Sebagai penduduk Bumi Pertiwi yang bermukim di "Paris-nya" Jawa Timur, aku tahu bahwa negara ini memiliki beragam adat, budaya, dan tradisi di tiap-tiap jengkal tanahnya. Kalau iklan sirup Marjan selalu hadir menjelang bulan Ramadan, maka di Kediri ada tradisi Megengan yang sudah turun-temurun sejak dahulu. Namun, apa sebenarnya Megengan itu?
Pengertian Megengan
Melansir laman Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Megengan berasal dari bahasa Jawa, yakni megeng, yang artinya ngempet alias menahan. Hal ini menggunakan pemaknaan: wajibnya menahan hawa nafsu di bulan Ramadan. Walaupun jujur, kata megeng ini sudah tidak lagi kutemui di Kediri.
Inti dari Megengan sendiri adalah penyelenggaraan kenduri di tempat tertentu, seperti masjid, musala, atau rumah kepala desa. Pokoknya, hal itu tergantung kesepakatan warganya saja. Acaranya sendiri dilaksanakan di akhir bulan Ruwah alias Sya'ban. Umumnya, kegiatan ini dilakukan dua hari sebelum tanggal 1 Pasa alias Ramadan.
Rangkaian Acara
Memang inti dari Megengan adalah kenduri menyambut bulan Ramadan. Namun, rangkaian acaranya bisa berbeda di tiap daerah atau lokasi. Umumnya, masyarakat melaksanakan kegiatan nyekar atau ziarah ke makam keluarga dan kerabat masing-masing pada pagi, siang, atau sore hari.
Nah, barulah selepas salat Magrib atau Isya, diadakan perayaan kenduri yang kita sebut Megengan tadi. Kemudian keesokan harinya, warga bergotong royong membersihkan masjid dan lingkungan sekitar. Ini aturan di tempatku, ya. Mungkin di tempat lain bisa berbeda rangkaiannya. Sebab, kadang ada juga yang melaksanakan kenduri dahulu, baru nyekar keesokan harinya. Jadi, rangkaiannya tidak pakem dan sesuai dengan kesepakatan desa masing-masing.
Menu Kenduri yang Mantap
Namanya juga kenduri, sudah pasti ada menu yang disajikan. Umumnya, masyarakat membawa menu makanan sendiri dari rumah masing-masing, kemudian dikumpulkan di masjid sebelum berdoa bersama dan dibagikan kembali. Istilahnya mirip dengan bertukar makanan.
Untuk menunya sendiri bebas. Ada yang membawa nasi uduk, nasi kuning, hingga pola menu kenduri lama, yakni kolaborasi nasi putih, mi goreng, sambal goreng kentang, serta ayam dan tahu balado. Uniknya lagi, kehadiran kue apem dan buah pisang sering hadir di tiap-tiap porsi menu kenduri yang dibawa warga.
Efek Megengan bagi Sosial
Di desaku, masyarakatnya terbagi atas dua kepercayaan, yakni Islam dan Kristen. Meskipun Megengan bertujuan untuk menyambut bulan Ramadan, nyatanya masyarakat yang beragama Kristen juga turut menyumbang menu makanan, lho!
Tidak hanya menyumbang menu makanan di acara kenduri, mereka juga kompak kerja bakti di lingkungan sekitar keesokan harinya setelah Megengan. Ketika bapak-bapak beristirahat dari penatnya kerja bakti, ibu-ibu bakal menyuguhkan camilan ringan seperti kue, gorengan, atau jajanan pasar, dan minuman seperti kopi, teh, atau air putih.
Efek Megengan bagi Ekonomi
Sekalipun Megengan sukses menghadirkan hegemoni manis antar-masyarakat, nyatanya hal ini juga berimbas pada ekonomi. Menjelang Megengan, harga-harga barang di pasar pasti bakal melonjak. Entah sembako seperti beras, minyak, dan telur, atau harga daging ayam yang membuat dompet "menjerit", haha. Tidak hanya konsumen yang menderita atas kenaikan harga barang, para pedagang pun ikutan menderita karena sepinya pembeli.
Namun, tradisi Megengan juga memiliki imbas positif bagi pelaku katering. Sebab, ada beberapa warga yang menyerahkan urusan menu Megengan kepada mereka. Atau yang paling ringan, banyak yang menerima pesanan kue apem guna melengkapi menu kenduri.
Sejatinya, Megengan adalah wujud budaya daerah yang masih berlangsung hingga sekarang dengan tujuan baik. Yah, meski kadang memengaruhi harga barang-barang di pasar karena melonjaknya permintaan. Megengan sendiri tidak wajib diselenggarakan. Namun, kehadirannya merupakan salah satu ekspresi budaya Bumi Pertiwi yang napasnya masih bisa kita temui.
Baca Juga
-
Never-Ending Summer: Drama dengan Opening Bergaya Donghua yang Colorful
-
Teknologi Masif, Bagaimana Radio Jadi Wadah Aspirasi dan Apresiasi HUT RI?
-
Kala Lapar Bertemu Deadline Kerjaan Tanpa Ampun, Lahirlah Kutukan 'Hangry'
-
Review Almarhum: Sinematografi Thriller Misteri Bernyawa Kearifan Lokal
-
Mengenal Kerajinan 'Anam Kepang', Esensi Edukatif yang Mati Ditelan Zaman
Artikel Terkait
-
Hari Pertama Ramadan, Masjid Istiqlal Siapkan 3.500 Nasi Box untuk Buka Puasa Bersama
-
Jadwal BRI Super League 2025/2026 Ramadan: Persija Jakarta Bidik Posisi Runner Up di JIS
-
Apakah Tadarus Wajib di Bulan Ramadan? Simak Hukum dan Keutamaannya
-
Bolehkah Salat Witir Hanya 1 Rakaat Setelah Tarawih? Ini Penjelasan Lengkapnya
-
Ramadan dan Generasi Scroll: Mencari Hening di Tengah Notifikasi
News
-
Ungkap Pesona & UMKM, KKN-T 129 Undip Hadirkan Video Profil Desa Gogik
-
Ketika Energi Hijau Mengusik Ruang Hidup Warga
-
Festival Momaya 2026 Tandai Berakhirnya Pengabdian KKN-PPM UGM di Kecamatan Biluhu
-
PK Bapas Luwuk Ikuti Sidang TPP di Rutan Poso, Bahas Pembinaan 19 WBP
-
Kabinet Bayangan Gelar Upacara Rakyat di Kendeng Pati
Terkini
-
Ijazah Masih Penting, Tapi Kenapa Dunia Kerja Hanya Melihat Portofolio?
-
Demi Piala Oscar 2027, Taiwan Tunjuk A Foggy Tale di Kategori Internasional
-
Bukan Hanya Batik, Ini 5 Wastra Tradisional Indonesia Punya Makna Filosofis
-
Pelita Kecil di Kolong Langit
-
Kitab Tanbihul Ghafilin: Mengetuk Hati yang Lalai di Tengah Gemerlap Dunia