Di tengah situasi sosial-politik Indonesia yang semakin gaduh, membaca buku esai Wawasan Kebangsatan terasa seperti menatap cermin besar yang memantulkan wajah bangsa yang apa adanya. Wajah kusut, lelah, penuh paradoks, tetapi tetap berusaha terlihat baik-baik saja.
Buku karya Okky Madasari ini bukan sekadar kumpulan esai politik biasa, melainkan dokumentasi keresahan kolektif warga negara yang perlahan kehilangan kepercayaan terhadap demokrasi, hukum, dan kebebasan berpikir.
Buku ini berisi delapan puluh catatan yang ditulis dalam rentang tahun 2015-2025. Sebagian besar merupakan tulisan yang pernah dimuat di media massa atau disampaikan dalam forum-forum diskusi. Namun, meskipun lahir dari konteks yang berbeda-beda, seluruh tulisan itu terhubung oleh satu benang merah, bahwa Indonesia sedang bergerak menuju krisis moral dan demokrasi yang semakin nyata.
Sejak halaman-halaman awal, Okky Madasari menyoroti bagaimana demokrasi di Indonesia tidak lagi berjalan berdasarkan semangat keadilan, melainkan sekadar prosedur administratif. Institusi demokrasi tampak tetap berdiri, tetapi isi dan rohnya perlahan dikosongkan. Banyak kebijakan terlihat legal secara hukum, namun bertentangan dengan akal sehat dan rasa keadilan masyarakat. Inilah yang membuat istilah “kebangsatan” dalam buku ini terasa relevan sekaligus menohok.
Sebagai pembaca, pengalaman membaca buku ini terasa campur aduk antara marah, lelah, dan takut. Setiap esai memang hanya terdiri dari dua sampai tiga halaman, tetapi efeknya bertahan lama di kepala. Ada banyak bagian yang membuat saya berhenti membaca sejenak untuk merenung. Terutama ketika Okky membahas soal kebebasan berpikir, akses pendidikan, ancaman terhadap jurnalis, serta budaya membungkam kritik yang semakin dianggap normal.
Saya merasa buku ini seperti suara hati banyak orang yang sebenarnya kecewa terhadap kondisi negara, tetapi tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Ada rasa frustrasi yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti harga buku yang mahal, perpustakaan yang terpinggirkan, kebebasan membaca yang semakin terbatas, hingga masyarakat yang dipaksa percaya bahwa semuanya baik-baik saja.
Yang paling menarik dari buku ini adalah keberanian Okky dalam mempertanyakan banyak hal yang sering dianggap tabu atau sensitif. Ia tidak hanya mengkritik pemerintah atau elite politik, tetapi juga mengajak pembaca mengkritisi masyarakat yang mulai kehilangan daya pikir kritis. Dalam beberapa esai, ia membahas bagaimana masyarakat perlahan menerima ketidakadilan sebagai sesuatu yang biasa. Ketika kebebasan berpikir mulai dianggap ancaman, di situlah demokrasi sebenarnya sedang sakit.
Buku ini juga relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Polarisasi politik, manipulasi informasi, pembungkaman kritik di media sosial, serta menurunnya kualitas diskusi publik menjadi fenomena yang sangat terasa beberapa tahun terakhir. Banyak orang akhirnya memilih bersikap apolitis demi menjaga ketenangan diri. Perasaan itu juga muncul saat saya membaca buku ini. Ada keinginan untuk peduli, tetapi sekaligus rasa lelah karena merasa suara rakyat sering tidak benar-benar didengar.
Meski demikian, Wawasan Kebangsatan tidak hadir sebagai buku yang menggurui. Okky tidak memaksa pembaca untuk setuju dengannya. Justru kekuatan buku ini ada pada kemampuannya memancing pertanyaan. Pembaca diajak berpikir ulang tentang nasionalisme, demokrasi, pendidikan, hingga arti kebebasan sebagai warga negara. Buku ini membuat saya terus bertanya, apakah kita benar-benar sedang menuju masa depan yang lebih baik, atau justru perlahan bergerak menuju situasi yang semakin distopia?
