Hayuning Ratri Hapsari | Nurkalina Pratiwi Suganda
Sampul novel Yang Kulihat di Cermin karya Jutta Nymphius (Gramedia Digital)
Nurkalina Pratiwi Suganda

Remaja adalah usia rentan untuk terpapar hal dan kegiatan negatif, terlebih ketika memasuki peralihan SD-SMP-SMA. Wah ... orang tua harus ekstra hati-hati supaya si buah hati tidak terjerumus pergaulan bebas.

Akan tetapi, apa jadinya jika anak yang digembor-gembor dilindungi justru kekurangan kasih sayang dari orang tuanya? Broken home, itulah istilah yang melekat pada keadaan tersebut, seperti pada novelet Topless.

Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama, karya Jutta Nymphius yang punya judul lokal Yang Kulihat di Cermin kini lebih mudah diakses oleh pembaca. Dengan total 188 halaman, dia menyajikan teen-fiction dan slice of life dari sudut pandang remaja perempuan yang tengah mengalami masa peralihan dan pubertas. Berdasarkan review salah satu pembaca di Ruang Buku Kominfo, Yang Kulihat di Cermin punya cerita yang relate dengan kehidupan era kemajuan teknologi.

Kira-kira, apa sih yang membuatnya begitu dekat dengan kita?

Sinopsis Yang Kulihat di Cermin (Topless)

Amelie adalah seorang gadis berusia 13 tahun yang mahir menggunakan Photoshop. Dia pun berharap bisa melakukan Photoshop pada hidupnya. Iseng-iseng demi kepuasan sendiri, sebenarnya Amelie suka menimpa foto artis yang body goals menggunakan wajahnya.

Lantas, apa penyebab tingkah laku tersebut? Body image insecurity.

Amelie kerap kali merasa beberapa bagian tubuhnya terlalu besar untuk ukuran—yang kata orang-orang—tubuh kurus. Bagi Amelie, lengan, paha, serta perutnya tampak besar, sementara dadanya terlalu kecil, tidak seperti gadis lain pada umumnya. Oleh karena itu, dia sangat anti untuk memandang diri dalam cermin, terutama cermin besar dalam lemarinya.

Penampilan Amelie yang tidak modis ataupun trendi juga membuat rasa percaya dirinya makin anjlok. Dia selalu jadi sasaran bully anak kelas, jika tidak ada anak lain yang bisa mereka bully. Mereka akan mengungkit-ungkit preferensi gaya berpakaian sekaligus melanggengkan body shaming.

Seolah tidak cukup, Amelie pun harus menghadapi pertengkaran orang tuanya yang makin hari makin berisik—membuat suasana rumah yang mulanya hangat kini menjadi dingin.

Pokoknya, gara-gara semua masalah ini, Elias (laki-laki yang ditaksirnya) pasti tidak mungkin tertarik pada Amelie. Benar, 'kan?

Lebih Dalam Mengenai Yang Kulihat di Cermin (Topless)

Ilustrasi Kurangnya Rasa Percaya Diri (Freepik)

Sebagai salah satu genre teen-fiction, Yang Kulihat di Cermin ternyata punya perkembangan plot yang, bisa dibilang, mengejutkan.

Mulanya, cerita dibawakan dengan suasana cukup tenang, meskipun terkadang menegangkan ketika tiba pada babak Amelie yang yang harus menyaksikan pertengkaran orang tuanya. Belum lagi tatkala dia berusaha menyatukan untuk kemudian diabaikan. Rasanya itu sangat menyakitkan sebab tidak ada anak yang berhak menjadi saksi mimpi buruk.

Selebihnya, pembawaan alur cerita pada beberapa halaman pertama tergolong datar-datar saja, cenderung membosankan untuk pembaca yang picky soal gaya bahasa dalam buku terjemahan. Namun, hal ini bisa dipahami karena penulis ingin membangun latar belakang tokoh dengan rapi dan runtut. Umumnya, cara ini dapat mendekatkan pembaca dengan tokoh sekaligus memahami permasalahan dan konflik yang mungkin akan terjadi.

Setelah pendekatan dengan para tokoh, konflik pun mulai dibangun. Topiknya masih berpusat pada body insecurity Amelie, hanya saja ditambahkan realitas yang sering kali dianggap sepele oleh orang-orang.

