Di tengah hiruk-pikuk bioskop awal 2026, Wuthering Heights karya Emerald Fennell muncul sebagai salah satu film paling dinanti—dan paling kontroversial—tahun ini.
Adaptasi longgar dari novel klasik Emily Brontë tahun 1847 ini tayang perdana di bioskop Indonesia pada 11 Februari 2026, tepat sepekan sebelum Hari Valentine, dan langsung menyita perhatian penonton di jaringan seperti Cinema XXI, CGV, Cinepolis, serta bioskop premium lainnya.
Dengan durasi 136 menit, film bergenre romance-drama ini dibintangi Margot Robbie sebagai Catherine Cathy Earnshaw dan Jacob Elordi sebagai Heathcliff, pasangan yang chemistry-nya meledak-ledak sejak trailer pertama dirilis.
Fennell, yang juga menulis skenario dan memproduksi bersama Margot Robbie melalui LuckyChap Entertainment, tidak sekadar mengadaptasi novel. Ia membuat versi pribadinya, seperti yang ia katakan sendiri: "Kamu tidak bisa mengadaptasi buku yang begitu padat dan rumit ini secara harfiah." Hasilnya adalah film yang penuh gairah primal, sensualitas berani, dan estetika gothic yang memukau, meski sering kali mengabaikan kedalaman psikologis asli novel.
Budget sekitar 80 juta dolar AS ini difilmkan di Yorkshire Dales asli Inggris menggunakan kamera 35mm VistaVision, menghasilkan visual yang begitu hidup hingga terasa seperti lukisan bergerak. Sinematografi Linus Sandgren (La La Land) menangkap keindahan alam liar moors yang angker, sementara desain produksi dan kostum—dari gaun merah menyala Cathy hingga jaket kulit Heathcliff—memberi nuansa modern tanpa kehilangan esensi era 18 abad.
Sinopsis: Dari Persahabatan ke Obsesi Mematikan
Cerita berlatar di padang rumput Yorkshire yang ganas, mengikuti Cathy, putri pemilik tanah Wuthering Heights yang liar dan penuh nafsu, serta Heathcliff, anak yatim piatu yang diadopsi ayahnya sebagai hewan peliharaan. Dari pertemanan masa kecil yang polos, hubungan mereka berkembang menjadi obsesi yang menghancurkan.
Perbedaan kelas sosial, dendam, dan pengkhianatan menjadi katalisator tragedi yang melanda generasi berikutnya. Fennell menambahkan elemen erotis yang intens—termasuk adegan BDSM, hubungan intim di bawah hujan, dan simbolisme seksual yang berani—sehingga film ini jauh lebih panas daripada adaptasi sebelumnya seperti versi 1939 dengan Laurence Olivier atau 1992 dengan Ralph Fiennes. Ini bukan kisah cinta romantis manis, melainkan badai gairah yang destruktif, di mana cinta dan kebencian tak terpisahkan.
Review Film Wuthering Heights
Margot Robbie dan Jacob Elordi adalah jantung film ini. Robbie, yang biasanya bermain peran cerdas dan glamor, di sini tampil liar dan rapuh sebagai Cathy—seorang wanita yang terjebak antara keinginan bebas dan tekanan masyarakat.
Ekspresinya saat memandang Heathcliff penuh kerinduan yang nyaris menyakitkan. Elordi, yang semakin naik daun lewat Saltburn (juga karya Fennell), membawa Heathcliff dengan karisma gelap yang magnetis.
Tubuh tingginya, tatapan tajam, dan chemistry fisik dengan Robbie membuat setiap adegan bersama mereka terasa listrik. Pendukung seperti Hong Chau sebagai Nelly Dean (pembantu setia yang jadi narator) dan Shazad Latif sebagai Edgar Linton memberikan kontras yang kuat, meski fokus tetap pada duo utama.
Kekuatan terbesar Wuthering Heights adalah visual dan sensualitasnya. Fennell menyuntikkan pengaruh dari film seperti The Night Porter (1974) hingga The Handmaiden (2016), menciptakan estetika yang chic dan memabukkan.
