Rinjani namanya. Seorang anak perempuan pertama di keluarga yang sederhana, namun memiliki kisah hidup yang merana. Ia tumbuh dalam keluarga yang utuh, tetapi rapuh. Rumah kecil yang ia harapkan sebagai tempat pulang ternyaman, nyatanya membawa luka yang mendalam.
"Kukuruyuk... kukuruyuk," suara ayam berkokok menandakan sang surya telah menampakkan sinarnya di ufuk timur. Rinjani bergegas sembahyang, lalu bersiap diri untuk berangkat sekolah.
"Brak! Prang!" suara gelas jatuh terdengar ketika ia sedang memakai seragam putih biru.
"Pasti Ayah dan Ibu bertengkar lagi," batinnya dengan dada berdegup kencang. Dugaan Rinjani benar.
"Pergi dari sini dan bawa anak-anakmu!" lontaran nada tinggi ayahnya kepada ibunya sampai ke sudut kamar Rinjani.
"Duar!" Ayahnya membanting pintu sambil keluar rumah. Napas Rinjani berat, kakinya gemetar hebat ketika mendengar adu mulut yang kencang antara orang tuanya.
Ibunya menangis tersedu dan tersungkur di kamar tidur. Rinjani mengetuk pintu kamar ibunya, "Apakah Ibu baik-baik saja?" tanya Rinjani. Ibunya masih terdiam, lalu beranjak dari tempat tidur untuk mengantar Rinjani dan adiknya, Caldera.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, Rinjani dan adiknya saling lirik, memberi kode siapa yang akan meminta uang saku kepada ibunya.
"Ibu, Caldera minta uang saku hari ini," pinta Caldera pada ibunya yang hendak putar balik.
"Kalian tadi mendengar ayahmu memarahi Ibu tidak?!" Rinjani dan adiknya kaget dan terdiam. "Jelas Ibu tidak ada uang! Kenapa kalian tidak minta sendiri ke ayahmu?" omelan ibunya sambil memacu gas motor.
Rinjani dan adiknya berjalan memasuki ruang kelas dengan muka murung. Apalagi Rinjani harus mengerjakan soal Ujian Nasional dengan perut keroncongan sehingga pikirannya tidak fokus.
"Waktu yang tersisa tinggal lima menit lagi. Anak-anak, silakan periksa kembali jawabanmu," ucap guru pengawas ruangan. Kedua mata Rinjani yang sempat terpejam langsung terbuka. Ia bergegas membuka ulang kertas soal ujian.
"Duh, aku kurang mengerjakan sepuluh soal," gumam Rinjani pelan sambil membolak-balik kertas soal. Karena terburu-buru, soal dijawab asal-asalan.
Hari ketiga Rinjani mengikuti ujian, ia disapa Dea, sahabatnya.
"Rinjani, kemarin bagaimana kamu mengerjakan soal Matematika?"
"Kacau, De. Rumus yang aku hafal seketika buyar. Sepertinya nilai Matematikaku paling jeblok," sahut Rinjani dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak usah dipikirkan, Rin. Kita harus yakin pasti nilai kita bagus," ujar Dea menghibur.
Teng... teng... teng... Bel ujian dimulai berbunyi. Rinjani duduk di kursi menanti pengawas membagikan soal. Ia tak lupa memanjatkan doa. "Ini hari terakhir ujian, semoga nilai IPA-ku bagus biar bisa masuk SMA 1 Skena yang diharapkan Ibu," doa Rinjani dalam hati.
Di bawah terik matahari, Rinjani berjalan menyusuri tepian jalan. Keringat bercucuran mengalir dari tepi kerudungnya. Ia berharap ibunya segera menjemput.
"Rinjani, ayo segera naik," sepeda motor berhenti di depannya. Ternyata ibunya. "Bagaimana soal ujiannya, mudah atau susah, Rin?" tanya ibunya.
"Rinjani bisa mengerjakan soal-soal ujian, Bu," jawab Rinjani terbata-bata. Ada sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan; ia takut membuat ibunya sedih karena tidak maksimal mengerjakan soal Matematika.
Motor melaju melewati SMA 1 Skena. "Rin, Ibu mau kamu masuk SMA 1 Skena. Karena dekat rumah, Ibu tidak kejauhan mengantarmu," ujar ibunya.
"Iya, Bu. Rinjani juga ingin diterima di sana," ucap Rinjani pelan.
"Kalau tidak bisa masuk situ, pilihan terakhir di SMA 1 Kalcer, tapi jauh," ibunya menunjuk ke arah utara. "Kalau bisa jangan di SMA 1 Kalcer, Rin. Sekolah itu terkenal nakal. Ibu takut kamu terpengaruh."