Dari sisi penulisan, gaya bahasa Okky Madasari sangat kuat dan tajam. Ia mampu menyampaikan kritik sosial-politik dengan bahasa yang lugas, jernih, dan mudah dipahami. Tulisan-tulisannya terasa seperti percakapan intelektual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan pembaca yang tidak terlalu mengikuti politik tetap dapat memahami konteks yang dibahas.
Namun, buku ini juga memiliki beberapa kekurangan. Karena sebagian besar esai berangkat dari situasi politik tertentu, beberapa tulisan terasa sangat kontekstual dan mungkin kurang relevan bagi pembaca di masa mendatang. Selain itu, dominasi kritik terhadap kondisi politik membuat suasana membaca terasa cukup berat dan melelahkan secara emosional. Bagi pembaca yang tidak terbiasa dengan isu sosial-politik, buku ini bisa terasa pesimistis dan penuh kemarahan.
Meski begitu, kekurangan tersebut justru menunjukkan kejujuran buku ini. Wawasan Kebangsatan memang tidak ditulis untuk menghibur. Buku ini hadir untuk mengguncang kesadaran pembaca agar tidak terlena oleh narasi bahwa bangsa ini selalu baik-baik saja. Dalam situasi ketika banyak orang memilih diam atau bersikap masa bodoh, keberanian untuk berpikir kritis menjadi sesuatu yang semakin penting.
Akhirnya, Wawasan Kebangsatan adalah buku yang mengingatkan bahwa demokrasi bukan hanya soal pemilu dan prosedur hukum, melainkan juga tentang keberanian berpikir, membaca, dan bersuara. Buku ini mungkin tidak memberi solusi pasti, tetapi setidaknya ia membuat pembaca tidak berhenti mempertanyakan keadaan.
Identitas Buku
- Judul: Wawasan Kebangsatan
- Penulis: Okky Madasari
- Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
- Cetakan: I, Oktober 2025
- Tebal: 352 Halaman
- ISBN: 978-623-134-450-2
- Genre: Esai
Baca Juga
-
Diusir dari Tanah Sendiri: Luka Kemanusiaan dalam Novel Maryam Karya Okky Madasari
-
Photo Assist Samsung Galaxy S26 Series: Solusi Praktis Menghilangkan Objek Mengganggu di Foto
-
Puisi sebagai Perlawanan: Membaca Kita Adalah Jelata di Tengah Indonesia yang Gelap
-
Refleksi Iduladha di Tengah Ketamakan dan Ketidakadilan Penguasa
-
Redmi Watch 6 Hadir di Indonesia: Smartwatch AMOLED 2,07 Inci, Siap Temani Gaya Hidup Aktif
Artikel Terkait
Ulasan
-
Kesepian dan Depresi: Kisah Tragis Kusunoki dalam Three Days of Happiness
-
Classmate: Korban Bullying yang Dicintai oleh Hantu Penunggu Gedung Sekolah
-
Perjalanan Spiritual dan Emosi dalam Cuma Aku, Lukaku, dan Tuhanku
-
Tom Clancy's Jack Ryan: Ghost War, Konspirasi Kelam di Balik Tabir Rahasia!
-
Sepotong Luka di Dalam Manisnya Pasta Kacang Merah Durian Sukegawa
Terkini
-
Tekanan Sosial Iduladha: Mengapa Anak Muda Merasa Takut Terlihat 'Kurang'?
-
Ending Drakor The Scarecrow Dibuat Realistis, Sutradara Ungkapkan Alasannya
-
Ada Badut Gendong, Sambut Idul Adha dengan 5 Film Baru di Bioskop!
-
Penuh Energi, Alpha Drive One Bahas Gejolak Emosi Remaja di Lagu OMG!
-
Monopoli Listrik Tapi Pelayanan Amburadul, Masih Pantaskah Dirut PLN Mempertahankan Jabatan?