Membaca novel karya Tsugaeda memang perlu kesiapan mental. Plot twist-nya tak sekadar mengejutkan, tapi juga bikin pembaca menertawakan ekspektasi sendiri. Muslihat Berlian adalah novel yang mengaduk emosi. Pembaca dibuat heran, lalu sadar, lalu tertawa ngakak karena semua ternyata sudah dipasang rapi sejak awal.
Muslihat Berlian masih berada dalam tema yang sama dengan novel Tsugaeda sebelumnya, Efek Jera. Bahkan, ada tokoh dari novel tersebut yang muncul sekilas di sini. Kesamaan karakteristik dan ciri khas pun terasa. Tokoh laki-laki lugu, terjebak situasi kriminal besar, dan dipaksa bertumbuh oleh keadaan.
Bagi sebagian pembaca, mungkin terasa repetitif. Bagi yang lain, bisa jadi membangun chemistry akan kemungkinan kolaborasi tokoh-tokoh lintas novel di masa depan.
Sinopsis Novel
Novel ini berkisah tentang Junaedi (Jun), seorang laki-laki “biasa” dengan hidup yang juga biasa saja. Ia pegawai bank, punya hobi bermain sulap, dan jatuh cinta pada perempuan yang level hidupnya terasa terlalu tinggi untuk diraih dengan gaji bulanan.
Ketakutan akan stagnasi membuat Jun mengambil keputusan nekat. Ia mengundurkan diri dari pekerjaannya dan terjun ke dunia bisnis dengan harapan sukses instan. Sayangnya, yang instan justru kebangkrutannya.
Dari titik itu, hidup Jun berubah drastis. Ia terseret ke dalam konflik dua komplotan mafia yang ternyata sama-sama memiliki hubungan dengan ayah kandung Jun. Ayahnya sosok yang tak pernah benar-benar hadir dalam hidupnya. Pertikaian antar geng, kejar-kejaran, hingga pencurian berlian di sebuah bank menjadi rangkaian peristiwa yang memaksa Jun masuk ke permainan hidup-mati yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Kelebihan Novel
Sosok Flo yang awalnya terasa aneh terutama saat dikejar rombongan Yasuo, ternyata cerdas. Namun, jika harus memilih satu karakter paling mencuri perhatian, Junaedi tetap juaranya. Bahkan makian “anak setan!” dari ayahnya menjadi salah satu momen paling epik dan emosional dalam novel ini.
Dari sisi penyajian, gaya bertutur Tsugaeda yang terasa seperti mendongengi membuat cerita mengalir ringan meski temanya berat. Ditambah ilustrasi yang apik, pengalaman membaca menjadi lebih hidup dan personal. Interaksi antartokoh kerap memancing senyum, meski di saat lain memunculkan tanda tanya moral.
Kelebihan novel ini terletak pada build-up karakter yang jelas, motivasi tokoh yang mudah dipahami, dan ritme cerita yang page-turning.
Kekurangan Novel
Kekurangannya ada pada beberapa bagian yang terasa dragging akibat penjelasan latar belakang yang terlalu rinci, serta aksi pencurian yang kurang memberikan ketegangan maksimal. Sebagai novel bertema heist, Muslihat Berlian memang agak berbeda.
Jika pembaca membayangkan ala Ocean’s Eleven, Italian Job, atau kisah klasik Arsène Lupin yang penuh trik teknis, perencanaan detail, dan ketegangan eksekusi. Novel ini mungkin terasa kurang “nendang”. Adegan pencurian berlian justru terasa relatif mudah dan minim hambatan, terlebih mengingat ini adalah aksi pencurian pertama Jun.
Tsugaeda sendiri menyatakan bahwa pencurian dalam novel ini hanyalah instrumen naratif. Karakter manusia, relasi kuasa, serta realitas sosial di sekitar tokohnya. Karena itu, porsi perencanaan dan eksekusi heist terasa dipadatkan, seolah hanya menjadi pintu masuk bagi Jun ke dalam “universe” Tsugaeda yang lebih besar.
Meski demikian, Muslihat Berlian tetap menawarkan sesuatu yang menarik. Sebuah kisah kriminal yang lebih sibuk membongkar isi kepala dan luka batin tokohnya ketimbang membuka brankas. Dan pada akhirnya, novel ini bukan tentang berlian yang dicuri, melainkan tentang manusia yang terjebak di antara pilihan, ambisi, dan masa lalu yang tak pernah selesai.
Identitas Buku
- Judul: Muslihat Berlian
- Penulis: Tsugaeda (Ade Agustian)
- Genre: Kriminal, Misteri, Heist
- Penerbit: One Peach Media
- Tahun Terbit: 2021
Baca Juga
-
Buku Yang Terhormat Bapak Saya: Antologi Kisah tentang Sisi Terapuh Manusia
-
Di Balik Persaingan Ketat dan Banyaknya Jalur Masuk ke Perguruan Tinggi
-
Seni Mengatur Hati di Buku You Are What You Think, You Are What You Believe
-
Aku Demam di Bumi yang Sakit
-
Warisan Kelam 1965: Mengapa Nalar Kritis Publik Indonesia Masih Terbelenggu?
Artikel Terkait
-
Buku Yang Terhormat Bapak Saya: Antologi Kisah tentang Sisi Terapuh Manusia
-
Antara Ego dan Rasa: Belajar Menghargai Manusia melalui Novel Prince
-
Unik! Novel Tentang Reinkarnasi Jadi Tulang Rusuk Pahlawan Diadaptasi Anime
-
Mao Mao dan Berang-Berang: Penerbangan Bebek Kecil Mencari Jati Diri
-
Sastrawan yang Menghilang di Antara Kata
Ulasan
-
Film Surat untuk Masa Mudaku: Berdamai dengan Luka Masa Kecil
-
Film Good Will Hunting: Kisah Matematikawan Jenius dengan Trauma Masa Lalu
-
Buku Yang Terhormat Bapak Saya: Antologi Kisah tentang Sisi Terapuh Manusia
-
Film Mudborn: Boneka Tanah Liat yang Mengutuk dan Mengerikan!
-
Fenomena Mistis dan Mitos Urban Lintas Budaya di Film Tolong Saya!
Terkini
-
Digelar di Tokyo, Crunchyroll Anime Awards Edisi ke-10 Hadirkan 32 Kategori
-
4 Ide Outfit Rok ala Wonyoung IVE yang Super Aesthetic dan Girly!
-
Guru di Ujung Laporan: Mengapa Mediasi Kini Kalah oleh Jalur Hukum?
-
Banjir yang Tak Pernah Usai: Kota, Beton, dan Kekalahan Berulang
-
Polemik Transfer Maarten Paes: Dianggap Mahal untuk Seorang Kiper Pelapis!