Film 5 Centimeters Per Second (judul asli Jepang: Bysoku 5 Senchimtoru) versi live-action tahun 2025 merupakan adaptasi dari film anime pendek klasik karya Makoto Shinkai yang dirilis pada 2007.
Disutradarai oleh Yoshiyuki Okuyama, seorang fotografer dan sutradara visual artist yang dikenal dengan pendekatan sinematik yang puitis, film ini membawa cerita ikonik tentang jarak, waktu, kenangan, dan cinta yang tak kesampaian ke format realita.
Diproduseri oleh CoMix Wave Films, film berdurasi 123 menit ini tayang perdana di Jepang pada 10 Oktober 2025 setelah diputar di Busan International Film Festival, dan kini hadir di Indonesia mulai 30 Januari 2026 di jaringan bioskop seperti CGV, Cinépolis, dan lainnya.
Pertemuan Masa Kecil di Bawah Bunga Sakura
Cerita mengikuti Takaki Tno (diperankan Hokuto Matsumura sebagai versi dewasa, Haruto Ueda sebagai masa kecil/middle school, dan Yuzu Aoki sebagai remaja) yang mengenang hubungannya dengan Akari Shinohara (Mitsuki Takahata dewasa, Noa Shiroyama anak-anak).
Dimulai dari persahabatan masa kecil di sekolah dasar yang berubah karena pindahan keluarga, cerita berkembang melalui tiga babak utama yang melompat waktu: persahabatan polos, perasaan remaja yang terpisah jarak, hingga kehidupan dewasa Takaki yang terjebak dalam rutinitas dan penyesalan.
Struktur non-linear dengan kilas balik yang dominan menekankan bagaimana waktu berlalu seperti kecepatan jatuhnya bunga sakura (5 cm per detik)—lambat tapi tak terelakkan, meninggalkan jejak rindu dan kesepian.
Tema utama meliputi LDR (long-distance relationship), ketidakpastian komunikasi, serta penerimaan bahwa tidak semua hubungan berakhir dengan bahagia selamanya, melainkan membentuk identitas seseorang.
Metafor stasiun kereta, planetarium, dan pesawat ulang alik 1991 menambah lapisan filosofis tentang harapan yang diluncurkan ke angkasa tanpa jaminan balasan.
Review Film 5 Centimeters Per Second
Kelebihan terbesar film ini terletak pada sinematografi yang memukau. Okuyama, dengan latar belakang fotografi, memanfaatkan stok film tradisional untuk menghasilkan gambar bergrain halus, bloom lembut, dan komposisi frame seperti lukisan.
Adegan sakura gugur, malam bersalju, dan jalanan kota sepi terasa dreamy sekaligus grounded dalam realitas, menciptakan nuansa nostalgia dan melankolis yang kuat—disebut sebagai salah satu film Jepang paling visually-stunning tahun 2025.
Atmosfer kontemplatif ala Haruki Murakami dan Shunji Iwai terasa kental, dengan permainan cahaya, warna, dan komposisi yang mendukung emosi dalam tanpa berlebihan.
Akting anak-anak (khususnya Haruto Ueda dan Noa Shiroyama) dipuji luar biasa natural dan menyentuh, membawa kehangatan masa kecil yang kontras dengan kesendirian dewasa Takaki.
Hokuto Matsumura memberikan penampilan solid sebagai Takaki dewasa yang tertutup dan terluka, sementara Mitsuki Takahata sebagai Akari dewasa menambah kedalaman. Emosi rindu, penyesalan, dan penerimaan terasa autentik, memicu air mata bagi banyak penonton.
Film ini setia pada elemen ikonik anime (surat, kereta, sakura) tapi "berani nakal" dengan menambahkan closure lebih eksplisit dari kedua sisi karakter, memberikan rasa lega tanpa menghapus kepahitan.
Kekurangan utama muncul dari adaptasi itu sendiri. Durasi yang hampir dua kali lipat anime (63 menit) membuat ritme melambat di segmen dewasa yang kini mendominasi lebih dari setengah film.
Fokus berat pada Takaki dewasa (didorong popularitas Matsumura sebagai bintang) mengorbankan keseimbangan tiga babak asli, sehingga hubungan masa lalu terasa undercooked dan kurang membangun emosi secara organik.
