Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
The Psychology of Money (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Banyak orang mengira bahwa kesuksesan finansial ditentukan oleh kecerdasan, kemampuan berhitung, atau pengetahuan investasi yang rumit. Namun buku The Psychology of Money karya Morgan Housel menawarkan sudut pandang berbeda.

Melalui 19 kisah pendek yang sederhana namun tajam, Housel menjelaskan bahwa keberhasilan mengelola uang lebih banyak ditentukan oleh psikologi manusia. Bagaimana kita berpikir, merasakan, dan bertindak terhadap uang.

Buku ini menekankan bahwa keputusan finansial tidak pernah benar-benar rasional. Di balik setiap keputusan selalu ada emosi seperti rasa takut, keserakahan, keinginan diakui, hingga tekanan sosial. Karena itu, seseorang yang sangat pintar pun bisa mengalami kegagalan finansial jika tidak mampu mengendalikan perilakunya terhadap uang.

Isi Buku

Salah satu gagasan utama dalam buku ini adalah bahwa kekayaan tidak selalu berkaitan dengan kecerdasan. Seseorang yang tidak memiliki latar belakang ekonomi bisa menjadi kaya jika memiliki perilaku keuangan yang sehat.

Contoh yang sering dikutip adalah kisah Ronald James Read, seorang petugas kebersihan pom bensin di Amerika Serikat. Sepanjang hidupnya ia hidup sederhana, rutin menabung, dan berinvestasi secara disiplin. Ketika meninggal dunia, Read meninggalkan kekayaan sekitar 8 juta dolar AS. Sebagian besar kekayaannya bahkan disumbangkan kepada rumah sakit dan perpustakaan di kota tempat ia tinggal.

Kisah ini sangat kontras dengan cerita Richard Fuscone, seorang lulusan Harvard University yang pernah menjadi eksekutif di perusahaan investasi Merrill Lynch. Fuscone memiliki pendidikan tinggi dan penghasilan besar, tetapi gaya hidupnya sangat boros dan dipenuhi utang. Ketika krisis finansial global terjadi pada tahun 2008, ia akhirnya harus menyatakan bangkrut.

Perbedaan nasib dua orang tersebut bukan karena tingkat intelektual, melainkan karena perilaku mereka terhadap uang. Read hidup sederhana dan disiplin, sedangkan Fuscone terjebak dalam gaya hidup konsumtif.

Kapitalisme, Kekayaan, dan Rasa Iri

Dalam buku ini, Housel juga menyinggung sisi lain dari sistem ekonomi modern. Kapitalisme memang mampu menciptakan kekayaan dalam jumlah besar, tetapi pada saat yang sama juga menciptakan rasa iri.

Salah satu contoh yang dibahas adalah kisah Rajat Gupta, seorang eksekutif sukses yang pernah menjadi CEO konsultan manajemen global McKinsey & Company. Gupta berhasil mencapai puncak karier dan memiliki kekayaan lebih dari 100 juta dolar AS. Namun, kesuksesan tersebut tidak menghentikan keinginannya untuk memperoleh lebih banyak uang.

Pada masa krisis keuangan 2008, Gupta yang menjadi anggota dewan direksi Goldman Sachs memperoleh informasi internal tentang rencana investasi besar dari Warren Buffett. Hanya beberapa detik setelah mendengar informasi tersebut, ia menghubungi seorang manajer investasi untuk membeli saham perusahaan itu sebelum berita tersebut diketahui publik.

Tindakan ini tergolong insider trading, yaitu transaksi saham berdasarkan informasi rahasia perusahaan. Meski berpotensi menghasilkan keuntungan besar, keputusan tersebut akhirnya membuat Gupta dijatuhi hukuman penjara. Kisah ini menunjukkan bagaimana rasa iri dan keserakahan dapat mendorong seseorang mengambil risiko yang menghancurkan reputasi dan masa depannya.

Cara Mendapatkan dan Mempertahankan Kekayaan

Housel menjelaskan bahwa memperoleh kekayaan dan mempertahankan kekayaan adalah dua hal yang berbeda. Untuk mendapatkan kekayaan, seseorang biasanya perlu berani mengambil risiko, optimistis, dan mencoba berbagai peluang.

Namun untuk mempertahankan kekayaan, pendekatannya justru berlawanan. Dibutuhkan kehati-hatian, kesederhanaan, serta kesadaran bahwa kekayaan dapat hilang kapan saja.

Karena itu, Housel menyarankan pentingnya memiliki survival mindset dalam keuangan. Artinya, seseorang perlu membangun sistem keuangan yang kuat, memiliki cadangan dana, serta membagi investasi secara bijak antara aset konservatif dan aset berisiko.

Selain itu, rencana keuangan yang baik harus selalu menyediakan ruang untuk kemungkinan gagal. Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan, sehingga fleksibilitas menjadi kunci untuk menjaga stabilitas finansial dalam jangka panjang.

Kekayaan Sejati vs Tampilan Kekayaan

Salah satu pelajaran penting dalam buku ini adalah perbedaan antara kekayaan sejati dan tampilan kekayaan. Banyak orang terlihat kaya karena memiliki rumah besar, mobil mahal, atau gaya hidup mewah. Padahal, semua itu sering kali dibiayai oleh utang.

Sebaliknya, kekayaan sejati sering kali tidak terlihat. Orang yang benar-benar kaya justru bisa hidup sederhana karena mereka memiliki aset dan tabungan yang memberi rasa aman finansial.

The Psychology of Money mengajarkan bahwa kesuksesan finansial bukan sekadar soal angka atau rumus investasi. Yang paling penting adalah perilaku: kemampuan mengendalikan emosi, hidup sederhana, bersabar, dan memahami risiko.

Buku ini mengingatkan bahwa uang bukan hanya alat ekonomi, tetapi juga cermin dari cara manusia berpikir dan menjalani hidup. Memahami psikologi di balik uang dapat membantu kita membuat keputusan yang lebih bijak. 

Identitas Buku

  • Judul: The Psychology of Money
  • Penulis: Morgan Housel
  • Penerbit: Penerbit Bentara Aksara Cahaya
  • Tahun Terbit: 2022 
  • Tebal: 256 Halaman
  • ISBN: 978-602-6486-57-8 
  • Kategori: Non Fiksi, Psikologi, Keuangan