Lintang Siltya Utami | Tisna Ady Tanamal
Bulan Bolong (Dok Pribadi/Tisna Ady Tanamal)
Tisna Ady Tanamal

Jika ditanya tentang buku mana yang paling berkesan ketika saya masih SD, maka Bulan Bolong karya Lukman Hakim akan selalu berada di urutan teratas. Itu adalah sebuah buku fiksi anak-anak yang pertama kali diterbitkan pada 1995 silam (buku yang saya punya adalah cetakan kedua tahun 1997) oleh penerbit Katulistiwa.

Buku ini berukuran A5 dengan ketebalan hanya 43 halaman. Selain kisahnya yang menarik, buku ini dilengkapi dengan ilustrasi yang manis karya Budi Indra Cahaya. Semua itu disempurnakan dengan desain sampul yang selaras dengan dominasi warna biru, memperlihatkan ilustrasi si tokoh utama di bagian depan serta serangkai kata motivasional di bagian belakang; “Saya suka membaca. Orang tuaku senang jika aku rajin belajar.”

Buku ini bercerita tentang Mamat (11 tahun), seorang anak gelandangan yang hidup di antara hiruk pikuk Ibu Kota Jakarta. Mamat yang tinggal di rumah liliput (sebutan untuk rumah-rumah kardus yang biasa dibangun secara seadanya di kolong-kolong, tersembunyi dari pandangan petugas penertiban) mengalami kisah-kisah menarik sebelum akhirnya semesta menuntunnya untuk mentas dari jalanan dan menjalani hidup dengan lebih baik.

Di bagian pertama, kita diceritakan tentang interaksi awal antara Mamat dengan kawannya, Sapto (11 tahun), seorang anak dari keluarga berada yang tinggal di kawasan elit tidak jauh dari situ. Hal paling berkesan adalah momen ketika Mamat dan Sapto menikmati singkong bakar sambil saling bertukar cerita: Sapto tentang orang tuanya yang memiliki banyak pabrik sehingga baru pulang ketika hari sudah malam, dan Mamat tentang asal-usulnya yang bahkan bagi dirinya sendiri pun masih samar.

Pada bagian dua, Mamat, di suatu siang yang terik, tanpa sadar berjalan tepat di depan rumah Sapto. Kepada sahabatnya itu ia mengatakan tidak bisa mampir karena sedang sakit kepala. Ia pun pulang dengan terlebih dahulu dibekali roti, sari buah kaleng, dan obat oleh Sapto. Namun Mamat tidak pernah punya kesempatan untuk menikmatinya.

Pada bagian tiga, Mamat terjaring oleh petugas penertiban. Kemudian pada bagian empat, ia dan warga jalanan yang lain digiring menuju tempat penampungan, didata untuk kemudian ditransmigrasikan. Namun keberuntungan masih belum berpihak. Mamat menjadi saksi tunggal pada kasus pencurian di tempat itu. Dan begitulah seterusnya. Semesta menuntun Mamat untuk bertemu dengan berbagai orang dan mengalami berbagai peristiwa; mulai dari disangka hantu, berkawan dengan pengemis buta bernama Bang Somad, hingga mencurahkan isi hatinya kepada seorang guru di pasar bernama Bu Imas.

Pada bagian terakhir, yaitu bagian enam, diceritakan bahwa Mamat tanpa sengaja kembali bertemu dengan Sapto (di dekat lokasi tempat dulu rumah liliputnya pernah berada). Pada bagian inilah kita menemukan jawaban mengapa judul buku ini adalah Bulan Bolong.

Kali pertama saya berjumpa dengan buku ini adalah ketika saya masih duduk di bangku SD kelas empat. Saya masih ingat peristiwa itu: pada jam istirahat, seorang teman merekomendasikan buku ini. “Mau baca ini? Bagus banget. Aku yakin kamu juga bakal suka!” Maka saya pun membacanya dan langsung jatuh hati. Mungkin lebih tepat jika saya katakan bahwa buku inilah yang menumbuhkan minat baca saya terhadap fiksi, hingga hari ini.

Jika ditanya tentang apa yang saya sukai dari buku ini, saya pikir semua elemennya adalah apa yang saya suka. Jalan cerita yang menarik, seni ilustrasi yang mendukung, serta yang paling saya gemari, penggunaan gaya bercerita yang sangat relevan untuk dinikmati oleh pembaca seusia saya pada masa itu. Penulis menggunakan sudut pandang orang pertama dengan gaya bahasa yang ringan, membuat saya yang masih duduk di bangku SD saat itu merasa bahwa Mamat adalah diri saya sendiri. Bahkan hingga hari ini pun, ketika saya meninjaunya ulang untuk menulis ulasan ini, ia masih sama menariknya.

Saya pikir buku berjudul Bulan Bolong karya Lukman Hakim ini adalah jenis bacaan yang cocok jika Anda bermaksud untuk merangsang minat baca putra-putri Anda di rumah. Tidak perlu meminta mereka membacanya, cukup selipkan di rak buku pada meja belajar, dan biarkan kombinasi antara waktu dan semesta menuntun mereka untuk menemukan serta membacanya. Dalam skenario semacam itu, buku bacaan yang paling sederhana sekalipun akan menimbulkan kesan tersendiri.

Namun sangat disayangkan bahwa, sebagaimana tertulis pada label di kanan atas sampul depan yang berbunyi: MILIK NEGARA. TIDAK DIPERDAGANGKAN. INPRES NO. 6 TAHUN 1984 (1997/1998), buku ini memang tidak diperjualbelikan secara bebas. Itu berarti Anda tidak akan mendapatkannya dengan cara biasa. Ambil saja buku yang saya punya sebagai contoh. Saya mencari keberadaan buku ini (karena yang dulu saya baca waktu SD adalah milik perpustakaan sekolah) sejak pertama kali mengenal internet pada tahun 2006. Secara berkala, saya mengetik judul dan nama penulisnya di kolom pencarian Google, setidaknya setahun sekali. Dan barulah pada 2019, saya menemukan keberadaannya di marketplace. Stoknya hanya satu dan harganya cuma Rp 14.000. Saya menerimanya dalam kondisi yang masih luar biasa mulus, seperti baru.

Nah, itulah ulasan saya tentang buku ini. Kepada sang penulis maupun ahli warisnya, saya sampaikan terima kasih yang tak terhingga karena telah mengupayakan agar buku bacaan ini pernah ada. Semoga ulasan ini bermanfaat bagi siapa pun yang menyimaknya.

Salam membaca!

Identitas Buku 

Judul: Bulan Bolong
Penulis: Lukman Hakim
Penerbit:  Khatulistiwa
Tahun Terbit: 1995
Tebal: 43 halaman
ISBN: 979-8803-07-8
Kategori: Fiksi Anak