M. Reza Sulaiman | Chairun Nisa
Diriku mengayuh pelan menuju jalan yang Allah bentangkan. (Sumber: ilustrasi Gemini)
Chairun Nisa

Apakah tubuh manusia bisa memanjang 3 cm dalam satu minggu? Itulah pertanyaanku seminggu terakhir yang aku jawab sendiri dengan membuktikan tutorial dari berbagai platform terpercaya. Mulai dari sit up 60 kali setiap pagi dan malam, berenang dua hari sekali, makan makanan dengan serat dan protein tinggi, hingga minum susu peninggi badan. Dan tentu saja aku kecewa karena jawabannya adalah tidak; tubuhku tetap 147 cm.

Tapi itu tujuh tahun silam. Masa-masa paling mendebarkan bagi seorang remaja lulusan SMP dengan paradigma "sekolah untuk bekerja". Menanti diterima di SMK top dengan jurusan Akuntansi adalah hal lazim di keluargaku, di desaku, dan di antara kawan sekolahku. Lulus SMP ya masuk SMK, bukan SMA apalagi MA, kemudian kerja pabrik yang disalurkan dari sekolah dengan gaji UMR Cikarang.

Siang itu aku pulang dengan rasa kecewa dan hampa sembari mengayuh sepeda sejauh 10 km. Aku membawa jawaban, “Mak, aku tidak diterima. Tingginya harus 150 pas.”

“Kan Mamak sudah bilang, tidak usah nggoyo. Terus sekarang mau sekolah di mana?”

“Tidak tahu lah, Mak. Emoh aku kalau di SMK N 8 jurusan menjahit.”

“Terus gimana, apa mau membantu Mamak di sawah, tidak sekolah?”

“Atau di Madrasah Aliyah saja, ya? Sana ke rumah Iis, dia sudah daftar. Tanya infonya, semoga masih bisa.”

“Oke, Mak. Madrasah Aliyah.”

Semua informasi telah terpenuhi dan aku diterima begitu mudahnya. Dulu masih menggunakan sistem penilaian Nilai Ebtanas Murni (NEM). Dengan mudahnya nilaiku bertahan di peringkat ketujuh selama beberapa hari. Nilaiku cukup tinggi, sepuluh besar di kelas. Tapi ya itu, tubuhku tidak tinggi. Waktu itu aku jengkel sekali dengan sekolah yang tampak arogan karena menerima murid berdasarkan tinggi badan, bukan berdasarkan nilai. Apalagi setelah aku tahu kalau tahun depannya yang diterima berdasarkan nilai.

Madrasah Aliyah jauh sekali, 8 km dari rumah. Tak ada sepeda motor, apalagi angkutan umum. Madrasah Aliyah berada di kota kabupaten, sementara rumahku di suatu kecamatan pojok selatan yang terpencil. Jadilah aku mengayuh sepeda 50 menit setiap harinya. Aku pun memiliki kawan, kawan setia yang juga senasib ditolak SMK.

Ternyata aku tidak mengayuh sepeda selama tiga tahun penuh. Allah membuka jalan dengan mempertemukanku dengan Hannan dan Atul, santri dari suatu pondok yang letaknya tidak jauh dari Madrasah Aliyah. Awalnya aku hanya bermain melihat-lihat pondok itu; apa, seperti apa, dan bagaimana.

Seminggu kemudian, dua tetanggaku datang memberikan penawaran yang berbeda dalam waktu yang berbeda pula. Pagi hari, Bu Nyai Sanah menawarkanku masuk pondok yang sama dengan pondok Hannan dan Atul. Kebetulan suami Bu Nyai Sanah adalah rekan dari kiai besar pengasuh Pondok Pesantren Baabussalam. Pondok itu gratis untuk anak yatim, dengan berbagai fasilitas dari seorang pengusaha kuliner top di kota kabupaten dan berbagai motivasi. Sore harinya, datanglah Bu Nyai Qosidah menawarkan pondok pesantren gratis juga untuk anak yatim, pondok milik Bu Nyai Ratna yang mengisi kajian di balai desa pagi itu.

Tentu saja Mamakku menerima kedua tawaran dengan baik dan mengembalikan sepenuhnya keputusan kepadaku. Aku yatim. Saking bingungnya di kelas 9, aku takut sekali tidak bisa melanjutkan sekolah dan harus mengurus sawah seperti Mamak. Kalau sekadar membantu tidak masalah, tapi di usiaku yang masih 15 tahun saat itu, rasanya berat sekali. Sampai cara pandangku adalah sekolah untuk mencari kerja dan membantu orang tua. Padahal, Mamakku sendiri tidak pernah berpikir seperti itu. Bagi Mamakku, tujuan sekolah adalah untuk mencari ilmu.

Malam itu juga aku memutuskan untuk memilih pondok pesantren Hannan dan Atul hanya karena suatu alasan: sudah ada kenalan di sana. Dua hari kemudian aku berangkat diantar Mamak, Pakde, Bu Nyai Sanah, dan Simbok. Tiba-tiba, semua ternyata telah berlalu begitu lama. Berbagai cobaan di pondok datang silih berganti. Setiap naik kelas pasti ada saja cobaannya, dan alhamdulillah hingga hari ini aku masih bertahan.

Karena 150 cm itu, bayangkan kalau aku lebih tinggi, maka sekarang aku tidak akan mengenal nahwu, sorof, dan fikih. Nama Imam Bukhari dan Muslim paling-paling hanya pernah kudengar saat pelajaran Agama Islam. Kini aku membaca hadis-hadis yang terentang jarak 1.400 tahun dengan Kanjeng Nabi Muhammad saw., menikmati ilmu membedah kitab-kitab besar dengan bahasa Arab Fusha, menikmati sastra Indonesia, serta berbagai pemikiran ideologi, filsafat, dan psikologi. Dan satu lagi plot twist terbesar dalam hidupku: aku kuliah. Satu-satunya cucu Simbok yang kuliah.

Dulu saat awal memilih Madrasah Aliyah, cemooh dan cacian pun datang dari saudara sendiri. Seperti, “Kalau sekolah di Aliyah besok PPL-nya di Mekah, ya? Hahahaha.” “Dikasih makan apa oleh kiai-mu?” “Kalau kita sih mending nguli saja.” “Sekolah ya investasi cari kerja.” Dan masih banyak lagi. Sekali dua kali aku pun bentrok dengan mereka. Kalau Mamakku, beliau sabar saja, luar biasa sabar. Hanya dijawab, “Alhamdulillah kalau PPL di Mekah,” atau “Aku tidak pernah salah memilihkan jalan untuk anakku karena aku dituntun Bu Nyai.”

Akhir-akhir ini, sebuah pola kemiskinan struktural baru saja kupahami. Angkatanku dulu banyak yang memutuskan kerja. Setahun dua tahun kontrak habis, digantikan dengan lulusan baru yang masih segar. Berujung pulang kampung, menikah, beranak, dan bertani lagi. Aku tidak masalah dengan itu, hanya saja paradigmaku sudah berubah.

Setidaknya aku masih memiliki harapan bahwa pendidikan akan memutus rantai kemiskinan. Tidak terbersit sedikit pun keinginan untuk menikah muda. Menikah haruslah saat kondisi mental dan finansial sudah mampu. Meski belum bisa memberi dampak besar pada desa asalku, setidaknya 150 cm itu mengubah jalan hidupku.

Terkadang sesuatu yang kamu anggap baik belum tentu baik di hadapan Allah. Begitu pun segala sesuatu yang kau pandang buruk, belum tentu buruk di hadapan Allah.