Dalam menjalani kehidupan, ada dua substansi penting yang seharusnya selalu kita sisipkan setiap hari. Ia adalah kebijaksanaan dan kebajikan. Keduanya tidak dapat berdiri sendiri. Kebijaksanaan tanpa kebajikan akan melahirkan kecerdikan yang tanpa empati, sementara kebajikan tanpa kebijaksanaan berisiko menjadi tindakan impulsif.
Di buku Seneca Filsafat Hidup Bahagia karya Lucius Annaeus Seneca, keseimbangan keduanya adalah fondasi kebahagiaan sejati. Berlaku bijak dan menjunjung kebajikan berarti tidak terjebak dalam kecemasan akan masa depan maupun penyesalan terhadap masa lalu.
Penulis mengajarkan agar manusia mampu menikmati keadaan saat ini tanpa terlena oleh harapan-harapan yang berlebihan. Kepuasan terhadap apa yang dimiliki, bukan obsesi terhadap apa yang belum tercapai, membuat kehidupan yang keras dapat dijalani dengan hati yang lebih tenteram dan damai. Kesederhanaan, menurut Seneca, bukan kekurangan, melainkan kebebasan.
Menemukan Makna Bahagia dalam Filsafat Seneca
Pemikiran ini berakar kuat pada Stoikisme, mazhab filsafat Yunani-Romawi yang menekankan pengendalian diri, penerimaan terhadap takdir, dan kebajikan moral. Dalam karya-karyanya, Seneca menegaskan bahwa kebahagiaan tidak datang dari kemewahan atau kesenangan indrawi. Melainkan dari karakter yang baik dan pikiran yang jernih.
Kekayaan, jabatan, dan popularitas bersifat rapuh. Mudah datang dan mudah hilang, sementara kebajikan bersifat kekal. Beberapa esai penting Seneca seperti De Vita Beata (Tentang Hidup yang Bahagia) dan On the Shortness of Life (Tentang Hidup yang Singkat) membahas bagaimana manusia sering menyia-nyiakan waktu dengan mengejar hal-hal di luar kendali mereka.
Seneca mengingatkan bahwa hidup terasa singkat bukan karena waktunya kurang, tetapi karena manusia terlalu banyak menghamburkannya untuk ambisi, kecemasan, dan pembuktian diri. Salah satu tema yang paling kuat dalam filsafat Seneca adalah pandangannya tentang kematian.
Dalam surat-suratnya kepada Lucilius, ia menegaskan bahwa kematian adalah bagian alamiah dari kehidupan, bukan sesuatu yang harus ditakuti. Ketakutan terhadap kematian justru membuat manusia gagal menjalani hidup dengan penuh kesadaran. Sikap bijak bukanlah menghindari kematian, melainkan mempersiapkan diri menghadapinya dengan menjalani hidup secara bermakna.
Tentang Penulis Buku Seneca
Lucius Annaeus Seneca lahir di Kordoba, Spanyol, dari keluarga bangsawan Romawi. Ia hidup sebagai negarawan, penulis, dan filsuf Stoik yang pemikirannya bertahan hingga kini.
Karya-karyanya sangat berpengaruh pada Era Renaisans dan menginspirasi tokoh-tokoh besar seperti Marcus Aurelius dan William Shakespeare. Seneca juga dipengaruhi oleh pemikiran Plato, Sokrates, dan Epikuros, meski ia mengolahnya dalam kerangka Stoikisme yang khas.
Dalam buku ini, Seneca menekankan bahwa satu-satunya kehidupan yang layak dijalani adalah kehidupan yang berlandaskan kebenaran moral. Meski kebenaran sering dianggap subjektif, Seneca mengajak pembaca untuk membangun standar moral dari dalam diri, bukan dari pengakuan eksternal. Membaca pemikirannya seperti diajak menyederhanakan definisi kebahagiaan di tengah kompleksitas dunia modern.
Menyederhanakan Bahagia: Kebijaksanaan dan Kebajikan ala Seneca
Di era media sosial, standar kebahagiaan sering kali ditentukan oleh pencapaian orang lain. Kebahagiaan dipamerkan, dibandingkan, dan dinilai. Seneca mengingatkan bahwa meletakkan kebahagiaan pada umpan balik orang lain adalah kesalahan besar. Jika kebahagiaan bergantung pada respons eksternal, maka ia akan selalu rapuh.
Pada akhirnya, kebahagiaan menurut Seneca memang sederhana, tetapi sulit dipraktikkan. Ia bukan tentang memiliki lebih banyak, melainkan tentang menginginkan lebih sedikit; bukan tentang menguasai dunia, tetapi menguasai diri sendiri.
Dalam dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan, buku filsafat hidup bahagia ala Seneca terasa semakin relevan sebagai pengingat bahwa hidup yang baik selalu dimulai dari batin yang tenang dan kebajikan yang dijaga.
Identitas Buku
- Judul: Seneca Filsafat Hidup Bahagia (Panduan Stoik Untuk Hidup Bahagia)
- Penulis: Lucius Annaeus Seneca
- Penerbit: Anak Hebat Indonesia
- Tahun Terbit: 2024
- Tebal: 186 halaman
- Kategori: Non Fiksi, Filsafat, Self Development
Baca Juga
-
Ulasan Novel The Devil Who Tamed Her: Intrik Cinta di Kalangan Bangsawan
-
Ulasan Novel Muslihat Berlian: Perburuan Masa Depan yang Keseleo!
-
Buku Yang Terhormat Bapak Saya: Antologi Kisah tentang Sisi Terapuh Manusia
-
Di Balik Persaingan Ketat dan Banyaknya Jalur Masuk ke Perguruan Tinggi
-
Seni Mengatur Hati di Buku You Are What You Think, You Are What You Believe
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Novel The Devil Who Tamed Her: Intrik Cinta di Kalangan Bangsawan
-
Ulasan Novel Muslihat Berlian: Perburuan Masa Depan yang Keseleo!
-
Film Surat untuk Masa Mudaku: Berdamai dengan Luka Masa Kecil
-
Film Good Will Hunting: Kisah Matematikawan Jenius dengan Trauma Masa Lalu
-
Buku Yang Terhormat Bapak Saya: Antologi Kisah tentang Sisi Terapuh Manusia
Terkini
-
Gak Perlu Flagship Mahal, Ini 5 HP 5 Jutaan Paling Worth It Awal 2026
-
Takdir yang Tidak Terduga
-
Jelang Piala Asia U-17 2026, Timnas Indonesia Bakal Uji Coba Lawan China
-
4 Rekomendasi Drone Mini Terbaik: Ukuran Kecil, Kemampuan Nggak Main-Main!
-
Kota Nomura Masuk Jajaran Pemain Film Live Action Blue Lock, Ini Perannya