Dalam lanskap fiksi sejarah Amerika, narasi mengenai awal tahun 1900-an (era Gilded Age atau Edwardian) sering kali didominasi oleh keluarga-keluarga kulit putih kaya raya seperti keluarga Vanderbilt atau Astor. Namun, Krystal Marquis dalam novel debutnya, "The Davenports", melakukan sesuatu yang revolusioner. Ia menyoroti keberadaan elit kulit hitam yang nyata namun sering terlupakan oleh sejarah populer.
Terinspirasi oleh kisah nyata keluarga Patterson yang membangun kejayaan lewat bisnis kereta kuda dan otomotif, Marquis menyuguhkan sebuah drama romansa dan keluarga yang megah, ambisius, dan penuh pesona.
Novel ini membawa kita ke Chicago di tahun 1910. Keluarga Davenport hidup dalam kemewahan yang tak terbayangkan oleh banyak orang. Sang kepala keluarga, William Davenport, adalah mantan budak yang berhasil membangun kekaisaran bisnisnya sendiri. Mereka tinggal di rumah megah dengan pelayan, menghadiri pesta-pesta dansa eksklusif, dan mengenakan pakaian sutra terbaik.
Namun, di balik kemewahan tersebut, ada ketegangan yang nyata. Sebagai keluarga kulit hitam terkaya di wilayah itu, setiap langkah mereka diawasi. Ada tekanan konstan untuk menjadi "sempurna" demi menjaga martabat ras dan kelas mereka di tengah masyarakat yang masih sangat rasialis.
Olivia Davenport adalah putri tertua dari keluarga Davenport, perempuan cantik dan diharapkan menikah dengan pria yang setara demi aliansi bisnis keluarga mereka. Namun, ia justru menemukan dirinya tertarik pada dunia pergerakan hak-hak sipil, sebuah pilihan yang berisiko mengancam stabilitas keluarganya.
Sedangkan Helen Davenport, sang adik yang lebih tertarik pada mesin dan otomotif daripada gaun pesta. Ia mewakili perjuangan perempuan untuk masuk ke ranah profesional yang didominasi pria, sekaligus menghadapi dilema cinta terlarang.
Dalam keluarga ini juga ada Amy-Rose, pelayan setia keluarga Davenport yang ambisius. Ia bermimpi membuka bisnis kecantikan sendiri. Kisahnya adalah potret tentang mobilitas vertikal dan bagaimana kelas sosial menjadi penghalang bahkan di antara sesama warga kulit hitam.
Ruby Tremaine, sahabat Olivia yang keluarganya sedang mengalami kemunduran finansial. Ia harus memilih antara mengejar cinta sejati atau menikah demi menyelamatkan posisi sosial keluarganya.
Meskipun novel ini sering dibanding-bandingkan dengan Bridgerton versi kulit hitam, "The Davenports" memiliki kedalaman isu yang lebih serius. Marquis tidak hanya menulis tentang pesta dansa, tetapi juga tentang bagaimana ras memengaruhi akses terhadap modal, bagaimana segregasi tetap ada bahkan di Utara yang "bebas", dan bagaimana perempuan kulit hitam harus berjuang dua kali lipat untuk mendapatkan otonomi atas hidup mereka.
Ketegangan antara "tugas terhadap keluarga" dan "keinginan pribadi" menjadi napas utama cerita ini. Para tokohnya sering kali terjepit di antara ekspektasi masyarakat untuk menjaga martabat kelas elit kulit hitam (yang dikenal dengan konsep racial uplift) dan keinginan mereka untuk menjadi manusia merdeka yang bebas mencintai siapa saja.
Marquis menulis dengan gaya yang sangat visual. Deskripsi tentang gaun-gaun berenda, interior rumah yang terbuat dari kayu mahoni, hingga mekanisme mesin mobil pertama digambarkan dengan sangat detail. Pembaca seolah diajak masuk ke dalam mesin waktu dan mendarat langsung di jalanan Chicago yang sibuk pada tahun 1910.
Diksina cukup modern namun tetap menjaga nuansa formalitas era tersebut. Kecepatan ceritanya terjaga dengan baik, berpindah dari satu sudut pandang ke sudut pandang lain tanpa membuat pembaca merasa bingung. Setiap karakter memiliki suara yang unik, membuat pembaca mudah bersimpati bahkan pada karakter yang awalnya terlihat egois seperti Ruby.
Selama ini, fiksi sejarah tentang masyarakat kulit hitam di Amerika sering kali terbatas pada tema perbudakan atau perjuangan hak sipil tahun 60-an. "The Davenports" mengisi celah sejarah yang jarang dibicarakan, masa di mana pengusaha kulit hitam mulai bangkit dan membangun institusi mereka sendiri.
"The Davenports" adalah bacaan yang menghibur sekaligus mencerahkan. Ia menawarkan kemilau romansa dan drama keluarga yang kita sukai dari Bridgerton atau Downton Abbey, namun dengan akar sejarah yang lebih kuat dan bermakna. Krystal Marquis berhasil menciptakan dunia yang membuat pembaca ingin terus tinggal di dalamnya, sekaligus membuat kita merenungkan betapa banyak sejarah yang selama ini tersembunyi karena bias rasial.
Identitas Buku
Judul: The Davenports
Penulis: Krystal Marquis
Penerbit: Dial Books
Tanggal Terbit: 31 Januari 2023
Tebal: 384 Halaman
Baca Juga
-
Review Drama The Early Spring, Hubungan Toxic Antara Bos Dan Bawahan
-
Review Drama Cases Between Us, Memecahkan Kasus Kejahatan di Era Republik
-
Buku All The Bright Places, Meruntuhkan Stigma Negatif Isu Mental Health
-
Drama Reborn Rich, Balas Dendam dan Intrik Rahasia Cucu Konglomerat Korea
-
Review Drama As You Stood By, Ketika Hukum Gagal Melindungi Korban KDRT
Artikel Terkait
Ulasan
-
I Need Space: Belajar Mengelola Emosi Lewat Petualangan di Luar Angkasa
-
Mampukah Indonesia Bangkit? Mencari Jalan Keluar dari Krisis
-
Indonesia Tidak Lagi Dijajah Belanda, Lalu Mengapa Gerpolek Masih Relevan?
-
Tragedi Ohara: Ketika World Government One Piece Fobia pada Pengetahuan
-
Review Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Saat Skala Sekuel Dipaksa Lebih Besar
Terkini
-
Perkuat Jejaring Pers, Forum Wartawan Kebangsaan Bentuk Koordinator di DIY
-
Petani di Tengah Perubahan Iklim: Mengapa Kemitraan Inklusif Menjadi Penting?
-
Comeback dengan Lagu Stay, Yuqi i-dle Yakin Hari Esok Pasti Akan Lebih Baik
-
Digital Detox Bukan Cuma Tren: Kita Perlu Jeda dari Kebisingan Media Sosial
-
Ratusan Ton Karbon untuk Satu Film: Saatnya Industri Sinema Bergerak Lebih Hijau