"Seandainya kau harus kehilangan pekerjaanmu, jangan sampai kau kehilangan keberanianmu." Kalimat penyemangat dari Lammchen kepada suaminya, Pinneberg, terasa seperti belati bermata dua. Di satu sisi, ia memberi kekuatan; tetapi di sisi lain, ia menegaskan ketakutan paling eksistensial bagi setiap manusia: kehilangan sumber penghidupan. Kalimat ini bukan sekadar penghibur, melainkan sebuah mantra bertahan hidup di tengah badai ekonomi yang meluluhlantakkan martabat manusia.
Novel karya Hans Fallada yang terbit pertama kali pada 1932 dengan judul asli Kleiner Mann, was nun? ini seolah menjadi cermin yang melampaui zaman. Meski berlatar Jerman pada masa Depresi Besar (tahun 1930-an), kecemasan kelas pekerja yang diangkatnya masih terasa sangat relevan dengan realitas abad ke-21 yang kita huni saat ini. Fallada dengan brilian memotret bagaimana kemiskinan bukan hanya soal perut yang lapar, melainkan juga soal harga diri yang terus-menerus digerogoti oleh sistem.
Sinopsis: Pinneberg dan Ilusi Status Karyawan
Kisah ini berpusat pada Pinneberg, seorang staf pembukuan yang menikahi Lammchen, perempuan dari keluarga buruh. Meski berada di kelas ekonomi yang serupa, terdapat sekat imajiner yang memisahkan mereka. Di Jerman kala itu, karyawan kantor sering kali merasa derajatnya lebih tinggi daripada buruh kasar hanya karena pakaian yang lebih rapi, selembar ijazah, dan gaji bulanan. Ada semacam kesombongan semu yang dipelihara agar mereka merasa bukan bagian dari "massa buruh".
Namun, melalui tokoh Tuan Morschel, Fallada menyentil keras bahwa tanpa solidaritas, karyawan hanyalah sekumpulan orang yang mudah ditindas oleh majikan. Pinneberg dan Lammchen harus berjuang mempertahankan sisa-sisa kebahagiaan di tengah perhitungan gaji yang kikir, terutama saat kehadiran anak mereka, Murkel, menambah beban finansial. Di sinilah Pinneberg menyadari kenyataan pahit: dalam sistem yang dingin dan kapitalistik, seseorang tidak dinilai dari kebaikan budinya, melainkan dari seberapa besar profit yang bisa ia setorkan kepada perusahaan.
Solidaritas yang Lenyap di Tengah Kompetisi
Kekuatan utama novel ini terletak pada relevansi sosiologisnya yang melintasi waktu. Hans Fallada secara tajam memotret fenomena saat pekerja justru saling bersaing menjilat pemodal alih-alih membangun solidaritas. Kita diperlihatkan bagaimana sesama "orang kecil" saling sikut demi mengamankan posisi masing-masing, sebuah potret yang masih menghantui dunia kerja kontemporer kita hari ini. Karakter Pinneberg digambarkan dengan sangat humanis; ia bukan pahlawan besar dengan kekuatan super, melainkan manusia biasa yang rapuh dan hanya ingin hidup tenang bersama anak istrinya.
Hubungan Pinneberg dan Lammchen menjadi oase yang menghangatkan di tengah dinginnya narasi ekonomi dan pedasnya kritik politik. Lammchen tampil sebagai sosok yang jauh lebih tangguh secara mental dibandingkan suaminya. Ia adalah jangkar yang menjaga Pinneberg agar tidak tenggelam dalam kegilaan akibat tuntutan bos yang tidak masuk akal dan biaya sewa rumah yang mencekik.
