Banyak perempuan tumbuh dengan satu kebiasaan yang nyaris tak disadari. Yaitu terlalu sering merasa bersalah. Merasa bersalah karena terlalu ambisius, merasa bersalah karena punya mimpi, merasa bersalah karena memilih diri sendiri, bahkan merasa bersalah hanya karena mengambil ruang.
Inilah realitas yang disorot tajam oleh Rachel Hollis dalam bukunya Girl, Stop Apologizing, sebuah karya pengembangan diri yang menjadi “wake up call” bagi perempuan modern yang hidup di bawah bayang-bayang ekspektasi sosial.
Rachel Hollis memulai dengan satu premis yang terasa tidak nyaman, namun jujur. Banyak perempuan sebenarnya takut pada dirinya sendiri. Takut pada potensi yang ia miliki, takut pada keinginan yang muncul dari dalam, dan takut pada kemungkinan gagal jika ia benar-benar mencoba. Ketakutan inilah yang membuat perempuan merasa perlu terus meminta izin dan merasa bersalah hanya untuk menjadi dirinya sendiri.
Padahal, jika ditarik ke belakang, tidak ada bayi perempuan yang lahir dengan rasa bersalah. Sejak awal, kita hadir di dunia sebagai diri yang utuh: ada yang lantang, ada yang pendiam, ada yang mandiri, ada yang butuh pelukan. Kebutuhan kita sederhana, fokus kita jelas, dan kita tidak mempertanyakan apakah keberadaan kita pantas atau tidak. Namun seiring waktu, kita mulai belajar tentang ekspektasi tentang apa yang “boleh” dan “tidak boleh” dilakukan perempuan.
Kita diajari untuk menyesuaikan diri, menyenangkan orang lain, dan menekan keinginan pribadi demi diterima. Di titik inilah banyak mimpi mulai diperkecil, ditunda, atau bahkan dimatikan diam-diam. Bukan karena perempuan tidak mampu, tetapi karena takut dicap egois, serakah, terlalu ambisius, atau tidak tahu diri.
Dalam Girl, Stop Apologizing, Rachel Hollis menamai dengan jelas hambatan-hambatan ini. Ia menyebut ketakutan akan kegagalan, ketakutan akan penilaian orang lain, dan rasa bersalah saat memilih diri sendiri sebagai jebakan mental yang paling umum dialami perempuan.
Jika dibiarkan, ketakutan ini akan berubah menjadi suara batin yang melemahkan. Bagaimana kalau aku gagal? Bagaimana kalau mereka menertawakanku? Bagaimana kalau aku mengecewakan orang-orang yang kucintai?
Buku ini kemudian disusun dalam tiga pilar utama.
- Pertama, Excuses to Let Go Of : alasan-alasan yang harus dilepaskan. Rachel mengajak pembaca untuk jujur pada diri sendiri tentang dalih-dalih yang selama ini dipakai untuk berhenti melangkah.
- Kedua, Behaviors to Adopt: perilaku baru yang perlu dibangun, seperti disiplin, keberanian mengambil keputusan, dan komitmen pada tujuan pribadi.
- Ketiga, Skills to Acquire: keterampilan nyata yang dibutuhkan agar mimpi tidak berhenti sebagai angan, melainkan menjadi rencana yang bisa dijalankan.
Yang membuat buku ini relevan adalah pendekatannya yang membumi. Rachel tidak berbicara dari menara gading. Ia menulis sebagai perempuan yang pernah jatuh, gagal, bangkit, dan belajar membangun hidupnya kembali. Ia menekankan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari perubahan cara berpikir. Saat pikiran berubah, tindakan ikut berubah, dan hasil pun menyusul.
Pada akhirnya, Girl, Stop Apologizing bukan sekadar ajakan untuk bermimpi besar, melainkan undangan untuk hidup dengan kesadaran penuh. Untuk menjadi perempuan yang bangga pada dirinya sendiri, yang tidak mengubah jati diri demi validasi, yang terus belajar, murah hati, berani tertawa, dan berani gagal. Perempuan yang tidak lagi meminta izin untuk menjadi dirinya sendiri.
Karena hidup terlalu berharga untuk dihabiskan dengan terus meminta maaf atas keberadaan kita.
Identitas Buku
- Judul: Girl, Stop Apologizing (A Shame-Free Plan for Embracing and Achieving Your Goals)
- Penulis: Rachel Hollis
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Tanggal Terbit: 21 Mei 2023
- Tebal: 340 Halaman
- ISBN: 9786-020-670-29-4
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Kritik Pemerintah Tak Berarti Ngebet Ganti Presiden: Salah Kaprah Demokrasi
-
Runtuhnya Kejayaan Maritim Nusantara di Novel Arus Balik
-
Kisah Tanah Jawa: Mengungkap Mitos dan Sejarah Kelam di Balik Pulau Jawa
-
Meterai Rp10 Ribu: Saat Transaksi Warga Sekalipun Tak Luput dari Pajak
-
Mari Jaga Hutan Papua, Swasembada Energi atau Kedok Ekspansi Korporasi?
Artikel Terkait
-
Di Forum Abu Dhabi, Megawati Paparkan Model Rekonsiliasi Damai Indonesia dan Kepemimpinan Perempuan
-
Hangatnya Ikatan Ayah dan Anak dalam Novel One Big Family
-
Narasi Perihal Ayah, Menyusuri Duka Kehilangan dari Sudut Pandang Anak
-
Kisah Epi, ASN Tuna Netra Kemensos yang Setia Ajarkan Alquran
-
Review Buku 'Tahun Penuh Gulma': Suara Masyarakat Adat Melawan Rakusnya Korporasi
Ulasan
-
Ulasan Exhuma: Tentang Dosa Masa Lalu yang Tak Bisa Dikubur Sedalam Apa Pun
-
Ulasan Cerpen Senyum Karyamin: Ironi Kemiskinan dan Kritik Ahmad Tohari
-
Review Dive into You: Komedi Romantis dengan Premis Pertukaran Jiwa
-
Review Novel Resign, Ketika Angkat Kaki dari Kantor Jadi Bahan Taruhan
-
Runtuhnya Kejayaan Maritim Nusantara di Novel Arus Balik
Terkini
-
Otaku Vampire's Love Bite Karya Kreator Kamisama Kiss Dapat Adaptasi Anime
-
4 Sleeping Moisturizer Atasi Kulit yang Kering dan Kemerahan Hanya Semalam
-
Kritik Pemerintah Tak Berarti Ngebet Ganti Presiden: Salah Kaprah Demokrasi
-
Sinopsis Misty Green, Garapan Chris Rock Tayang 9 November di Netflix
-
Trend Renting Generation: Gaya Hidup Serba Nyewa, Solusi atau Jebakan?