, terungkap bahwa istrinya, Barbara, memiliki hubungan dengan Vault-Tec Corporation—perusahaan yang melihat kiamat bukan sebagai kejadian buruk, melainkan peluang untuk bisnis dan eksperimen sosial.
Vault-Tec dalam Fallout adalah simbol kapitalisme ekstrem yang mengomersialisasi ketakutan. Bunker keselamatan bukan lagi ruang perlindungan, melainkan alat untuk memilih manusia yang layak di dalalmnya, dan untuk mengontrol mereka dengan mudah. Dunia pasca-apokaliptik yang muncul bukan kegagalan teknologi semata, melainkan adalah kegagalan moralitas: ketika keuntungan dan dominasi diposisikan lebih tinggi daripada martabat manusia.
Sementara itu, karakter Maximus (Aaron Moten) dari Brotherhood of Steel memperlihatkan wajah lain dari dunia yang rusak. Sebagai penyintas kehancuran Shady Sands, Maximus tumbuh dengan trauma mendalam dan kehilangan rasa aman. Ia menemukan perlindungan dalam organisasi militeristik yang menjadikan perilaku kekerasan sebagai identitas. Baju perang dari besi raksasa yang ia kenakan bukan hanya sekadar alat perang, melainkan simbol maskulinitas yang dilembagakan lewat ketakutan dan kehendak untuk berkuasa.
Namun penting dicatat, baik Cooper maupun Maximus bukan pusat etis dalam cerita ini. Mereka adalah produk dari dunia yang telah lama kehilangan empati. Kekerasan yang mereka alami bukanlah jalan keluar, melainkan tanda dari sistem yang sudah runtuh. Di titik inilah Lucy berdiri sebagai poros etik Fallout: satu-satunya sosok yang masih berusaha menggenggam nilai-nilai kemanusiaan, meski dunia di sekelilingnya terus mendesak agar ia melepaskannya.
Fallout sebenarnya adalah sebuah eksperimen sosial yang mengerikan. Di sana kita melihat bagaimana dunia bekerja setelah kehancuran total—sebuah tempat di mana nilai nyawa merosot tajam dan kepedulian dipandang sebagai kelemahan. Pesannya jelas: tidak ada tempat berlindung yang benar-benar aman jika tatanan hidup yang kita ciptakan sejak awal memang sudah menyingkirkan nilai-nilai perikemanusiaan.
Pesan seperti itu menjadi lebih bermakna jika dilihat dalam konteks global kontemporer. Perang memperebutkan sumber daya alam, krisis energi, dan negara-negara adidaya yang terlibat dalam perebutan geopolitik semuanya menandakan bahwa dunia sedang menuju ke arah tersebut. Perang tidak lagi dianggap sebagai tindakan yang sia-sia; melainkan telah menjadi sebuah strategi. Namun sejarah terus menunjukkan bahwa perang hanya meninggalkan trauma, kehancuran individu dalam skala kolektif.
Melalui Lucy, Fallout, sebenarnya tengah mengajukan pertanyaan yang sederhana tapi sangat penting, yaitu apakah empati, solidaritas, dan kepedulian masih memiliki tempat di dunia yang dikuasai ambisi dan ketakutan? Ataukah kita, seperti dunia di luar Vault 33, dunia permukaan, yang perlahan menganggap kemanusiaan sebagai beban yang harus ditanggalkan untuk sekadar bertahan hidup?
Mengingat lirik abadi John Lennon dalam lagu Imagine—“Imagine: "Imagine all the people / Living life in peace... / You may say I'm a dreamer / But I'm not the only one / I hope someday you'll join us / And the world will be as one."”—Fallout sesungguhnya bukan lagi sekadar hiburan. Serial ini merupakan peringatan. Jika manusia tidak mau berhenti menormalisasi kekerasan, mengedepankan keuntungan belaka, serta mengabaikan tubuh-tubuh rentan yang menjadi korban sistem, maka dunia pasca-apokaliptik dalam Fallout bukan lagi fiksi. Ia adalah masa depan yang sedang kita tulis sendiri, dengan tangan yang penuh ambisi dan lupa akan kemanusiaan.
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Buku Bisikan Hati yang Tersembunyi: Merawat Harapan dan Keberanian Bermimpi
-
Film Send Help: Plot Twist Mengerikan di Pulau Terpencil yang Brutal
-
Buku Secret Admirer: Puisi-Puisi tentang Cinta yang Disimpan dalam Diam
-
Sinopsis Lengkap Lima Sekawan: Di Pulau Harta, Seri Pembuka yang Menegangkan
-
Review Novel Kubah Ahmad Tohari: Kisah Menyentuh Tentang Kesempatan Kedua
Terkini
-
Shayne Pattynama Merasa Terhormat Bisa Bela Persija Jakarta
-
Fabio Quartararo ke Honda? Peluang yang Kian Masuk Akal di MotoGP 2027
-
4 Milky Toner Panthenol Non-Comedogenic untuk Kulit Auto Lembap Banget!
-
Semut dan Si Tempurung Kebaikan
-
Mimpi Financial Freedom di Tengah Realitas Ekonomi yang Tidak Ramah