Buku Ada Kalanya merupakan karya perdana Aditya Siregar yang lahir dari keresahan sederhana: manusia terlalu sering berlari, tapi jarang benar-benar berhenti untuk mengenali dirinya sendiri.
Buku ini tidak menawarkan jargon motivasi keras, tidak memaksa pembaca untuk “bangkit sekarang juga”, dan tidak memproduksi semangat instan.
Sebaliknya, ia mengajak pembaca berjalan perlahan, mengendap, dan berdamai dengan perasaan. Bahkan dengan perasaan yang selama ini sering kita tolak: sedih, kecewa, takut, lelah, dan gagal.
Isi Buku
Gagasan utama buku ini terasa sangat manusiawi. Adit menulis dari ruang yang jujur: tentang denial terhadap perasaan, tentang kecenderungan manusia menyembunyikan luka, dan tentang kebiasaan menekan emosi demi terlihat “baik-baik saja”.
Lewat kalimat-kalimat sederhana, pembaca diajak menerima bahwa “it’s okay to feel sad, to slow down a moment.” Bahwa tidak semua fase hidup harus produktif, tidak semua hari harus kuat, dan tidak semua proses harus cepat.
Secara fisik, buku ini tipis dan ramah dibaca sekali duduk. Isinya pun tidak didominasi teks panjang yang melelahkan. Ada ilustrasi-ilustrasi lembut yang memperkuat suasana emosional, membuat pembaca tidak jenuh, sekaligus membantu visualisasi perasaan yang ingin disampaikan.
Formatnya ringan, estetik, dan personal. Seolah bukan sedang membaca buku, tetapi membaca catatan seseorang yang sedang berdialog dengan dirinya sendiri.
Menariknya, Ada Kalanya tidak hanya berbicara soal kontemplasi, tetapi juga menyentuh tema patah hati, kehilangan, dan mengikhlaskan. Tema yang mudah diucapkan, tetapi sulit dijalani.
Buku ini tidak menawarkan solusi instan, melainkan ruang refleksi. Ia tidak berkata “kamu harus kuat”, tetapi lebih pada “kamu boleh lelah”. Di sinilah kekuatannya: kejujuran emosional tanpa menggurui.
Kelebihan dan Kekurangan
Secara struktur, buku ini unik karena menggunakan istilah “cangkir” sebagai pengganti bab. Setiap cangkir terasa seperti menyeruput kopi: ada pahit, ada hangat, ada manis tipis yang tersisa.
Metafora yang cocok, karena isi buku memang banyak berlatar kedai kopi, ruang sunyi yang sering menjadi tempat manusia berdialog dengan dirinya sendiri. Setiap cangkir berisi percakapan, refleksi, dan kontemplasi yang perlahan membentuk satu benang besar: proses penemuan diri.
Dalam cangkir-cangkir awal, pembaca diajak menengok masa lalu, kegagalan, dan keraguan. Di bagian akhir, fokusnya bergeser pada penyelesaian dan penerimaan. Bukan penyelesaian yang dramatis, tetapi penyelesaian yang sunyi: menerima, merelakan, dan mencoba lagi.
Ada bagian reflektif yang kuat ketika penulis menulis tentang kegagalan setelah usaha panjang, lalu memutuskan bukan untuk menyalahkan diri, tetapi mengevaluasi proses, mencatat celah, dan membangun strategi baru. Bukan menyerah, tapi mengulang dengan kesadaran.
Buku ini juga mengingatkan pembaca dengan buku Garis Waktu karya Fiersa Besari, karena sama-sama mengangkat tema penyembuhan luka dan refleksi batin.
Bedanya, Ada Kalanya lebih fokus pada satu alur besar: patah hati, penerimaan, dan penemuan diri, yang dikemas dalam ruang kontemplatif kedai kopi, bukan dalam format surat seperti Garis Waktu.
Secara keseluruhan, Ada Kalanya adalah buku self-improvement yang tidak agresif, tidak berisik, dan tidak memaksa. Ia hadir sebagai teman duduk sore hari, secangkir teh hangat, dan ruang hening untuk berpikir.
Buku ini membantu pembaca berdamai dengan proses. Karena pada akhirnya, hidup memang penuh “ada kalanya” dan mungkin, justru di situlah manusia belajar menjadi manusia.
Identitas Buku
- Judul: Ada Kalanya (Catatan Menemukan Diri dari Kedai Kopi)
- Penulis: Aditya Siregar
- Penerbit: Grasindo
- Tahun Terbit: Juni 2023
- Jumlah Halaman: 144 halaman
- ISBN: 978-6020-530-11-6
- Kategori: Pengembangan Diri/Self Improvement
Baca Juga
-
Misterius, Seksi, dan Berbahaya: Pesona Patch dalam Hush, Hush
-
Ketika Utang Menjadi Jerat: Pelajaran Penting di Buku Merah MTR
-
Membaca Perang Paregrek 1: Saat Konflik Kerajaan Majapahit Berubah Jadi Thriller Politik
-
How to Master Your Habits: Bukan Malas, Mungkin Kebiasaan Kita yang Salah!
-
Bukan Tak Sanggup: Perbedaan Antara Merawat Anak Kecil vs Lansia
Artikel Terkait
-
Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat: Mengapa Terlalu Berusaha Justru Menjauhkan Bahagia?
-
Resmi Diproduksi, Film Filosofi Teras Tawarkan Solusi Hidup Rasional
-
Review Buku Puasa Para Nabi: Mengurai Hikmah Bulan Ramadan
-
Potret Dunia Kerja yang Penuh Tekanan di Novel Kami (Bukan) Jongos Berdasi
-
Realita Buruh dan Nasib Kelas Pekerja dalam Novel Lelaki Malang, Kenapa Lagi?
Ulasan
-
Ulasan Film Operasi Pesta Copet: Aksi Komedi Heist Berlatar Festival Musik!
-
Mengulas Warisan Abadi Romcom Remaja dalam Film 10 Things I Hate About You
-
Sebelum Membaca Supernova, Kenali Dulu Kisah Cinta yang Rumit Ini
-
Film Dan Bandung Membuktikan Formula Lama Masih Bisa Berarti
-
Misterius, Seksi, dan Berbahaya: Pesona Patch dalam Hush, Hush
Terkini
-
Sinopsis Unabomber, Kisah Nyata Mahasiswa Harvard Jadi Teroris Buronan FBI
-
Bukan Cuma RUU Perampasan Aset, Membaca Keresahan di Balik Demo 27 Agustus
-
Auto Pede Pakai Tank Top! 5 Underarm Cream yang Merawat dan Mencerahkan
-
Sudah Tidur Lama Tapi Tetap Lelah? Bisa Jadi Kualitas Tidurmu Bermasalah
-
Hair Dryer vs Air-Dry: Cara Mana yang Lebih Aman untuk Rambut?