Hayuning Ratri Hapsari | Budi Prathama
Ilustrasi Perpustakaan. (Pixabay.com/Foundry)
Budi Prathama

Dulu, perpustakaan itu tempat sakral. Masuk ke sana, kita disambut aroma kertas tua dan penjaga perpustakaan yang tatapannya lebih tajam dari silet kalau mendengar kita bisik-bisik sedikit saja. Nelson Mandela pernah bilang kalau perpustakaan itu kebutuhan hidup, bukan kemewahan. Tapi mari jujur: di tahun 2026 ini, siapa yang masih mau repot-repot naik angkot ke perpustakaan daerah cuma buat cari satu referensi yang sebenarnya bisa muncul dalam hitungan detik lewat pencarian di HP sambil rebahan?

Internet sudah mengubah segalanya. Kita sekarang hidup di era di mana informasi itu kayak banjir bandang—melimpah, tapi sering kali bikin tenggelam. Fenomena ini bikin banyak orang bertanya, "Masih butuhkah kita gedung penuh rak buku itu?" Jawabannya: Masih, tapi ya jangan gitu-gitu amat. Perpustakaan kalau mau selamat harus berani bersolek, alias bertransformasi. Kalau tetap kaku, ya siap-siap saja jadi museum fosil yang cuma dikunjungi anak sekolah pas studi banding doang.

Ada alasan kuat kenapa perpustakaan harus segera move on. Pertama, soal habit belajar. Riset Deepublish (2023) sudah mengonfirmasi apa yang kita lihat tiap hari: generasi sekarang lebih akrab sama layar daripada kertas. Memaksa mereka baca buku fisik yang tebalnya bisa buat ganjel pintu itu tantangan berat. Kalau perpustakaan nggak menyediakan akses digital, ya jangan baper kalau sepi pengunjung.

Kedua, soal fleksibilitas. Kita ini hidup di zaman "Merdeka Belajar", sebuah jargon keren yang intinya adalah: kita pengen belajar kapan pun dan di mana pun. Gramedia Literasi (2025) sempat menyinggung bahwa layanan fisik saja nggak cukup. Bayangkan betapa indahnya kalau semua jurnal ilmiah atau buku terbaru bisa diakses lewat aplikasi sambil ngopi. Nggak perlu pusing mikir ongkir beli buku atau ongkos bensin ke perpustakaan kota. Praktis, ekonomis, dan yang paling penting: nggak bikin pegel.

Tapi, masalahnya bukan cuma soal mindahin isi buku ke PDF. Di sinilah poin ketiga masuk: literasi digital. Menurut Siberkreasi (2024), tantangan kita sekarang bukan kekurangan informasi, tapi kelebihan informasi sampah. Hoaks, penipuan, sampai cyber bullying itu ada di mana-mana. Perpustakaan harusnya jadi "satpam" sekaligus "kompas" bagi masyarakat. Jangan cuma jadi tempat pinjam buku, tapi jadilah pusat pelatihan biar kita nggak gampang kena tipu judul clickbait di grup WhatsApp keluarga.

Lalu, gimana cara perpustakaan bertransformasi tanpa jadi terlihat "maksa"?

Langkah paling dasar adalah digitalisasi. Bukan cuma sekadar punya komputer jadul yang lambatnya minta ampun, tapi punya koleksi elektronik yang mumpuni. Digitalisasi itu soal aksesibilitas. Orang di pelosok desa harus punya hak yang sama buat baca buku terbaru dengan orang yang tinggal di sebelah Perpustakaan Nasional.

Selain itu, infrastruktur teknologi itu wajib hukumnya. Wi-Fi gratis yang kencang dan komputer yang nggak sering hang adalah magnet paling ampuh buat narik pengunjung. Jangan sampai pas mau buka satu jurnal saja, kita harus nunggu sampai lebaran monyet karena koneksinya lemot. Perpustakaan juga harus jadi tempat yang asyik buat kolaborasi. Bikin dong diskusi virtual atau workshop yang seru. Bayangkan perpustakaan jadi co-working space yang gratis dan edukatif, tempat di mana ide-ide segar lahir dari obrolan santai antar pelajar.

Transformasi ini sangat klop dengan profil "Generasi Merdeka Belajar". Siswa-siswa sekarang didorong untuk inovatif dan adaptif menghadapi Industri 4.0. Kalau perpustakaannya masih gaya 1.0, ya nggak nyambung. Intinya, perpustakaan modern harus bisa memfasilitasi kebebasan berpikir dan kemudahan akses.

Jadi, buat para pengelola perpustakaan, pilihannya cuma dua: bertransformasi jadi pusat peradaban digital yang seru, atau tetap jadi gudang buku yang sunyi, sepi, dan berdebu. Perpustakaan harus jadi tempat orang-orang mencari kebenaran, bukan sekadar mencari tempat tidur siang yang adem karena ada AC-nya.