Film The Secret Agent (2025), yang juga dikenal dengan judul asli O Agente Secreto, adalah karya terbaru dari sutradara Brasil, Kleber Mendonça Filho. Film ini merupakan puncak dari perjalanan sinematiknya setelah sukses dengan Neighboring Sounds (2012), Aquarius (2016), dan Bacurau (2019). Dengan durasi 158 menit, film ini bergenre drama-thriller yang menggabungkan elemen spionase, paranoia politik, dan refleksi historis.
Diproduksi oleh CinemaScópio, MK Productions, dan beberapa studio internasional seperti Arte France Cinéma, film ini mendapat empat nominasi Academy Awards 2026, termasuk Best Picture, Best International Feature Film, Best Casting, dan Best Actor untuk Wagner Moura. Rilis teatrikalnya dimulai di Cannes pada 18 Mei 2025, diikuti Brasil dan Jerman pada 6 November 2025, Prancis pada 17 Desember 2025, dan Amerika Utara pada 26 November 2025 oleh Neon.
Di Indonesia, film ini tayang di bioskop mulai 23 Januari 2026 secara terbatas di jaringan CGV Cinemas dengan label usia 21+, serta kemungkinan di festival seperti Jakarta World Cinema. Penayangan ini menjadi kesempatan langka bagi penonton Indonesia untuk menyaksikan sinema Brasil kontemporer di layar lebar, meskipun distribusinya melalui MD Pictures mungkin tidak seluas film blockbuster Hollywood.
Bayang-Bayang Rezim Militer yang Menghantui
Cerita berlatar tahun 1977 di Recife, Brasil, saat rezim militer represif berkuasa di bawah kediktatoran. Protagonis utama, Marcelo (Wagner Moura), adalah seorang spesialis teknologi yang menjadi buronan. Ia tiba di Recife selama pekan Karnaval yang riuh dengan harapan menemukan tempat persembunyian yang aman. Namun, kota asalnya justru menjadi labirin bahaya. Marcelo, seorang duda dengan anak kecil, terlibat dalam jaringan perlawanan bawah tanah melawan rezim otoriter.
Ia dikejar oleh pembunuh bayaran yang dikirim oleh diktator, sementara ia mencoba melarikan diri bersama putranya. Plot ini bukan sekadar thriller manhunt biasa; Mendonça Filho menyisipkan elemen memoar, di mana Marcelo bergulat dengan masa lalu pribadi dan kolektif bangsa Brasil. Karnaval menjadi metafora sempurna: kegembiraan di permukaan menyembunyikan kekerasan dan pengawasan negara. Elemen spionase dalam film ini terinspirasi dari sejarah nyata mengenai sensor dan penyiksaan pada era itu, membuat film ini terasa seperti perpaduan The Lives of Others dan City of God, tetapi dengan sentuhan surealis Recife sebagai karakter tersendiri.
Secara visual, The Secret Agent adalah sebuah mahakarya. Mendonça Filho, yang juga menulis skenario bersama Matheus Farias, menggunakan Recife sebagai kanvas hidup. Kota pelabuhan ini digambarkan dengan detail yang autentik: jalanan ramai saat Karnaval, gedung-gedung kolonial yang rusak, dan pantai yang indah tetapi berbahaya. Sinematografi oleh Pedro Sotero menangkap kontras antara cahaya terang pesta dan bayang-bayang paranoia.
Penggunaan suaranya luar biasa; musik Karnaval bercampur dengan suara helikopter militer dan bisikan konspirasi, menciptakan ketegangan yang konstan. Penyuntingan oleh Eduardo Serrano membuat narasi berpindah antara flashback dan real-time, sehingga membingungkan penonton sebagaimana Marcelo merasakannya. Tema utamanya adalah ingatan dan perlawanan. Dalam beberapa wawancara, sutradara menyebutkan bagaimana Presiden Lula saat ini merevitalisasi sinema Brasil setelah era Bolsonaro yang represif, sebuah kondisi yang memiliki kemiripan dengan semangat perlawanan dalam film ini.
