Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Sumur (Unsplash/@palibrix)
Oktavia Ningrum

Aku pulang les seperti biasa tapi hari ini agak telat setengah jam karena aku kebablasan makan bakso sama main petak umpet duluan.

Halo namaku Via. Aku kelas 4 di SD Saptorenggo VI.

Aku memang ambil kelas les malam karena sorenya mengaji di Pesantren Roudlotussy Syifa. Biasanya jam 9 aku sudah pulang. Tapi hari ini PR nya banyak sekali bikin aku merutuki kejamnya tugas anak kelas 4. Susah sekali ternyata menjadi dewasa. 

Semua normal. Tapi entah kenapa hari itu hatiku gelisah. Terasa ada yang janggal. 

Aku lahir Selasa Kliwon. Kalau orang Jawa bilang aku punya getih manis. Bukan diabetes. Tapi “manis” yang lain. Yang katanya bikin gampang “diliat” dan “didatengin”. Sejak kecil aku sering ngelihat hal-hal yang orang lain nggak lihat. Tapi aku udah terbiasa. Jadi aku nggak pernah takut.

Biasanya.

Tapi malam itu ada yang berbeda.

Kampungku sepi.

Sepi banget.

Padahal masih jam setengah sepuluh. Biasanya banyak bapak-bapak nongkrong di pos ronda, ibu-ibu duduk di teras, anak-anak kecil masih main sepeda. Tapi malam itu… kosong. Rumah-rumah tertutup. Lampu redup. Jalan sunyi.

Semua temanku sudah pulang. Rumahku paling ujung, berbatasan langsung sama desa sebelah. Terpisah perkebunan tebu 1 hektare sudah masuk desa sebelah. Rata-rata teman les ku rumahnya di dekat perempatan jalan. Satu dusun, tapi beda RW. Jadi aku jalan sendiri.

Aku dikenal pemberani. Jangankan pulang sendiri. Jalan gelap kulalui, pekarangan angker kulewati, bahkan pemakaman umum pun sangat biasa. 

Tapi entah kenapa, langkah kakiku ragu-ragu.

Di pertigaan terakhir menuju rumah, ada satu bangunan tua. Rumah kosong peninggalan Belanda. Temboknya tinggi. Catnya mengelupas. Halamannya penuh ilalang. Dan di sampingnya ada sumur mati.

Sumur itu sudah lama ditutup papan kayu. Katanya dulu ada orang bunuh diri di situ. Katanya.

Aku selalu ngelewatin tempat itu tanpa mikir apa-apa.

Sampai malam itu.

Dari gang rumah kosong itu, aku melihat seorang perempuan keluar.

Aku langsung lega.

Akhirnya ada orang.

Tapi…

Cara jalannya aneh.

Pelan.

Kepalanya sedikit miring.

Langkahnya nggak seimbang.

Seperti… orang yang baru belajar jalan.

Atau…

Orang yang tulangnya nggak lurus.

Deg.

Aku ngerasa dingin di tengkuk.

Tapi yang aneh…

Kakiku justru melangkah mendekat.

Bukan menjauh.

Aku pengen berhenti.

Tapi badanku jalan sendiri.

Perempuan itu makin cepat.

Aku juga makin cepat.

Dia belok dikit, masuk ke area rumah kosong.

Aku ikut.

Tanah di situ lembab. Bau lumut. Bau tanah basah. Bau tua.

Cara jalannya makin patah-patah.

Tangannya panjang.

Lehernya miring.

Kepalanya mulai bergetar kecil.

Kayak nggak bisa nahan posisi.

Sedikit lagi.

Sedikit lagi.

Dan tiba-tiba—

WUSHHH…

Dia hilang.

Udara di sekitarku langsung dingin.

Sunyi.

Aku berdiri sendirian.

Di depan sumur mati.

Jantungku berdebar kencang. Kakiku lemas. Aku mau lari. Tapi tubuhku kaku.

Lalu aku dengar suara.

Cek… cek… cek…

Kayak kuku nyentuh kayu.

Dari papan penutup sumur.

Pelan.

Teratur.

Cek… cek… cek…

Tanah di sekitarnya bergerak sedikit. Papan kayunya bergetar halus. Dan dari dalam sumur… Ada suara nafas.

Bukan nafas manusia.

Berat.

Dalam.

Panjang.

Kayak orang bernafas dari dalam air.

Aku nangis tanpa suara. Air mataku jatuh. Aku mau teriak. Tapi tenggorokanku terkunci.

Lalu…

Pelan-pelan…

Dari celah papan kayu sumur itu… Keluar rambut.

Hitam.

Basah.

Lengket.

Rambut itu merayap. Kayak akar. Ngikutin celah-celah kayu. Terus muncul tangan.

Putih. Panjang.

Jarinya banyak bekas luka. Kukunya hitam.

Retak.

Tangan itu mencengkeram papan.

Perlahan ujung kepalanya terlihat menyembul. Pelan. Seperti gerakan film yang diperlambat dengan sengaja. 

Dan aku lihat wajahnya.

Wajah perempuan itu. Matanya hitam. Tanpa putih mata. Mulutnya sobek sampai ke pipi.

Lehernya miring.

Patah.

Persis cara jalannya tadi.

Dia senyum.

Senyum yang nggak mungkin bisa disebut manusia.

“Via…” Panggilnya membuat mataku mau loncat keluar. Dia tahu namaku! 

Suaranya kayak dari dalam air.

Dalam.

Berat.

“Ayo ikut aku…”

Aku langsung lari. Anehnya aku gak bisa teriak meski mau. Napasku sudah naik turun. Tapi ujung jalan itu belum kelihatan. Aku sudah menangis dalam hati. Tapi langkahku berhenti karena melihat perempuan itu sudah ada di ujung pertigaan. Dengan tampilan yang sama. 

Gaun merah kehitaman. 

Rambut panjang. 

Dan kukunya yang tadi sempat menyentuh kulitku. 

Aku jatuh terduduk.

Nafasku habis.

Dadaku sesak.

Mataku gelap.

Andai aku mati hari itu semoga aku masuk surga. 

Begitulah doa yang kuingat terakhir kali kupanjatkan saat itu. 

Tapi syukurlah

Aku bangun. Di kamar. Lampu menyala. Ibuku duduk di samping. Mukaku basah air mata.

Katanya aku pingsan di depan rumah.

Ditemukan tetangga. Sendirian.

Baju kotor lumpur. Tangan dingin.

Sejak malam itu… Aku nggak pernah lagi lewat pertigaan sumur mati. Dan setiap malam Rabu Kliwon… Aku selalu mimpi perempuan itu. Berdiri di ujung gang.

Leher miring.

Rambut basah.

Sambil nunggu.

Dan selalu bilang, 

Ayo, Via…”

“Antarin aku pulang…”