Bimo Aria Fundrika | Zahrin Nur Azizah
Ilustrasi perempuan dan laki-laki berkolaborasi dalam satu tim (Pexels/RDNE Stock project)
Zahrin Nur Azizah

Isu kesetaraan gender hampir selalu muncul setiap tahun. Topik ini seperti tidak pernah benar-benar selesai dibahas. Dari lingkup kecil hingga besar, dari obrolan santai di media sosial sampai forum formal bersama para ahli di konferensi, kesetaraan gender terus menjadi bahan diskusi.

Namun yang terasa janggal, setelah begitu banyak pembahasan dilakukan, isu ini masih saja diangkat dan diperdebatkan seolah-olah esensinya belum dipahami dengan baik.

Di sinilah masalah mulai terlihat. Banyak diskusi tentang kesetaraan gender justru berujung pada salah kaprah, bahkan perdebatan emosional. Padahal, sebelum melangkah lebih jauh, ada satu pertanyaan mendasar yang seharusnya dijawab terlebih dahulu: sebenarnya apa itu kesetaraan gender?

Apa Itu Kesetaraan Gender?

Kesetaraan gender bukan tentang menyamakan laki-laki dan perempuan secara biologis atau dari jenis kelaminnya. Bukan pula upaya menghapus perbedaan kodrati yang memang sudah ada. Fokus utama dari kesetaraan gender adalah memberikan kesempatan, akses, dan perlakuan yang setara serta adil antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial.

Kesetaraan ini mencakup banyak bidang, seperti pendidikan, kesehatan, pekerjaan, hingga mobilitas sosial. Artinya, seseorang tidak seharusnya dibatasi pilihannya hanya karena ia terlahir sebagai perempuan atau laki-laki.

Dalam konteks ini, perempuan memiliki hak yang sama untuk mengenyam pendidikan tinggi, bekerja sesuai dengan kemampuan dan minatnya, serta menentukan jalan hidupnya sendiri.

Namun faktanya, anggapan lama masih sering muncul. Perempuan kerap dianggap “seharusnya” mengurus urusan rumah tangga, sementara laki-laki diposisikan sebagai satu-satunya pencari nafkah.

Padahal, kesetaraan gender justru ingin memastikan setiap orang punya ruang untuk berkembang, tanpa dibatasi oleh label sosial yang sering kali tidak relevan.

Kesetaraan Gender yang Sering Disalahartikan

Masalah mulai muncul ketika konsep kesetaraan gender dipahami secara keliru. Di media sosial, misalnya, sering muncul pertanyaan seperti, “Kalau ada kesetaraan gender, berarti cowok boleh dong mukul cewek?” Pertanyaan semacam ini sekilas terdengar seperti candaan, tetapi sebenarnya menunjukkan kegagalan memahami inti persoalan.

Sejak awal, tidak ada satu pun konsep kesetaraan gender yang membenarkan kekerasan fisik. Kekerasan, dalam bentuk apa pun, sudah salah dari awal, baik dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan.

Saat diskusi kesetaraan gender langsung diarahkan ke isu kekerasan, di situlah terlihat bahwa topik ini sering dipahami lewat emosi, bukan lewat pemahaman yang mendalam.

Kesalahan pemikiran ini bisa muncul karena kurangnya literasi sosial. Isu yang bersifat struktural dan kompleks sering kali disederhanakan secara keliru.

Tidak jarang pula pemahaman ini diwariskan dari lingkungan keluarga atau sosial tanpa pernah dikritisi ulang. Akibatnya, diskusi melebar ke mana-mana, memicu rasa tersinggung, dan menjauh dari tujuan awal.

Kesetaraan Gender dan Pentingnya Pengendalian Diri

Pada titik ini, penting untuk meluruskan bias yang terlanjur terbentuk. Perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki hak dasar sebagai manusia. Hak untuk memilih jalan hidup, menentukan masa depan, dan menjalani kehidupan sesuai dengan nilai yang diyakini masing-masing individu.

Perempuan boleh bersekolah tinggi dan bekerja tanpa harus takut dicap negatif oleh masyarakat. Di sisi lain, laki-laki juga berhak mengurus urusan domestik tanpa takut dicemooh sebagai “kurang jantan”. Kesetaraan gender bukan tentang menukar peran secara paksa, melainkan tentang memberikan kebebasan memilih tanpa stigma.

Harapannya, perempuan dan laki-laki dapat bekerja di bidang yang sama, saling berkolaborasi, dan dinilai berdasarkan kemampuan, bukan jenis kelamin. Di sinilah pendidikan memegang peranan penting. Ruang kelas menjadi tempat krusial untuk membentuk cara berpikir yang adil dan rasional sejak dini.

Candaan seperti “boleh nabok perempuan dong?” sama sekali tidak bisa dibenarkan. Kekerasan tetaplah kekerasan, terlepas dari siapa pelakunya. Korban juga tidak seharusnya disalahkan atau bahkan ditindas dengan dalih “diam saja dan tidak melawan”. Kesetaraan justru menuntut tanggung jawab dan pengendalian diri yang lebih besar, bukan pembenaran atas perilaku agresif.

Kegagalan Memahami yang Terus Berulang

Masalah utama bukan terletak pada konsep kesetaraan gender itu sendiri, melainkan pada kegagalan memahami intinya. Sudah saatnya diskusi tentang isu ini dilakukan dengan kepala dingin dan tujuan yang jelas. Bukan sekadar berkutat pada contoh-contoh anarkis, tetapi benar-benar membahas esensi yang selama ini sering disalahpahami.

Memang tidak dapat dipungkiri, diskusi tentang kesetaraan gender akan selalu memicu beragam reaksi. Namun inti dari semua itu sederhana: perempuan, sama seperti laki-laki, berhak atas ruang aman dan kesempatan yang adil dalam kehidupan sosial. Jika inti ini terus diabaikan, kesalahpahaman tentang kesetaraan gender akan terus berulang dari waktu ke waktu.