Suara tenggoret (tonggeret) mulai nyaring di tiap sudut rumah, tanda senja tiba. Rinjani beranjak untuk mengambil air wudu. Di sana sudah ada ibunya yang sedang berzikir. Keluarga Rinjani memang kurang harmonis. Sejak kecil ia terbiasa melihat orang tuanya uring-uringan. Ayahnya jarang mengajak salat berjemaah sehingga Rinjani dan adiknya terbiasa salat sendiri.
"Kapan pengumuman hasil ujian, Rin?" tanya ibunya.
"Sekitar seminggu lagi, Bu."
"Ibu hanya bisa bantu doa. Kamu kencangkan lagi doanya, jangan lupa salat tahajud, ya," sambung ibunya.
Tepat satu minggu kemudian, Rinjani menerima hasil ujian di aula sekolah. "Waduh, nilaiku mepet sekali untuk masuk SMA 1 Skena," batinnya murung.
Sesampainya di rumah, ia memberikan hasil itu kepada ibunya. "Nilai segini masih bisa daftar di SMA 1 Skena, Rin," ucap ibunya. Tak lama, ayahnya datang dan langsung membaca hasil tersebut.
"Nilaimu mepet sekali! Apa bisa diterima? Bodoh banget sih! Kalau tidak bisa masuk negeri, tidak usah sekolah. Swasta itu mahal!" bentak ayahnya sambil melempar kertas itu ke meja.
Rinjani akhirnya terlempar dari persaingan di SMA 1 Skena pada hari terakhir pendaftaran. Ia pun diterima di pilihan kedua, SMA 1 Kalcer. Ibunya terlihat sangat kesal saat mengantarnya daftar ulang.
"Siapkan pulpennya, isi formulir ini!" gumam ibunya ketus.
"Maaf, Bu. Rinjani lupa membawa pulpen," ucap Rinjani ketakutan.
"Kamu niat sekolah tidak?! Ayo pulang saja, tidak usah daftar ulang!" bentak ibunya sambil menuju parkiran. Rinjani menangis, pikirannya campur aduk.
Meski awalnya ditolak secara emosional oleh orang tuanya, Rinjani tetap bersekolah di SMA 1 Kalcer. Di sana, ia justru berprestasi. Ia mewakili sekolah dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) Geografi hingga tingkat provinsi.
Waktu berlalu cepat, Rinjani kini kelas 12. Ia membulatkan tekad untuk kuliah.
"Ibu, Rinjani mau kuliah," izinnya.
"Anak sepertimu apa bisa masuk kuliah? Uang dari mana?!" sahut ayahnya meremehkan.
"Bisa, Bu. Ada beasiswa, gratis," jawab Rinjani.
Rinjani tidak pernah lelah salat tahajud. Ia mendaftar jurusan Geografi melalui jalur SNMPTN dan dinyatakan LULUS. Rinjani resmi menjadi mahasiswa. Ia aktif dalam lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional dan berbagai organisasi hingga namanya tercatat sebagai mahasiswa berprestasi.
Memasuki semester ketujuh, Rinjani fokus mengerjakan skripsi. Ia bekerja sampingan sebagai guru les privat untuk uang saku karena ayahnya tidak memberi dukungan finansial. Akhirnya, ia lulus tepat waktu dan diwisuda.
Rinjani mencoba melamar menjadi guru di SMA 1 Skena—sekolah impian ibunya dulu. Setelah melalui tes micro teaching dan wawancara, ia dinyatakan diterima.
Hari pertama mengajar, Rinjani berdiri di depan kelas dengan mata berkaca-kaca. "Selamat pagi, Anak-anak semuanya."
"Selamat pagi juga, Bu Rinjani!" sapa balik murid-muridnya. Hati Rinjani terpukau. Tidak terbayang sebelas tahun lalu ia adalah anak yang diremehkan, kini ia berdiri sebagai guru kebanggaan.
Dari Rinjani kita belajar bahwa tekad yang kuat bisa mengubah nasib, meski jalan yang dilalui penuh hinaan dari orang terdekat.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Darah yang Mengucur dari Pelipis Jejadian Pemilik Mandevilla Ungu
-
Bye Kusam! 4 Cleanser Glycolic Acid Angkat Sel Kulit Mati untuk Kulit Cerah
-
4 Pelembap Lokal Madecassoside Atasi Redness dan Dehidrasi Kulit Sensitif
-
Ulasan Novel Muslihat Berlian: Perburuan Masa Depan yang Keseleo!
-
Digelar di Tokyo, Crunchyroll Anime Awards Edisi ke-10 Hadirkan 32 Kategori