Review Film The Secret Agent
Performa aktor menjadi sorotan utama. Wagner Moura, pemenang Best Actor di Cannes 2025, menghidupkan karakter Marcelo dengan kedalaman emosional yang luar biasa. Ia bukan pahlawan aksi; Marcelo adalah intelektual rapuh, seorang mantan profesor yang terjebak dalam jaring pengkhianatan. Moura, yang dikenal lewat serial Narcos, menunjukkan sisi rentan: tatapannya penuh ketakutan dan senyumnya terasa dipaksakan sehingga membuat saya berempati. Pemeran pendukung seperti Sonia Braga sebagai tokoh perlawanan dan Irandhir Santos sebagai teman lama menambah lapisan cerita. Anak Marcelo, yang diperankan oleh aktor muda, membawa elemen humanis yang mengingatkan penonton pada pertaruhan pribadi di tengah kekacauan politik. Proses penentuan pemainnya sangat sempurna dan pantas mendapatkan nominasi Oscar.
Saya menyebut film ini sebagai mahakarya paranoia politik sekaligus thriller yang menggugah pikiran. Kekuatan utamanya adalah kemampuan Mendonça Filho membuat cerita masa lalu terasa sangat relevan dengan kondisi sekarang, seperti isu sensor, berita palsu, dan perlawanan rakyat. Meskipun durasi 158 menit terasa agak panjang dan laju ceritanya melambat di tengah, bagi penggemar film arthouse, hal itu justru membuatnya terasa imersif. Secara komersial, film ini meraup 2,9 juta dolar AS di Amerika Serikat dan Kanada, sebuah kesuksesan untuk kategori film indie.
Intinya, The Secret Agent adalah film yang menantang secara intelektual dan emosional. Ini bukan hiburan ringan, melainkan refleksi tentang bagaimana sejarah membentuk identitas dan bagaimana individu bertahan dalam sistem yang represif. Bagi penonton Indonesia yang familier dengan sejarah Orde Baru, tema ini akan terasa sangat resonan. Rating pribadi dari saya: 9/10. Film ini mengingatkan kita bahwa dalam kegelapan, perlawanan adalah cahaya.
Baca Juga
-
Review Film CAPER: Amanda Manopo Ungkap Sisi Kelam Teror Pinjol Ilegal
-
Film Antara Mama, Cinta, dan Surga: Tradisi yang Menekan Generasi Muda
-
Review Film AIU-EO Macam Betool Aja: Komedi Romantis Khas Medan yang Penuh Tawa
-
Film Late Shift: Malam Panjang Perawat yang Melelahkan dan Penuh Empati
-
Film Pocong Merah: Debut Horor Hendra Lee yang Kuat dan Menyeramkan!
Artikel Terkait
-
Jadi 'Tokek' di Ghost in the Cell, Aming Bakal Pamer Lekukan Tubuh Eksotis: Karakter Paling Unyu
-
Bukan Sutradara, Ini Pedofil! Timo Tjahjanto Desak Penjara untuk Pelaku Pelecehan Berkedok Casting
-
Merinding! Joko Anwar Pakai Lagu 'Cicak-Cicak di Dinding' di Ghost in The Cell: Yakin Itu Lagu Anak?
-
Reuni Pasutri Pachinko! Kim Min Ha dan Noh Sang Hyun Main Film Rom-Com Baru
-
Review Film CAPER: Amanda Manopo Ungkap Sisi Kelam Teror Pinjol Ilegal
Ulasan
-
Satire atas Agama, Sosial, Budaya, dan Politik dalam 'Robohnya Surau Kami'
-
Review Novel Di Tanah Lada Ziggy Z: Luka di Balik Kepolosan
-
Buku Berburu Rente: Potret Gelap Subsidi Pupuk dan Nasib Petani Indonesia
-
F1 The Movie: Sang Juara Dunia 7 Kali Lewis Hamilton Jadi Otak Produksi
-
Para Kriminal Berjas Rapi: Satire ala Tere Liye di Negeri Para Bedebah