Narasi Depresif yang Menyadarkan
Namun, pembaca perlu menyiapkan ketahanan mental karena alur novel ini cenderung depresif. Keputusasaan yang dibangun secara konsisten dari bab ke bab mungkin akan terasa melelahkan bagi mereka yang mendambakan akhir cerita yang bahagia (happy ending). Dinamika plotnya terasa lambat karena Fallada lebih fokus pada kondisi psikologis dan detail-detail harian yang menyesakkan, seperti cara mereka menghitung uang koin hanya untuk membeli mentega atau popok.
Meski begitu, pengulangan narasi mengenai ketidakadilan ini justru memperkuat suasana melankolis tentang nasib "orang-orang kecil" yang kerap diabaikan oleh negara. Novel ini menelanjangi bagaimana birokrasi dan pasar kerja sering kali bertindak tanpa empati, membuang orang-orang setia seperti Pinneberg segera setelah mereka dianggap tidak lagi "efisien".
Menjadi Angka di Mata Sistem
Pada akhirnya, Lelaki Malang, Kenapa Lagi? adalah pengingat pahit bahwa masalah kelas pekerja belum banyak beranjak dari tempatnya sejak satu abad yang lalu. Selama sekat status sosial masih dipelihara dan perlindungan terhadap pekerja masih rapuh, teriakan amarah Pinneberg akan terus bergema di setiap sudut kantor modern dan pabrik-pabrik besar.
Membaca kisah ini membuat saya merasa sedang bercermin pada sistem hari ini yang menghakimi nasib manusia hanya berdasarkan target penjualan, efisiensi kerja, atau algoritma performa. Kita sering kali merasa terjepit dalam situasi "Pinneberg", di mana kerja keras tidak menjamin keamanan hari tua. Jika Anda pernah merasa "hanya menjadi angka" di mata perusahaan, atau merasa cemas setiap kali ada isu pemutusan hubungan kerja, novel ini adalah bacaan wajib. Ia menyadarkan bahwa kemalangan Anda bukanlah kesalahan pribadi yang memalukan, melainkan efek dari sistem yang memang tidak pernah dirancang untuk memanusiakan kita.
Identitas Buku:
- Judul: Lelaki Malang, Kenapa Lagi? (Judul asli: Kleiner Mann, was nun?)
- Penulis: Hans Fallada
- Penerbit: Moooi Pustaka
- Tahun Terbit: 2019
- ISBN: 978-623-90185-1-1
- Tebal: 428–432 halaman
Baca Juga
-
Lorong Menuju Laut: Perlawanan Perempuan Sangihe Melawan Korporasi dalam Novel Dian Purnomo
-
Buku Tetsuya Kawakami: Menemukan Makna Literasi di Toko Buku Tua
-
Novel Kuda: Dendam dan Pengkhianatan yang Menembus Zaman
-
Batas Tipis Kewarasan dalam Novel Perempuan di Dalam Piano
-
Membaca Pendosa yang Saleh: Saat Kesalehan Beradu dengan Hasrat Tabu
Artikel Terkait
-
Stop Jadi Polisi Bacaan: Buku Fiksi dan Non-Fiksi Sama-Sama Bikin Kamu Lebih Manusia
-
Review Novel Di Tanah Lada Ziggy Z: Luka di Balik Kepolosan
-
Self Healing: Menyembuhkan Luka Masa Kecil dan Belajar Menerima Diri
-
Membangun Kemandirian Emosional Lewat Buku Ternyata Bukan Kamu Rumahnya
-
Pandemi dan Teori Konspirasi di Novel Si Putih Karya Tere Liye
Ulasan
-
Menjalin Cinta yang Sehat di Buku Bu, Pantaskah Dia Mendampingiku?
-
Pandemi dan Teori Konspirasi di Novel Si Putih Karya Tere Liye
-
Membangun Kemandirian Emosional Lewat Buku Ternyata Bukan Kamu Rumahnya
-
Film Wildcat: Trope Klasik dalam Kemasan Modern yang Menegangkan!
-
Film Taneuh Kalaknat: Suguhkan Horor Found-Footage ala YouTuber