Cinta sering kali disebut sebagai bahasa universal, namun di Desa Centong, cinta harus tunduk pada sekat-sekat ideologi dan perbedaan rakaat salat. Dalam novel Kambing dan Hujan, Mahfud Ikhwan mengajak kita menyelami drama "Romeo dan Juliet" versi lokal yang terjebak di antara dua kutub besar Islam di Indonesia: Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Melalui kisah Miftahul Abrar dan Nurul Fauzia, kita akan melihat bagaimana cinta harus bertarung melawan warisan prasangka dan "detak sejarah" yang belum usai.
Jembatan Putus antara Utara dan Selatan
Kisah ini bermula dari pertemuan sederhana antara Mif dan Fauzia yang kemudian berkembang menjadi jalinan asmara yang rumit. Mif adalah representasi pemuda dari Kampung Utara yang kental dengan tradisi Islam pembaru (modernis), sementara Fauzia lahir dari rahim Kampung Selatan yang memegang teguh tradisi nahdliyin (tradisional). Perbedaan ini bukan sekadar soal teori, melainkan mewujud dalam ketegangan ritual harian, perbedaan penentuan hari raya, hingga pandangan mengenai tradisi lokal seperti sesajen dan tayuban.
Di balik hubungan mereka, tersimpan rahasia besar mengenai persahabatan masa lalu antara kedua ayah mereka, Iskandar (Is) dan Fauzan (Moek/Mat). Keduanya adalah sahabat karib di Sekolah Rakyat pada dekade 1960-an yang kemudian terpisah oleh pilihan jalan hidup dan ideologi. Melalui surat-surat tua dan memori yang terkubur, Mif dan Fauzia perlahan menyadari bahwa pertikaian yang mereka hadapi saat ini adalah warisan dari trauma sejarah, termasuk memori kelam tentang Gestapu (G30S/PKI), yang pernah membelah masyarakat mereka.
Melampaui Sekat Fikih dan Prasangka
Mahfud Ikhwan sangat piawai dalam memotret realitas sosiologis pedesaan. Penulis tidak hanya menyajikan konflik fikih yang kering, tetapi membungkusnya dalam analisis psikologi karakter yang mendalam. Kita bisa merasakan kegelisahan Mif yang merasa iri pada pasangan lain yang bisa menikah tanpa beban "beda masjid" atau "beda paham agama". Melalui novel ini, kita diajak berefleksi: mengapa perbedaan kecil dalam cara beribadah sering kali menjadi tembok raksasa yang memisahkan kemanusiaan?
Salah satu kekuatan utama novel ini adalah keberhasilannya menjembatani isu berat seperti konflik ideologi dengan narasi yang humanis. Dialog-dialog dalam buku ini, seperti kutipan "Tak ada biografi tanpa sebuah roman," menegaskan bahwa sejarah besar bangsa ini sebenarnya dibangun dari kepingan-kepingan kisah personal. Mahfud juga dengan berani menyentil bagaimana umat Islam sering kali terjebak dalam perpecahan yang hanya menguntungkan pihak luar, sementara esensi ajaran cinta kasih justru terabaikan.
Kelebihan
Secara teknis, novel ini adalah ladang subur bagi kajian sosiologi, sejarah, hingga psikologi. Penggambaran Desa Centong dengan segala ritualnya, mulai dari keriuhan pasar hingga sunyinya Gumuk Genjik, terasa sangat nyata dan hidup. Meskipun novel ini adalah sebuah roman, Mahfud tetap memberikan pesan yang membumi: bahwa cinta yang hebat tidak harus membabi buta ala tokoh-tokoh melankolis dalam roman klasik, melainkan cinta yang berani memperjuangkan cita-cita di tengah perbedaan yang ada.
Pada akhirnya, Kambing dan Hujan adalah sebuah perayaan atas perbedaan. Novel ini mengingatkan kita bahwa Tuhan memang menciptakan makhluk-Nya berbeda-beda, dan tidak ada yang salah dengan hal itu. Kesalahan muncul ketika kita membiarkan perbedaan tersebut melenyapkan rasa persaudaraan. Melalui narasi yang memukau dan riset sejarah yang kuat, Mahfud Ikhwan telah menyumbangkan sebuah mahakarya bagi sastra Indonesia yang layak dibaca oleh siapa saja yang masih percaya bahwa cinta mampu meruntuhkan tembok prasangka. Jika menyenangkan, sebarkan; jika tidak, beri tahu!
Identitas Buku:
- Judul: Kambing dan Hujan: Sebuah Roman
- Penulis: Mahfud Ikhwan
- Penerbit: Bentang Pustaka
- Tahun Terbit: 2015 (Edisi 1), 2018 (Edisi 2)
- ISBN: 9786022914709 (Edisi 2)
- Jumlah Halaman: 388 Halaman (Edisi Kedua, Cetakan April 2018)
- Ukuran: 13 x 20,5 cm
- Genre: Fiksi, Novel, Sastra
Baca Juga
-
Membaca Ulang Merahnya Merah: Saat Kehilangan Menjadi Awal Pencarian Makna
-
Membaca Lelaki Tua dan Laut: Tentang Kekuatan Mental dan Seni Bertahan
-
Nyi Sadikem: Menguak Rahasia Tradisi Gowok dan Keteguhan Perempuan Jawa
-
Ulasan Buku Toko Tukar Tambah Nasib: Saat Rumput Tetangga Tak Sehijau Kelihatannya
-
Saat Keluarga Menjadi Medan Perang: Ulasan Nyaliku Kecil Seperti Tikus
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku Toko Tukar Tambah Nasib: Saat Rumput Tetangga Tak Sehijau Kelihatannya
-
Review Novel Perkumpulan Anak Luar Nikah: Rahasia Gelap Sejarah Tionghoa Indonesia
-
Bedah Buku Stolen Focus: Rahasia di Balik Algoritma yang Membuat Kita Kecanduan
-
Hidup Ini Brengsek dan Aku Dipaksa Menikmatinya: Potret Mati Rasa Puthut EA
-
Review Buku 'Tahun Penuh Gulma': Suara Masyarakat Adat Melawan Rakusnya Korporasi
Ulasan
-
Review Panor 2: Film Ilmu Hitam Thailand dengan Adegan Gore yang Intens
-
Makna Lagu Multo dari Cup of Joe: Kisah Kenangan yang Menghantui
-
Membaca Ulang Merahnya Merah: Saat Kehilangan Menjadi Awal Pencarian Makna
-
Review Novel Cerita Hati Maharani: Menelusuri Luka dan Kedewasaan
-
Novel Etnik Menik: Mimpi dan Realitas Sosial yang Diam-diam Menyentil
Terkini
-
Heboh! Pemain Diaspora ke Liga Indonesia Demi AFF Cup? PSSI Buka Suara
-
4 Rekomendasi Day Cream Vitamin C untuk Kulit Cerah Seharian, Bye Kusam!
-
Luka-luka yang Tidak Mudah Diobati
-
Fenomena Cut Off Orang Tua: Self-Love atau Batasan yang Terlambat Dibuat?
-
4 Ide Styling Outerwear ala Yeosang ATEEZ untuk OOTD Simpel tapi Kece!