M. Reza Sulaiman | Angelia Cipta RN
Ilustrasi Siren dan Lautan (Gemini AI)
Angelia Cipta RN

Lautan memang selalu menyimpan beragam misteri, mulai dari ombak yang tinggi hingga sosok makhluk yang tidak banyak diketahui manusia. Namun, ada sebuah tebing tinggi di dekat sebuah pulau kecil yang tidak pernah dijamah banyak orang.

Tidak ada peta yang berani menandai tebing itu karena ada hal mistis yang tidak pernah terpecahkan.

Para pelaut Yunani kuno hanya menyebutnya dengan bisikan Skolió Petra, yang berarti tebing bengkok, tempat laut tidak memantulkan cahaya dan angin membawa suara yang seharusnya tidak ada. Di sanalah kapal-kapal hilang tanpa pecahan, tanpa mayat, seolah-olah laut menelan mereka dengan rapi.

Malam itu, kapal dagang Erythros melintas terlalu dekat.

Hari itu langit cerah. Bintang berkilau. Laut tampak jinak. Terlalu jinak bagi Kapten Lykaon, pria tua yang telah mengarungi laut selama empat puluh lima tahun. Tangannya gemetar di kemudi. Ia mengenali ketenangan semacam ini, ketenangan sebelum kematian.

Bahkan, ia juga merasa ada yang tidak beres dengan lautan malam itu.

"Jangan mendekat," gumamnya, "tutup telinga kalian."

Namun, sebelum perintah itu sepenuhnya terucap dan terdengar sebagian awak kapal, tiba-tiba nyanyian mistis itu muncul.

Bukan suara keras. Bukan jeritan. Ia datang dengan lembut, seperti bisikan seorang ibu kepada anaknya yang ketakutan. Melodi panjang dan lambat, mengalun di antara desiran ombak. Kata-katanya tidak sepenuhnya bisa dipahami, tetapi setiap nada menusuk langsung ke dada, menggenggam kenangan paling rapuh dalam diri pendengarnya.

Seorang pelaut muda bernama Theros berhenti mendayung. Matanya berkaca-kaca.

"Itu... itu suara adikku," katanya lirih, "dia memanggilku."

Satu per satu, para awak melepaskan tali penutup telinga yang dibuat dari lilin. Mereka tersenyum. Ada yang menangis. Ada yang tertawa kecil seperti anak-anak yang menemukan jalan pulang.

Lykaon berteriak. Ia menutup telinganya sendiri, tetapi sudah terlambat.

Dari balik kabut tipis, mereka muncul.

Makhluk-makhluk itu berdiri di atas tebing berbatu yang tajam seperti gigi raksasa. Batu-batu hitam menjulang dari laut seperti rahang terbuka yang siap menelan siapa pun. Ombak memecah di bawah mereka, memuntahkan buih putih yang berbau besi dan kematian.

Tubuh mereka adalah mimpi buruk yang indah.

Wajah perempuan dengan kulit pucat keabu-abuan, seperti mayat yang terlalu lama direndam laut. Mata hitam mengilat tanpa bagian putih, memantulkan cahaya bulan dengan dingin, tanpa emosi. Bibir merah mereka terlalu sempurna, tetapi merah yang bukan warna kehidupan, melainkan warna sesuatu yang baru saja diisap kering.

Namun, yang paling mengerikan, mereka bukan manusia. Bukan pula makhluk dari daratan mana pun yang pernah dikenal. Mereka adalah sesuatu yang lebih tua dari pelayaran, lebih tua dari doa-doa pelaut.

Dari pinggang ke bawah, tubuh mereka berubah menjadi ekor bak ikan, panjang dan menjuntai, bersisik gelap seperti bayangan laut dalam. Sisik itu bergerak pelan, seolah-olah bernapas sendiri, dan di sela-selanya tumbuh duri-duri halus yang tajam.

Salah satu dari mereka melangkah maju. Rambutnya panjang, basah oleh air laut, menempel di bahu dan punggungnya. Wajahnya terlalu manusiawi, terlalu lembut, dan terlalu akrab. Ia tersenyum kepada para pelaut di kapal yang mulai kehilangan arah, seperti kekasih lama yang telah menunggu kedatangannya.

"Datanglah," katanya tanpa membuka mulut.

Suara itu tidak terdengar di udara. Ia muncul langsung di dalam kepala.

"Kami akan mengingatmu," bisiknya lembut, "laut akan melupakanmu."

Kapal berderit. Kemudi berputar dengan sendirinya, seolah-olah tangan tidak terlihat menariknya ke arah karang. Para awak berteriak, tetapi suara mereka tenggelam oleh nyanyian yang kini semakin keras, melodi yang merayap ke tulang, menggerogoti ingatan dan kehendak.

