Judul Anggara Kasih diambil dari penanggalan Jawa yang merujuk pada hari Selasa Kliwon (Senin Wage malam Selasa Kliwon), sebuah weton yang secara kultural dipercaya memiliki aura mistis kuat, setara dengan Jumat Kliwon.
Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, seseorang yang lahir di hari tersebut kerap dianggap “istimewa”, memiliki keterhubungan spiritual dengan dunia tak kasatmata. Dari sinilah Tian Topandi membangun fondasi cerita horor-thriller yang sarat mitologi lokal, pesugihan, dan praktik sihir hitam.
Sinopsis Novel
Tokoh utama novel ini adalah Aruna, seorang perempuan karier yang hidupnya berada di puncak, ia diangkat menjadi branch manager di perusahaannya. Namun, kehidupan Aruna perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Satu per satu rekan kerjanya menghilang, termasuk Pak Arifin, branch manager sebelumnya. Situasi semakin pelik ketika bukti-bukti justru mengarah pada Aruna sebagai tersangka. Ia dituding terlibat, meski dirinya bersikeras bahwa ia adalah korban penculikan dan rangkaian peristiwa aneh yang tidak bisa dijelaskan secara logis.
Di sisi lain, hadir Jemmi, seorang polisi yang menangani kasus ini. Aruna bukan orang asing baginya, ia adalah teman masa kecil sekaligus cinta pertamanya. Jemmi mulai mencium kejanggalan, terutama ketika makam Pak Arifin dibongkar dan tengkoraknya dicuri oleh sosok misterius.
Penyelidikan Jemmi perlahan mengarah pada satu kesimpulan: semua kematian dan tragedi di sekitar Aruna berkaitan dengan ritual pesugihan Anggara Kasih. Ritual yang menggunakan “nyawa weton istimewa” sebagai tumbal untuk kekayaan dan kekuasaan.
Yang membuat Aruna semakin menjadi target adalah latar kelahirannya. Ia bukan hanya lahir di Selasa Kliwon, tetapi juga di malam 1 Sura. Kombinasi yang dalam kepercayaan mistis Jawa dianggap memiliki energi spiritual yang sangat kuat.
Posisi ini menjadikannya sasaran empuk para pelaku ilmu hitam dan pemuja kekuatan gelap. Tubuh dan jiwanya bukan lagi miliknya sendiri, melainkan komoditas spiritual bagi manusia-manusia yang rela menjual nurani demi kekayaan.
Secara tematik, Anggara Kasih menawarkan eksplorasi gelap tentang nafsu manusia: ambisi, keserakahan, dan keputusasaan. Horor dalam novel ini tidak hanya datang dari makhluk gaib, tetapi dari sisi gelap manusia itu sendiri.
Tian Topandi menampilkan manusia sebagai makhluk dengan dua wajah, baik dan buruk. Seperti konsep yin dan yang. Pesugihan bukan sekadar ritual mistis, melainkan simbol dari mentalitas instan: keinginan mendapatkan segalanya tanpa proses, tanpa kerja, tanpa etika.
Kelebihan dan Kekurangan Novel
Dari sisi atmosfer, novel ini memadukan unsur horor, misteri, dan thriller. Meski nuansa horornya tidak selalu mengandalkan ketakutan visual atau jumpscare naratif, unsur misterinya terasa kuat. Ketegangan dibangun lewat hilangnya tokoh, pencurian mayat, ritual gelap, dan investigasi yang membawa pembaca pada dunia pesugihan yang mencekam.
Latar budaya Indonesia terasa kental, baik melalui dialog, mitos lokal, maupun sistem kepercayaan masyarakat yang masih hidup hingga kini. Termasuk kepercayaan soal weton dan larangan membocorkan hari kelahiran kepada orang asing.
Namun, novel ini juga memiliki sejumlah catatan kritis. Alur cerita bergerak sangat cepat, bahkan di beberapa bagian terasa terburu-buru, sehingga atmosfer mistis tidak selalu terbangun secara maksimal. Karakterisasi beberapa tokoh terasa kurang mendalam, membuat emosi mereka tidak sepenuhnya sampai ke pembaca.
Perubahan sikap dan keputusan tokoh tertentu juga terkesan instan, tanpa proses psikologis yang kuat. Akibatnya, cerita lebih terasa sebagai rangkaian peristiwa daripada perjalanan emosional karakter.
Meski demikian, sebagai novel horor-thriller pertama Tian Topandi ini tetap menawarkan premis yang berani dan relevan. Penggabungan weton, pesugihan, dan thriller modern menjadikannya bacaan yang menarik, terutama bagi pencinta horor lokal yang berbasis budaya Nusantara.
Anggara Kasih bukan hanya cerita tentang sihir hitam, tetapi tentang manusia yang kehilangan harapan dan memilih bersekutu dengan kegelapan demi mencapai keinginan. Ia berbicara tentang bagaimana ketenangan alam, seperti hamparan kebun teh yang hijau, bisa menyimpan kekerasan yang lahir dari nafsu manusia.
Sebuah novel yang mengingatkan bahwa horor paling nyata sering kali bukan berasal dari dunia gaib, melainkan dari manusia itu sendiri.
Identitas Buku
- Judul: Anggara Kasih
- Penulis: Tian Topandi
- Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP)
- Tahun Terbit: 2023
- Tebal: 288 halaman
- ISBN: 9786230416149
- Genre: Misteri, Horor, Thriller, Romansa
Baca Juga
-
Kebrutalan Era Dinasti Joseon 1506 di Novel A Crane Among Wolves
-
Review Novel Kami (Bukan) Fakir Asmara: Tutorial Jadi Badut Hubungan yang Tetap Elegan
-
Digeber 80 Ribu Cabang, tapi Sepi Pembeli: Ironi Koperasi Merah Putih?
-
Alur Serius, Tokoh Misterius: Kontradiktif di Novel Melangkah J.S. Khairen
-
Hemat Pangkal Kaya? Masihkah Relevan di Era Ini atau Perlu Dievaluasi
Artikel Terkait
Ulasan
-
Kisah Jessica dan Yusuf yang Awkward di Film Taaruf Enak Kali Ya?
-
Review Serial Rooster: Komedi Hangat Steve Carell di Kampus Liberal Arts
-
Kebrutalan Era Dinasti Joseon 1506 di Novel A Crane Among Wolves
-
Review Dear X: Senyum Manis Seorang Aktris dengan Sisi Gelap Mematikan
-
Review Novel Kami (Bukan) Fakir Asmara: Tutorial Jadi Badut Hubungan yang Tetap Elegan
Terkini
-
Gaun Pengantin di Sidang Cerai: Makna Mengejutkan di Balik Pilihan Wardatina Mawa
-
WA di Pergelangan Tangan: Apakah Fitur Baru Garmin Ini Akan Mengubah Cara Kita Berkomunikasi?
-
Bye-Bye Kemerahan! 4 Moisturizer Gel Allantoin di Bawah 50 Ribu untuk Kulit Berminyak
-
Resmi Diperkenalkan! Inilah Sosok Maple, Zavu, dan Clutch yang Akan Meriahkan Piala Dunia 2026
-
Harga Emas Turun Lagi, Harus Panik atau Santai Saja?