M. Reza Sulaiman | Taufiq Hidayat
O: Tentang Seekor Monyet Yang Ingin Menikah Dengan Kaisar Dangdut. (Doc.Pribadi/Taufiq)
Taufiq Hidayat

Eka Kurniawan memang tidak pernah kehabisan akal untuk mengejutkan pembacanya. Setelah memukau dunia lewat realisme magis di Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau, kini hadir sebuah karya "setengah fabel" yang penuh kejutan melalui berbagai sudut pandang.

Melalui novel berjudul O, Eka menyuguhkan kritik sosial yang begitu apik, menampar realitas manusia melalui kehidupan para binatang dan benda mati yang terasa sangat hidup.

Sinopsis: Obsesi Armo Gundul dan Revolver yang Berbicara

Kisah ini dimulai dengan sebuah momen yang membingungkan: Entang Kosasih, seekor monyet, sedang "menembak" ke arah Sobar, seorang polisi. Bagi monyet-monyet lainnya, ini adalah bentuk hiburan, namun bagi Sobar, hal ini adalah sebuah bencana. Apa yang membuat Entang melakukan hal itu? Ia terpesona oleh cerita Armo Gundul, seekor monyet yang konon berhasil bertransformasi menjadi manusia. Entang meyakini bahwa dengan menembak polisi menggunakan revolver milik Sobar, ia akan mewujudkan impian terbesarnya: menjadi manusia sejati.

Sementara itu, pembaca dikenalkan dengan karakter utama kita, O. Ia adalah monyet betina yang merupakan pacar Entang. Ketika Entang menghilang—dan diyakini telah berhasil menjadi manusia—O memulai perjalanan panjangnya.

Untuk mengejar kekasihnya dan mewujudkan cita-citanya menikah dengan "Kaisar Dangdut", O bersedia menjadi monyet sirkus (topeng monyet) di bawah bimbingan seorang pawang bernama Betalumur. O percaya bahwa dengan berlatih sebagai wanita yang berbelanja di pasar atau sebagai tentara yang membawa senjata dalam pertunjukan, ia akan semakin dekat untuk menjadi manusia.

Analisis: Manusia yang Kebinatangan dan Binatang yang Berprinsip

Eka Kurniawan dengan cermat memakai sudut pandang nonmanusia untuk menggugah kesadaran kita akan realitas. Kita akan berjumpa dengan Kirik, seekor anjing yang terus berupaya menyadarkan O tentang kesalahan besar yang terjadi ketika dia menjadi "budak manusia" melalui topeng monyet. Ada pula Siti, seekor kakatua yang tidak henti-hentinya berteriak "Dirikan salat!"—sebuah karakter yang pasti akan membuat Anda menggelengkan kepala karena begitu sarkastis.

Selain itu, Eka juga memberikan suara pada sebuah revolver. Lewat benda tak bernyawa ini, kita dapat merasakan sejarah dan emosi yang mendalam dari pemiliknya. Gaya penceritaan yang bergantian dengan perspektif yang bervariasi di setiap bab membuat pembaca merasa seolah-olah sedang menyatukan potongan-potongan puzzle yang besar. Eka memicu pikiran kita dengan mengkritik berbagai hal yang selama ini dianggap wajar melalui karakter-karakternya.

Mengapa disebut "setengah fabel"? Karena meskipun manusia mengambil peran penting, mereka sering kali digambarkan jauh lebih korup daripada hewan-hewan yang berjuang untuk prinsip mereka. Eka sangat teliti dalam menutup semua celah di dalam buku ini sehingga cerita yang tampak aneh ini menjadi terasa logis dalam dunia dangdut dan lingkungan pinggiran kota yang ia bangun.