Hayuning Ratri Hapsari | Ruslan Abdul Munir
Novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam karya Dian Purnomo (Dok. Pribadi/Ruslan Abdul Munir)
Ruslan Abdul Munir

Novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam karya Dian Purnomo merupakan sebuah karya sastra yang berakar pada realitas sosial yang pedih di Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Novel ini merupakan produk dari hasil riset penulis pada tahun 2019. Dian Purnomo menghabiskan waktu selama enam minggu untuk melakukan riset lapangan yang intensif mengenai praktik tradisi "Kawin Tangkap" atau Yappa Mawine.

Di samping sebagai narasi fiksi bertema feminisme, novel ini juga merupakan sebuah kritik terhadap ketidakadilan gender dan hegemoni budaya patriarki yang masih eksis dalam masyarakat modern saat ini.

Tokoh utama dalam novel ini bernama Magi Diela, seorang perempuan berpendidikan tinggi lulusan sarjana pertanian dari Universitas di Yogyakarta yang bekerja sebagai tenaga honorer di Dinas Pertanian Waikabubak.

Impian Magi untuk membangun dan mengabdi pada tanah kelahirannya hancur seketika ketika ia diculik oleh sekelompok pria ke atas mobil pikap, sebuah praktik kawin tangkap yang telah melenceng dari makna filosofis asalnya menjadi tindakan kriminal penculikan dan pemerkosaan.

Dian Purnomo secara eksplisit menggambarkan kekerasan yang dialami Magi, mulai dari dijambak, ditampar, dicekik, hingga diperkosa berulang kali oleh pelaku, yaitu Leba Ali.

Melalui narasi ini, penulis membongkar bagaimana tradisi sering kali digunakan sebagai tameng bagi laki-laki untuk memuaskan hasrat birahi dan menunjukkan kekuasaan.

Lebih jauh lagi, novel ini memperlihatkan bahwa musuh terbesar terkadang datang dari orang terdekat kita, baik sodara bahkan bisa jadi keluarga.

Dalam novel ini pengkhianatan dilakukan oleh struktur terdekat korban yaitu ayah kandung Magi sendiri yang setuju dengan penculikan tersebut demi uang belis (mas kawin), serta aparat kepolisian yang bersikap abai dan bahkan menerima suap dari pelaku.

Terdapat beberapa topik inti yang dibahas dalam novel ini. Pertama, tentang konflik pribadi antara Magi Diela dengan ayahnya (Ama Bobo) dan pelaku (Leba Ali). Dampak yang dirasakan tokoh utama adalah trauma mendalam dan perasaan terasing dari keluarga sendiri.

Kedua, konflik budaya yang menyinggung ketegangan antara nilai modernitas/HAM dengan tradisi kawin tangkap (Yappa Mawine). Dalam hal ini terdapat sebuah kenyataan besar tentang hilangnya kemerdekaan individu dalam hal ini perempuan atas nama pelestarian adat.

Ketiga, konflik politik tentang penyuapan aparat kepolisian oleh keluarga Leba Ali untuk menghentikan kasus, hal ini cerminan dari kegagalan sistem hukum formal dalam memberikan perlindungan bagi perempuan.

Salah satu kekuatan novel ini adalah penggambaran metamorfosis karakter Magi Diela. Awalnya, Magi melawan dengan emosi mentah yang penuh amarah, namun seiring berjalannya cerita, ia mulai menggunakan logika dan strategi hukum untuk mendapatkan kembali hak-haknya.

Dian Purnomo juga menghadirkan tokoh-tokoh pendukung yang sangat membantu dalam novel ini, seperti Dangu Toda, yaitu sahabat setia Magi yang rela mempertaruhkan nyawanya, serta orang-orang di komunitas rumah aman (Gema Perempuan) yang memberikan perlindungan bagi korban kekerasan seksual.

Dari sisi penulisan, Dian Purnomo menggunakan gaya bahasa yang lugas, cepat, dan penuh energi perlawanan. Penggunaan logat khas orang Timur dalam dialog-dialognya menambah kekuatan dan keaslian cerita.

Meskipun mungkin bagi beberapa pembaca akan merasa struktur bahasanya agak rumit, namun intensitas emosional yang dibangun penulis mampu menutupi keterbatasan tersebut.

Penulis juga secara cerdik melibatkan dirinya dalam narasi di pertengahan bab, memberikan kesan bahwa apa yang dibaca adalah berdasarkan kisah nyata, bukan sekadar fiksi belaka.

Jika kamu tertarik dengan karya sastra yang menyinggung isu-isu feminisme, patriarki, isu sosial kebudayaan, maka novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam ini wajib ada dalam daftar bacaanmu.