Lintang Siltya Utami | Taufiq Hidayat
Orang-Orang Oetimu karya Felix K. (Dok.Pribadi/Taufiq)
Taufiq Hidayat

Saya harus mengakui bahwa gaya penulisan Felix K. Nesi dalam Orang-Orang Oetimu sangat halus dan berkelas, sebanding dengan karya penulis dunia. Setiap karakter dalam novel ini memiliki peran yang krusial; tidak ada yang sia-sia. Hasilnya adalah lapisan-lapisan cerita yang harus dikupas satu per satu, layaknya menikmati kulit pisang yang lezat sebelum sampai ke intinya.

Karakter-karakternya memiliki daya tarik yang membuat saya terus ingin membalik halaman, bahkan sering kali saya harus kembali ke halaman sebelumnya karena takut melewatkan detail penting akibat rasa penasaran yang meluap.

Sinopsis: Oetimu dalam Pusaran Waktu

Cerita bermula pada malam final Piala Dunia 1998 di Oetimu. Tokoh utama kita, Kapten Ipi, mengundang para pria di desanya untuk menonton sepak bola bersama di kantornya, termasuk menjemput Martin Kabiti, seorang pengusaha kayu yang sangat ia hormati.

Dari sana, kita diperkenalkan pada jajaran karakter tragis nan unik: Laura, Maria, Sylvi, hingga Am Siki yang dipercaya bisa mengalahkan satu tim Jepang karena dendam masa lalu. Ada pula Romo Yosef, pendeta muda yang berhasil membangun sekolah ternama di Timor meski menyimpan sisi lain yang provokatif, serta Linus, sang guru "penurut" yang mendapat kesempatan mencicipi cinta dari wanita tercantik di Oetimu. Nesi tidak hanya memotret budaya Timor, tetapi juga melayangkan kritik tajam terhadap tentara, negara, gereja, hingga masyarakatnya sendiri.

Sejarah yang Kental: Di Luar Narasi Jawa-Sentris

Melalui riset kecil-kecilan, saya menemukan bahwa tokoh-tokoh politik yang disebut Nesi memang benar adanya. Ia menghidupkan kembali situasi pelik pasca-dekolonisasi Portugal, di mana rakyat Timor Timur harus memilih nasib mereka sendiri.

Satu hal yang menyentuh adalah bagaimana Nesi menggambarkan asumsi masyarakat Timor terhadap sosok Soeharto yang dianggap sebagai "Raja Jawa" pembawa malatapa. Obrolan mereka mungkin terdengar naif, namun sangat menarik untuk dipikirkan kembali. Sebagai pembaca yang menyukai sejarah kelam Indonesia, buku ini memberikan perspektif baru yang tidak Java-centric. Alangkah baiknya jika lebih banyak novel seperti ini agar sejarah kita terelaborasi lebih dalam, melampaui apa yang tersaji di buku pelajaran IPS cetakan pemerintah.

Sisi Liar: Gairah yang Mengguncang

Novel ini ditujukan untuk pembaca usia 19 tahun ke atas karena keberaniannya menggambarkan adegan intim. Nesi melukiskan pengalaman seksual dengan gairah yang indah, namun ia juga menyisipkan satu bab yang luar biasa ngeri. Jika diadaptasi menjadi film, kengeriannya mungkin sebanding dengan film Beranak dalam Kubur.

Adegan tersebut lahir dari cinta yang mendalam namun mustahil, menciptakan campuran rasa kasihan sekaligus mual. Meskipun fantasi seksual tersebar di banyak bab, fungsinya lebih sebagai penyeimbang sisi "nakal" pembaca di antara ketegangan dramatis yang diciptakan Nesi.

Sajian Sastra yang Utuh

Secara keseluruhan, Orang-Orang Oetimu adalah paket lengkap: ada cinta, konflik, budaya, politik, seks, hingga sejarah. Meskipun hanya setebal 220 halaman, isinya sangat padat dan memantik perenungan mendalam.

Bagi Anda penyuka sejarah yang berani berpikir kritis, novel ini adalah bacaan wajib yang akan membuat Anda berkali-kali "mengelus dada". Karena seperti kata Nesi: “Yang harga mati itu kemanusiaan!

Identitas Buku:

  • Judul Buku: Orang-orang Oetimu
  • Penulis: Felix K. Nesi
  • Penerbit: Marjin Kiri
  • Cetakan: Pertama, Juli 2019
  • ISBN: 978–979–1260–89–3