"Hidup telah mengajariku untuk menelan rasa marah, terhina, disepelekan, dimanfaatkan, ditipu, ditunggangi, diremukkan seluruh harga diri dan eksistensiku."
Kalimat pembuka ini seolah menjadi mantra yang merangkum seluruh fragmen dalam buku karya Puthut EA ini. Membaca karya yang dihiasi ilustrasi ala Misfits oleh Gindring Wasted ini meninggalkan rasa "mati rasa" yang ganjil. Bagaimana mungkin seseorang bisa hidup tanpa emosi sedikit pun? Tidak merasa pedih, sedih, apalagi amarah. Namun, itulah realitas dingin yang disuguhkan Puthut melalui tokoh utamanya.
Sinopsis: Lahir di Atas Becak, Tumbuh di Garis Kemiskinan
Tokoh utama novel ini dilahirkan di atas becak yang dikayuh ayahnya, seorang lelaki yang akhirnya tewas karena kelelahan dan kemarahan yang meluap. Masa kecil si tokoh adalah etalase kesuraman: ibu yang abai, kakak-kakak yang ringan tangan, serta kemiskinan ekstrem yang memaksanya mengonsumsi apa saja demi bertahan hidup, mulai dari singkong mentah hingga kadal. Baginya, tidak ada ruang untuk bahagia dan tidak ada gunanya meratapi nasib, karena air mata hanya akan mengundang pukulan kakaknya yang lebih keras.
Ia tumbuh menjadi sosok "penakut" yang kehilangan kompas prioritas. Mengalami pelecehan seksual saat remaja hingga perundungan di sekolah tidak lantas membuatnya melawan; ia memilih diam. Segala hasrat dendam hanya dipendam dalam benak karena ia terlalu pengecut untuk bertindak. Baginya, rasa sakit dipukul terasa sama datarnya dengan kenikmatan semangkuk bakso atau seteguk alkohol: semuanya hambar, tidak ada rasa.
Panggung Orang-Orang Brengsek
Alur cerita kemudian membawanya menjadi penggali kubur pada siang hari dan badut pada malam hari—sebuah ironi getir yang menjadi ciri khas Puthut EA. Melalui karakter Truwelu, ia bersinggungan dengan dunia yang lebih aneh: lingkaran intelektual bohemian, penyair narsistik, hingga mantan aktivis yang gemar bersolek dengan narasi palsu demi keuntungan dan kekuasaan.
Puthut dengan berani memotret bahwa "kebrengsekan" tidak memandang kasta atau latar belakang. Sebagaimana kutipan kuat dalam buku ini: "Orang buruk tidak harus lahir dari keluarga buruk... Sekarang yang menjadi kepala preman di terminal dekat rumahku adalah anak bidan dan bapaknya guru agama" (hlm. 42). Ia mengamati kemunafikan para aktivis seperti Karmali, Basur, dan Suwan; membayangkan cara menyiksa mereka dalam pikirannya, namun pada akhirnya tetap bergeming dan memilih menyesap teh botolnya dengan tenang.
Kritik tajam pun dilontarkan terhadap konsep negara dan sastra. Saat ditanya budayawan Mas Wirog tentang arti negara, jawabannya sangat menohok: "Negara itu mirip kondangan makan... Orang-orang yang datang belakangan tidak kebagian" (hlm. 88). Baginya, sastrawan pun hanyalah pengecut yang lihai melipat kata. Ia menolak menjadi apa pun. Ia memilih tidur bukan karena lelah, melainkan karena memang begitulah hidup seharusnya berjalan.
Label "21 tahun ke atas" pada buku ini sangatlah akurat. Puthut EA tidak sedang menyajikan problematika remaja yang dangkal, melainkan potret kebrengsekan nyata—mulai dari penelantaran anak hingga perisakan sistemik. Kisah ini ditulis tanpa nada amarah, namun justru sukses menyulut kemarahan pembacanya.
Jika banyak orang berkata hidup itu indah, buku ini dengan jujur menampar kita: hidup ini brengsek, dan kita menjadi bagian darinya karena kepengecutan kita sendiri. Hanya mereka yang pernah merasakan pahit getirnya kenyataan yang mampu menyelami kedalaman cerita ini. Sederhana, indah, namun benar-benar brengsek. Jika menyenangkan sebarkan, jika tidak, beri tahu!
Baca Juga
-
Jangan Disalahkan, Korban Baper Akibat "Pemberi Harapan Palsu" Adalah Korban Ketidakadilan Emosional
-
Menembus Batas, Menyapa Cengkeh: Petualangan KKN Paling Berkesan di Tanah Dengeng-Dengeng
-
Antara Pompa Air yang Haus dan Pangkalan Gas yang Bisu di Tengah Kemarau
-
Reuni Kemerdekaan di Warkop: Antara Secangkir Kopi dan Makna Merdeka
-
Dua Pria di Satu Atap: Mengurai Jarak dan Gengsi Antara Anak dan Ayah
Artikel Terkait
-
Minimarket yang Merepotkan, Kisah Dokgo dan Empati di Balik Rak Minimarket
-
Berdaya Sebagai Perempuan di Buku Girl Stop Apologizing
-
Ulasan Novel Heartbreak Motel: Potret Kelam Luka Batin Seorang Aktris
-
Review Buku 'Tahun Penuh Gulma': Suara Masyarakat Adat Melawan Rakusnya Korporasi
-
Siswa SD di NTT Bunuh Diri Karena Tak Mampu Beli Buku, DPR: Ini Alarm Keras, Negara Harus Hadir
Ulasan
-
Review Resident Evil: Hujan Fan Service yang Memanjakan Gamer Sekaligus Mengorbankan Ending
-
Relatable! Ini Alasan Novel Harga Teman Cocok Dibaca Pejuang Quarter-Life Crisis
-
Urang Bunian: Mengungkap Horor Folklore Hutan Belantara Sumatra Barat!
-
Mengupas Sisi Psikologis Film Iyus Jenius, Pentingnya Memberi Ruang Anak untuk Bersedih
-
Bukan Sekadar Buku Anak, Make Believe Mengkritik Cara Orang Dewasa Membaca
Terkini
-
Sinopsis Vibe, Film India yang Dibintangi Kunal Kemmu dan Preity Zinta
-
Bye Warna Kalem! Tren Cewek Buah Bikin Tampilan jadi Lebih Segar
-
Terjebak Clickbait dan Misinformasi: Ketika Kecepatan Membunuh Ketelitian Membaca
-
Dilema Perempuan Modern: Tuntutan Harus Mandiri dan Beban untuk Selalu Terlihat 'Proper'
-
4 Calming Sunscreen Korea Lawan Kemerahan dan Dehidrasi pada Kulit Sensitif