Insekuritas dan Keinginan untuk Diakui

Amelie selalu ditunjukkan sebagai seseorang yang kurang memiliki rasa percaya diri, apalagi jika itu menyangkut tubuh dan gaya berpakaiannya. Penokohan yang relatable ini membuat Amelie mudah terasa dekat dengan pembaca.

Pada saat tugas berkelompok, tidak ada yang mau bekerja sama dengan Amelie, kecuali Kira, itu pun karena hanya dia yang tersisa. Hal yang membuat Amelie senang menghabiskan waktu bersama gadis eksentrik itu adalah karena dia mengenal Elias, bahkan tidak sungkan mendekatkan Elias kepada Amelie. Berkat Kira, nomor Elias tersimpan untuk Amelie telepon (sebagai teman dan sumber referensi tugas kelompok, tentu saja).

Di samping itu, sebenarnya Amelie bukanlah tipe protagonis yang sepenuhnya baik hati bagaikan malaikat. Perkembangan usia dan lingkungan remaja yang tumbuh terlalu cepat (bukan secara harfiah) membuat dia menunjukkan ketidaksukaannya secara berani dan kurang sopan. Pertama, kepada orang tuanya yang terus bertengkar dan perang dingin sebagai respons ketidaknyamanan. Kedua, kepada Nicki, sahabat laki-lakinya sejak kecil.

Satu-dua kali, Amelie akan meninggikan intonasi, bahkan secara terang-terangan membentak. Puncaknya adalah ketika Kira menegur sikap Amelie yang kepalang ketus terhadap Nicki. Dari sini, Amelie mulai menjauhi Kira dan Nicki.

Akan tetapi, semua hal itu terjadi karena penyebab yang sama, yaitu insekuritas dan keingingan untuk diakui. Tidak eksplisit memang, tetapi tampak dari deskripsi gerak-gerik dan percakapan, utamanya ketika menyangkut soal bentuk tubuh, gaya berpakaian, dan Elias.

Minimnya perhatian dari orang tua serta teman-teman membuat Amelie dengan mudah percaya diri untuk memberikan foto tanpa pakaian (topless) kepada orang lain. Balasan yang didapat? Pujian dan janji. Pujian bahwa Amelie tidak seperti yang selalu dia keluhkan serta janji bahwa foto itu tidak akan disebarluaskan.

Nyatanya? Sangat jauh dari ekspektasi, harapan, ataupun kepercayaan.

Foto Amelie langsung tersebar keesokan harinya, jadi pembicaraan hangat di sekolah seolah itu sebatas candaan belaka antara remaja. Tentu saja Amelie tahu siapa pelakunya, tetapi dikonfrontasi pun masih saja menyangkal.

Ketika memutuskan untuk mengurung diri di kamar mandi sekolah dan menangis sepuasnya, Nicki dan Kira datang dengan dukungan yang luput Amelie tangkap sebagai kepedulian sebelumnya. Bagi orang lain mungkin biasa-biasa saja, tetapi Nicki dan Kira membantu Amelie untuk berani membela diri.

Sebagai kelompok yang aktif terpapar teknologi, remaja sangat rentan menjadi korban NCII (Non-Consensual Dissemination of Intimate Images) atau penyebarluasan gambar intim tanpa consent 'persetujuan'. Jutta Nymphius menunjukkan kritiknya dalam potret Amelie, tokoh utama remaja pada novelet Yang Kulihat di Cermin. Berawal dari insekuritas dan keinginan untuk diakui yang terpendam, ternyata bisa berkembang jadi kekerasan berbasis gender online (KBGO) jika dibiarkan tanpa pengawasan orang tua.

Selain sebagai refleksi diri, buku ini juga bisa menjadi sarana edukasi, baik untuk remaja maupun orang tua. Dengan gaya bercerita yang lugas dan to the point, pesan penulis pun tersampaikan dengan baik kepada pembaca. Remaja yang sedang mengalami masa peralihan dan pubertas sangat mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif, terlebih jika kesannya dapat memberikan "kesenangan" ataupun membuat mereka merasa "diakui". Di sinilah peran orang dewasa juga teman sebaya sangat penting untuk saling melindungi dan mengingatkan.

Kalau kamu sekadar mencari bacaan dengan jumlah halaman tidak terlalu banyak, Yang Kulihat di Cermin (Topless) ini layak banget dijadikan pilihan!