Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Buku Jangan Cemas (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Kecemasan sering kali menjadi “teman harian” banyak orang. Pikiran berlari ke mana-mana, membayangkan kemungkinan terburuk, membandingkan diri dengan orang lain, hingga kelelahan mental yang tak kunjung reda.

Buku Jangan Cemas: Kurangi, Relakan, Tinggalkan karya Shunmyo Masuno hadir sebagai pengingat sederhana namun penting: tidak semua hal perlu dipikirkan, apalagi dicemaskan.

Salah satu ajaran Zen yang menjadi fondasi buku ini adalah zengo (pepatah Zen): Jangan menipu diri sendiri. Dalam konteks Zen, ini berarti jangan hidup dalam khayalan.

Khayalan di sini bukan sekadar imajinasi kreatif, melainkan segala sesuatu yang melekat di pikiran dan menghalangi ketenangan hati. Keinginan egois, keterikatan yang sulit dilepas, iri pada orang lain, hingga kebiasaan meragukan diri sendiri. Semuanya termasuk bentuk khayalan yang diam-diam menguras energi batin.

Shunmyo Masuno bukan penulis sembarangan. Ia adalah kepala pendeta di sebuah kuil Buddha Zen di Jepang yang telah berdiri selama kurang lebih 450 tahun. Ia juga dikenal secara internasional lewat buku The Art of Simple. Latar belakang ini membuat buku Jangan Cemas sarat dengan filosofi Zen, namun disampaikan dengan bahasa yang membumi dan mudah dipahami, bahkan oleh pembaca yang bukan penganut Buddha.

Buku ini terasa sangat relevan bagi siapa pun yang sering overthinking dan mengkhawatirkan hal-hal di luar kendali, hidup dalam bayang-bayang penilaian orang lain, atau terus-menerus bertanya, “Nanti bagaimana?”.

Mulai dari kecemasan sepele seperti takut dinilai karena pilihan pakaian, hingga kegelisahan yang lebih dalam soal relasi, karier, dan masa depan. Semua itu, jika dibiarkan, perlahan membuat hidup terasa berat.

Menariknya, Masuno tidak menawarkan solusi rumit. Buku ini berisi 48 pelajaran sederhana yang berfokus pada tiga prinsip utama: mengurangi, merelakan, dan meninggalkan. Mengurangi keinginan yang tidak perlu, merelakan hal-hal yang tak bisa dikendalikan, serta meninggalkan kebiasaan dan pola pikir yang memicu kecemasan.

Salah satu pesan kuat dalam buku ini adalah anjuran untuk berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Menurut Masuno, sebagian besar obsesi dan kegelisahan lahir dari perbandingan yang tidak sehat.

Ketika kita fokus pada hidup orang lain, kita kehilangan kemampuan untuk hadir sepenuhnya dalam hidup sendiri. Zen mengajarkan untuk kembali ke “di sini dan saat ini”, karena hanya di situlah ketenangan bisa ditemukan.

Buku ini juga mengingatkan bahaya membanjiri diri dengan terlalu banyak informasi. Terlalu sering “kepo” terhadap media sosial, berita viral, atau kehidupan orang lain hanya akan menurunkan kadar ketenangan batin. Dalam perspektif Zen, menyederhanakan hidup bukan berarti menghindari dunia, melainkan memilih dengan sadar apa yang layak mendapat perhatian kita.

Selain itu, Masuno menekankan pentingnya melakukan yang terbaik di mana pun kita berada, lalu melepaskannya tanpa penyesalan. Bekerja dengan sepenuh hati, namun tetap memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dan menikmati hobi. Aktivitas sederhana seperti membaca, menulis, atau menonton di malam hari dipandang sebagai ritual kecil untuk menenangkan pikiran.

Pada akhirnya, Jangan Cemas: Kurangi, Relakan, Tinggalkan bukan sekadar buku pengelola kecemasan, melainkan ajakan untuk hidup lebih jujur pada diri sendiri. Ia mengingatkan bahwa ketenangan bukan datang dari mengendalikan segalanya, melainkan dari keberanian untuk melepaskan. Dalam dunia yang terus menuntut lebih, buku ini justru mengajarkan seni untuk merasa cukup.

Identitas Buku

  • Judul: Jangan Cemas (Kurangi, Relakan, Tinggalkan) 
  • Penulis: Shunmyo Masuno
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: 2022 
  • ISBN: 978-602-06-6150-6
  • Tebal: 238 halaman
  • Kategori: Self-Improvement, Psikologi