The Plague merupakan debut film panjang sutradara Charlie Polinger. Dirilis pada 2025, thriller psikologis ini memadukan horor tubuh dan drama remaja secara cermat. Everett Blunck berperan sebagai Ben, anak laki-laki 12 tahun yang canggung, dengan Kayo Martin sebagai Jake, Kenny Rasmussen sebagai Eli, serta Joel Edgerton sebagai pelatih yang dijuluki Daddy Wags.
Film ini diproduksi oleh Doublethink dan didistribusikan oleh Independent Film Company di Amerika Serikat. The Plague tayang perdana di Cannes Film Festival 2025 pada 16 Mei, dalam program Un Certain Regard. Berdurasi 98 menit, film ini mendapat rating R karena mengangkat tema perundungan dan kekerasan psikologis.
Sinopsis
Berlatar di Tom Lerner Water Polo Camp pada musim panas 2003, film ini mengikuti sekelompok anak laki-laki pra-remaja yang terjebak dalam dinamika sosial yang kejam. Ben, yang baru pindah dari Boston usai perceraian orang tuanya, berharap menemukan pelarian di kamp tersebut. Namun, ia justru terhisap ke dalam hierarki brutal antaranak.
Jake, pemimpin kelompok yang karismatik sekaligus manipulatif, menyebarkan rumor tentang “The Plague”, penyakit misterius yang disebut-sebut menular lewat sentuhan dan menyebabkan kerusakan fisik serta mental. Eli, anak yang dikucilkan, menjadi sasaran utama rumor ini.
Seiring berjalannya waktu, kecemasan Ben kian meningkat dan membuatnya meragukan realitas di sekelilingnya. Polinger memanfaatkan latar kamp yang terisolasi untuk membangun ketegangan, mengingatkan pada Lord of the Flies karya William Golding, dengan sentuhan modern tentang toksisitas maskulinitas remaja.
Secara tematik, The Plague mengeksplorasi perundungan dan dampaknya terhadap psikologis anak. Film ini menunjukkan bagaimana rumor palsu dapat menyebar layaknya virus, menciptakan paranoia dan keterasingan. Batas antara penyakit fisik dan gangguan psikologis sengaja dikaburkan, menjadikan horor dalam film ini bersifat sosial dan merayap, bukan sekadar kejutan instan. Meski berlatar 2003, tema yang diangkat tetap relevan, terutama di era media sosial, ketika perundungan dapat menyebar jauh lebih cepat
Review Film The Plague
Performa para aktor menjadi sorotan utama. Everett Blunck sebagai Ben tampil autentik dan rentan, menangkap kegelisahan anak sensitif yang vegetarian dan berempati tinggi di tengah lingkungan yang kasar. Tatapan mata yang lebar serta postur tubuh yang canggung membuat ketakutannya terasa nyata.
Kayo Martin sebagai Jake hadir sebagai antagonis yang efektif—pesonanya menutupi kekejaman, menjadikannya terasa dekat sekaligus menjijikkan. Kenny Rasmussen sebagai Eli membawa nuansa misterius lewat dialog-dialog ganjil yang menambah rasa tidak nyaman. Sementara itu, Joel Edgerton, meski berperan pendukung sebagai pelatih, memberi kedalaman melalui karakter otoriter yang abai terhadap dinamika anak-anak. Para aktor muda, yang sebagian besar debutan, tampil natural, seolah benar-benar anak-anak kamp, bukan aktor profesional.
Sinematografi film ini menangkap keindahan sekaligus kegelapan area kamp: birunya air kolam berkontras dengan bayangan malam yang pekat, menciptakan atmosfer klaustrofobik. Musik minimalis—didominasi suara air dan napas berat—meningkatkan ketegangan tanpa terasa berlebihan. Penyuntingan Polinger yang rapat menjaga tempo tetap lambat namun intens, membuat durasi 98 menit terasa padat. Film ini berhasil mengangkat kecemasan remaja menjadi horor yang membekas, meski kritiknya terletak pada kurangnya dinamika ketegangan dan pelepasan, serta kedalaman tematik yang terasa agak hampa meski visualnya kuat.
Secara keseluruhan, The Plague adalah film yang mengganggu sekaligus reflektif, relevan ditonton orang tua dan remaja untuk membuka diskusi tentang perundungan. Ini bukan hiburan ringan; film ini meninggalkan rasa tidak nyaman yang bertahan lama, mengingatkan bahwa horor terbesar kerap lahir dari manusia itu sendiri. Nilai 9/10 layak diberikan—wajib tonton bagi penggemar horor psikologis seperti mother! atau The Babadook.
Di Indonesia, The Plague mulai tayang di bioskop sejak awal Januari 2026 di jaringan CGV, Cinepolis, dan XXI, dengan klasifikasi usia R13 atau D17, tergantung kebijakan bioskop. Di CGV Grand Indonesia, misalnya, film ini dijadwalkan tayang pukul 13.30 WIB.
Selain itu, distributor lokal seperti KlikFilm juga menyediakan opsi streaming mulai 5 Januari 2026 melalui Indofilm dengan subtitle bahasa Indonesia. Penayangan ini mengikuti rilis terbatas di Amerika Serikat pada 24 Desember 2025 dan distribusi luas pada 2 Januari 2026, menjadikannya kesempatan menarik bagi penonton Indonesia untuk menyaksikan horor internasional dengan isu sosial yang universal.
Baca Juga
-
Film Mudborn: Boneka Tanah Liat yang Mengutuk dan Mengerikan!
-
Fenomena Mistis dan Mitos Urban Lintas Budaya di Film Tolong Saya!
-
Kembalinya Pablo Neruda ke Tubuh Seekor Cicak
-
Film Kafir: Gerbang Sukma, Kembalinya Karma yang Datang Menagih Nyawa!
-
Return to Silent Hill: Adaptasi Horor yang Mengecewakan dan Gagal Total!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Membedah Makna Damai di Buku Seneca Filsafat Hidup Bahagia
-
Ulasan Novel The Devil Who Tamed Her: Intrik Cinta di Kalangan Bangsawan
-
Ulasan Novel Muslihat Berlian: Perburuan Masa Depan yang Keseleo!
-
Film Surat untuk Masa Mudaku: Berdamai dengan Luka Masa Kecil
-
Film Good Will Hunting: Kisah Matematikawan Jenius dengan Trauma Masa Lalu