Lagu asli Charli XCX, termasuk House featuring John Cale, menambah lapisan modern yang tak terduga. Adegan-adegan intimnya berani tanpa vulgar, dan suasana gothic-nya begitu kental hingga aku dan penonton yang lain merasa tenggelam di moors yang basah dan dingin.
Akan tetapi, bukan tanpa kekurangan. Kalau boleh jujur sih film ini kosong secara emosional. Pendekatan Fennell yang terlalu bergantung pada gaya visual dan erotis membuat cerita kehilangan kedalaman spiritual novel asli.
Beberapa adegan terasa berlebihan, dan alur generasi kedua kurang dieksplorasi. Adaptasi bebas dengan dosis carnalitas dan gaya yang chic, tapi bukan sastra tinggi—meski tetap visual yang menyenangkan. Kalau kamu menyukai Saltburn akan tergila-gila, tapi untuk puris novel Brontë mungkin akan kecewa.
Jadi bisa kusimpulkan, Wuthering Heights adalah tontonan yang wajib untuk pecinta romance gothic yang haus akan sesuatu yang dewasa dan intens. Ini bukan adaptasi setia, tapi interpretasi Fennell yang penuh hasrat—sebuah feast visual untuk Valentine season.
Di Indonesia, film ini masih tayang luas dan cocok ditonton di layar lebar untuk merasakan full immersion. Rating dariku 7.5/10. Bawa tisu, siapkan hati, dan biarkan badai cinta Heathcliff dan Cathy menyapumu ya, Sobat Yoursay.
Baca Juga
-
Ulasan Cidro Asmoro: Drama Komedi Musikal yang Sangat Menyentuh dan Lucu
-
The Rivals of Amziah King: Balas Dendam Tragis Peternak Lebah di Oklahoma
-
Review Film The Social Reckoning: Mengkritik Kehancuran Etika Teknologi
-
Ulasan Film Empat Musim Pertiwi: Karya Kamila Andini yang Sangat Menyentuh
-
Review Film Crawlers: Aksi Matilda Lutz Melawan Invasi Ribuan Laba-Laba!
Artikel Terkait
-
Film Penyalin Cahaya, Mengungkap Potret Gelap di Balik Institusi
-
Film I Was a Stranger: Perjalanan Haru yang Menyentuh di Tengah Perang
-
Review Film O' Romeo (2026): Kisah Cinta Gangster Mumbai yang Puitis dan Brutal
-
Transformasi Chris Hemsworth Jadi Perampok Ulung: Seberapa Worth It Film Crime 101 untuk Ditonton?
-
Film Crime 101: Kisah Pencuri dan Penegak Hukum yang Rumit dan Mematikan
Ulasan
-
Lebih dari Sekadar Warung Sembako: Arti Kebersamaan di Novel Warung Bujang
-
Review Love Reset: Ketika Kita Jatuh Cinta Lagi setelah Sempat Saling Benci
-
Ulasan Cidro Asmoro: Drama Komedi Musikal yang Sangat Menyentuh dan Lucu
-
Ulasan Be With You: Jika Hujan Bisa Membawa Kembali Orang yang Kita Rindu
-
Menelusuri Jejak Patriarki di Korea dalam Novel Kim Jiyeong Born in 1982
Terkini
-
Jeda dari Lifestyle Inflation: Tidak Semua Tren Harus Dikejar Demi Gengsi
-
4 Hydrating Serum Probiotic Rawat Skin Barrier, Cegah Dehidrasi dan Iritasi
-
Bukan Kesepian, Solo Date Bisa Menjadi Cara Seseorang Menikmati Jeda Bersama Diri Sendiri
-
Friendship Recession: Kenapa Cari Sahabat Dewasa Itu Sulit?
-
Menembus Tenda: Mengapa Safe Zone di Gaza Gagal Melindungi Sipil?