Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
You Are What You Think You Are What You Believe (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Buku You Are What You Think, You Are What You Believe karya Cahyo Satria Wijaya, diterbitkan oleh Shira Media pada tahun 2018. Sejak awal sudah mengajak pembaca untuk bercermin pada satu hal mendasar, yaitu cara berpikir.

Buku ini mengusung gagasan klasik yang juga diangkat David Stoop dalam You Are What You Think, tetapi dengan sentuhan yang lebih dekat dengan konteks pembaca Indonesia. Baik secara bahasa, contoh keseharian, maupun pendekatan spiritual.

Isi Buku

Inti utama buku ini sederhana namun krusial: proses berpikir seseorang sangat menentukan keberhasilan hidupnya. Cara kita memandang masalah, menafsirkan kegagalan, dan menilai diri sendiri akan membentuk realitas yang kita jalani.

Dalam salah satu kutipan yang cukup membekas, warna hidup memang tergantung dari warna kacamata yang kita pakai. Kalimat ini sederhana tapi menegaskan bahwa hidup yang terasa berat, gelap, atau penuh rintangan sering kali bukan semata karena keadaan, melainkan karena sudut pandang yang kita pilih.

Buku ini banyak berbicara tentang kecenderungan manusia untuk meremehkan dirinya sendiri. Kita sering kali terlalu lemah untuk percaya bahwa kita mampu, bahwa kita kuat. Tidak sedikit orang yang memilih menangis dalam kesendirian saat menghadapi ujian hidup, merasa tak berdaya, dan menganggap masa depan tertutup rapat.

Penulis mencoba mematahkan pola ini dengan satu pesan penting. Setiap orang sebenarnya memiliki potensi untuk mengubah masa depannya, dan titik awalnya adalah pikiran.

Menurut penulis, apa yang kita pikirkan akan memengaruhi apa yang kita yakini, dan keyakinan itu pada akhirnya membentuk tindakan. Pikiran positif bukan sekadar angan-angan kosong, melainkan energi awal yang menggerakkan perubahan.

Kelebihan Buku 

Buku ini dipenuhi kalimat-kalimat motivatif yang mendorong pembaca untuk memelihara pikiran positif dan secara sadar menyingkirkan pikiran-pikiran negatif yang sering kali muncul tanpa diundang.

Menariknya, buku ini juga memadukan pendekatan psikologis dengan nilai religius. Beberapa ayat Al-Qur’an diselipkan untuk memperkuat pesan bahwa Tuhan akan selalu menolong hamba-Nya yang mau berpikir dan bertindak positif.

Pendekatan ini membuat pesan buku terasa lebih membumi bagi pembaca Muslim, sekaligus menegaskan bahwa optimisme dan keimanan bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan saling menguatkan.

Dalam pembahasannya, penulis juga menjelaskan hubungan erat antara pikiran, mindset, dan attitude. Pikiran diibaratkan sebagai garis start dalam sebuah perlombaan, penentu arah langkah seseorang. Mindset adalah kepercayaan atau doktrin yang tertanam di otak, sedangkan attitude merupakan sikap dan cara pandang dalam menghadapi situasi. Ketiganya saling berkaitan dan menjadi pembeda utama antara satu individu dengan individu lain.

Buku ini juga menyinggung temuan riset yang menunjukkan bahwa orang dengan tingkat optimisme dan pola pikir positif cenderung lebih mampu menghadapi stres dan memiliki risiko lebih kecil mengalami depresi.

Optimisme melahirkan pribadi yang pantang menyerah, tidak mudah merasa lemah, dan mampu melihat sisi positif dari setiap kejadian. Orang optimis meyakini bahwa skenario Tuhan tidak pernah salah arah, dan keyakinan itulah yang membuatnya tetap teguh dalam cobaan.

Kekurangan Buku 

Namun, buku ini tidak luput dari kekurangan. Beberapa gagasan dan kalimat motivasi terasa diulang-ulang, sehingga pada titik tertentu dapat menimbulkan rasa jenuh bagi pembaca yang mengharapkan variasi atau pendalaman konsep yang lebih tajam.

Meski demikian, You Are What You Think, You Are What You Believe tetap layak dibaca, terutama bagi mereka yang sedang berjuang membangun kembali kepercayaan diri dan harapan.

Buku ini mengingatkan kita bahwa mengubah hidup tidak selalu dimulai dari langkah besar, tetapi dari keberanian untuk mengubah cara berpikir. Sebab, pada akhirnya, kita memang adalah apa yang kita pikirkan dan apa yang kita yakini.