Monolog puitis dan ambiguitas poetis anime yang indah digantikan narasi lebih linear dan eksplanatori—karakter kadang menjelaskan moral secara langsung, mengurangi ruang bagi penonton untuk merenung sendiri.
Beberapa pengulangan visual dan pacing yang lambat di bagian tengah membuat film terasa panjang, meski tetap indah. Ekonomi perfilman Jepang (kebutuhan film panjang dan nama besar) membuat adaptasi live-action kehilangan sebagian jiwa ringan dan liminal anime—realisme justru membuat beberapa momen terasa kurang magis.
Rating IMDb sekitar 7.0 mencerminkan penerimaan mixed: dipuji visual dan akting, tapi dikritik karena simplifikasi dan kurang resonansi emosional dibanding original.
Dibandingkan anime 2007, live-action ini lebih dewasa, reflektif, dan memberikan jawaban atas pertanyaan menggantung (seperti nasib Akari dewasa), mirip extended cut yang menenangkan tapi kurang ambigu.
Anime unggul dalam keindahan animasi Shinkai yang etereal dan durasi pendek yang sempurna untuk introspeksi cepat; live-action unggul dalam aktor nyata dan kedalaman psikologis, cocok bagi yang ingin pengalaman lebih embodied. Bagi penonton Indonesia, tema LDR sangat relatable di era digital modern, meski endingnya tetap bittersweet dan mungkin mengecewakan bagi yang mencari resolusi romantis bahagia.
Overall, 5 Centimeters Per Second (2025) adalah adaptasi yang tulus dan indah secara visual, berhasil membawa emosi universal tentang waktu yang tak bisa dihentikan dan cinta yang berubah bentuk.
Meski tak sempurna dan tak mengalahkan keajaiban anime asli, film ini layak ditonton di layar lebar untuk pengalaman sinematik imersif—terutama bagi penggemar Shinkai atau mereka yang pernah merasakan jarak fisik-emotional. Rating dariku: 7/10.
Jangan lewatkan tayangannya mulai 30 Januari 2026 di bioskop Indonesia; tiket bisa dicek di aplikasi CGV, Cinépolis, atau XXI. Film ini mengingatkan: kadang dunia tak berakhir meski seseorang tak datang, dan itulah keindahan (serta kepedihan) kehidupan.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Review Film The Plague: Metafor Kecemasan Sosial yang Menyeramkan!
-
Film Mudborn: Boneka Tanah Liat yang Mengutuk dan Mengerikan!
-
Fenomena Mistis dan Mitos Urban Lintas Budaya di Film Tolong Saya!
-
Kembalinya Pablo Neruda ke Tubuh Seekor Cicak
-
Film Kafir: Gerbang Sukma, Kembalinya Karma yang Datang Menagih Nyawa!
Artikel Terkait
-
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
-
Main di Klub Kasta Kedua, Kapten Timnas Jepang U-23 Direkrut Tim Raksasa Belanda
-
Review Film The Plague: Metafor Kecemasan Sosial yang Menyeramkan!
-
Live Action Sakamoto Days Unjuk Gigi: Anggota Order Resmi Terungkap!
-
Kota Nomura Masuk Jajaran Pemain Film Live Action Blue Lock, Ini Perannya
Ulasan
-
Review Film The Plague: Metafor Kecemasan Sosial yang Menyeramkan!
-
Membedah Makna Damai di Buku Seneca Filsafat Hidup Bahagia
-
Ulasan Novel The Devil Who Tamed Her: Intrik Cinta di Kalangan Bangsawan
-
Ulasan Novel Muslihat Berlian: Perburuan Masa Depan yang Keseleo!
-
Film Surat untuk Masa Mudaku: Berdamai dengan Luka Masa Kecil
Terkini
-
Kenny Austin Lindungi Amanda Manopo dari Komentar Jahat: Don't Worry
-
4 Moisturizer Non-Comedogenic Under Rp50 Ribu, Aman untuk Kulit Berjerawat!
-
Indonesia Miliki 461 Ribu Kedai Kopi, Tapi Sudahkah Kita Ngopi Sehat?
-
150 Sentimeter yang Mengubah Jalan Hidupku
-
Perankan Karakter Kembar, Park Jin Hee Siap Menguras Emosi di Drakor Pearl in Red