Theros melepaskan diri dari pegangan tali dan berdiri di haluan. Matanya kosong, mulutnya tersenyum kecil. Ia melangkah maju tepat saat kapal menghantam karang.

Kayu pecah. Tubuhnya terlempar ke laut.

Namun, Theros tidak menjerit. Ia tersenyum saat tenggelam, seolah-olah akhirnya ia bisa pulang.

Para Siren bernyanyi lebih keras.

Sisik ekor mereka terbuka perlahan, bukan seperti kulit makhluk hidup, melainkan seperti lapisan daging tua yang terkelupas. Sisik-sisik itu terlepas satu per satu dan beterbangan di udara, berkilau pucat sebelum jatuh seperti abu pembakaran mayat ke laut di bawahnya. Setiap sisik yang gugur meninggalkan guratan basah, seolah-olah tubuh mereka selalu berada di ambang pembusukan.

Salah satu Siren melangkah ke tepi tebing.

Tubuh bagian atasnya tetap menyerupai perempuan, bahunya ramping, dadanya pucat, dan leher jenjangnya terlalu indah untuk dimiliki makhluk laut. Namun, di balik keindahan itu, urat-urat hitam samar terlihat di bawah kulitnya, berdenyut mengikuti irama nyanyian yang tidak terdengar oleh telinga manusia.

Ia melompat.

Tubuhnya meluncur anggun di udara, rambut panjangnya berkibar seperti jaring hitam yang siap menjerat. Saat ia jatuh, ekornya menyatu dengan bunyi basah yang menjijikkan, tulang-tulangnya berderak sebelum memanjang dan berubah menjadi satu ekor besar bersisik kehijauan. Sisik baru tumbuh dengan cepat, muncul dari daging seperti duri yang dipaksa keluar.

Sirip tajam menjulur di sepanjang punggungnya, tipis tetapi bergerigi, menyerupai bilah-bilah pisau yang dilapisi lendir laut. Setiap gerakannya menciptakan riak air yang dingin dan sunyi, seolah-olah laut sendiri menahan napas.

Lykaon merangkak di atas geladak kapal yang retak, napasnya naik turun, telinganya berdengung hebat. Dari celah papan yang patah, ia melihat bayangan itu bergerak di bawah air.

Siren tersebut membuka mulutnya.

Giginya bukan gigi manusia. Barisan taring tipis seperti jarum, berlapis-lapis, berkilau pucat. Saat ia menggigit korban yang masih hidup, tidak ada darah yang menyebar ke laut.

Darah itu disedot dan ditelan.

Tubuh korban mengempis perlahan, seolah-olah dikosongkan dari dalam. Mata mereka membelalak bukan karena rasa sakit, melainkan karena kenangan yang direnggut: rumah, wajah ibu, dan mimpi yang belum tercapai.

Siren hidup dari ingatan, dari keinginan terakhir, dan dari harapan yang gagal menjadi kenyataan.

Lykaon berteriak, tetapi suaranya tenggelam oleh nyanyian. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat belati kecil di pinggangnya. Tanpa ragu, ia menusukkannya ke telinga sendiri.

Rasa sakit meledak.

Dunia menjadi sunyi.

Ia jatuh ke laut dengan darah mengalir di lehernya, berenang membabi buta menjauh dari cahaya dan bayangan. Ia memejamkan mata, membiarkan arus menyeretnya, membiarkan laut memilih nasibnya.

Saat pagi tiba, laut kembali tenang.

Tidak ada kapal. Tidak ada mayat. Tidak ada tanda-tanda pembantaian. Hanya serpihan kayu yang mengapung dan bau asin yang menyimpan rahasia.

Di tebing, para Siren duduk diam. Wajah mereka kosong, mata hitam menatap laut tanpa berkedip. Salah satu dari mereka memandang cakrawala, mendengarkan sesuatu yang tidak terdengar manusia.

"Masih ada yang selamat," bisiknya.

Siren tertua mengangguk perlahan. Kulitnya retak seperti karang tua, senyumnya memperlihatkan taring-taring kusam.

"Tidak apa-apa," katanya lirih, "ia akan menceritakan kisah ini."

Ia menoleh ke laut, matanya berkilat lapar.

"Dan cerita adalah umpan terbaik bagi mereka yang penasaran."

Malam berikutnya, angin kembali membawa nyanyian itu lebih lembut, lebih memikat, dan lebih sabar. Menunggu kapal berikutnya yang akan menjadi mangsa.