Sekar Anindyah Lamase | Oktavia Ningrum
Kami Bukan Jongos Berdasi (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Kami (Bukan) Jongos Berdasi karya J.S. Khairen, terbitan Grasindo, adalah potret getir sekaligus satir tentang dunia pascakampus yang jauh dari romantisasi seminar motivasi dan kutipan inspirasional.

Sebagai bagian ke-2 dari serial Kami (Bukan) Sarjana Kertas, novel setebal 378 halaman ini mengajak pembaca masuk ke realitas para alumni Kampus UDEL yang harus berhadapan dengan dunia kerja penuh tekanan, intrik, kompromi, dan ketidakadilan.

Dunia di mana idealisme sering kalah oleh kebutuhan hidup, dan mimpi besar kerap dipaksa bernegosiasi dengan realitas yang kejam.

Sinopsis Novel

Masuk ke dunia kerja adalah fase hidup yang sering kali tidak seindah motivasi seminar dan kutipan Instagram. Inilah dunia yang digambarkan dengan jujur, satir, dan emosional dalam Kami (Bukan) Jongos Berdasi. 

Enam sahabat yaitu Sania, Arko, Randi, Gala, Juwisa, dan Ogi akhirnya memasuki fase kehidupan yang sama, dunia kerja. Tetapi mereka menjalani nasib yang sangat berbeda. Ada yang bertahan, ada yang jatuh bangun, ada yang kariernya mulus, ada pula yang hidupnya seperti ditabrak realitas berkali-kali.

Dunia kerja digambarkan bukan sebagai ruang profesional yang rapi, tetapi sebagai arena bertahan hidup yang penuh intimidasi, cemoohan, tekanan mental, dan ketidakadilan struktural.

Sania menjadi potret paling getir. Bekerja di Bank EEK (Emirates Equity of Khatar), ia hidup dalam tekanan, target, dan perlakuan yang memperlakukan manusia seperti mesin. Mimpinya menjadi diva harus ditangguhkan, bahkan hampir “dibumihanguskan”.

Ketika ia melawan sistem, konsekuensinya nyata: pengangguran, pencarian kerja yang panjang, job fair yang penuh harapan palsu, hingga hidup dari panggung kafe. Naik turun hidup Sania terasa sangat dekat dengan realitas generasi muda urban.

Randi hadir sebagai kritik sosial terhadap dunia media. Sebagai wartawan clickbait, ia menulis judul sensasional demi viewer dan angka. Etika jurnalistik kalah oleh algoritma. Obsesi promosi, rating, dan gaji membuat hidupnya seperti dikejar badai. Sibuk, cepat, tapi kehilangan arah.

Gala justru menjadi simbol idealisme. Anak orang kaya, lulusan arsitektur, tapi memilih menjadi guru dan bermimpi membangun sekolah. Ia menolak jalur “aman” sebagai penerus bisnis keluarga, memilih jalur sunyi yang lebih bermakna secara sosial. Pilihannya menunjukkan bahwa sukses tidak selalu identik dengan gaji besar atau jabatan tinggi.

Juwisa adalah representasi ambisi akademik. Pejuang beasiswa, kursus, bimbel, tes CPNS, semua ditempuh demi mimpi S2. Ia adalah gambaran generasi yang berjuang keras mengubah nasib lewat pendidikan. Namun novel ini tidak romantis: usaha tidak selalu berbanding lurus dengan hasil. Hidup bisa runtuh oleh satu peristiwa.

Arko adalah ironi: berkarya ke Eropa sebagai fotografer, tapi tetap miskin secara ekonomi. Ia hidup dari idealisme, tapi tersandung realitas. Sementara Ogi justru sukses besar di luar negeri, menjadi figur “si berhasil” yang diharapkan bisa menjadi jembatan perubahan bagi sahabat-sahabatnya.

Kelebihan dan Kekurangan

Yang membuat novel ini kuat bukan hanya konflik individual, tetapi jalinan persahabatan mereka. Hubungan yang terbangun sejak kuliah tetap solid saat dunia kerja menggerus mental dan emosi.

Mereka saling menopang, saling mendukung, dan saling menjadi ruang aman di tengah kerasnya realitas. Ini yang membuat novel ini terasa hangat di balik kerasnya kritik sosial.

Namun, ada catatan kritis. Gaya bahasa yang terlalu “kekinian” kadang terasa berlebihan. Istilah slang tertentu terasa asing, bahkan mengganggu alur baca. Beberapa dialog juga menggunakan bahasa kasar yang tidak selalu perlu secara naratif. Secara struktural, padatnya tokoh membuat sebagian konflik terasa cepat dan kurang dalam.

Meski begitu, secara keseluruhan, Kami (Bukan) Jongos Berdasi adalah novel yang relevan, reflektif, dan menghibur. Ia bukan sekadar cerita tentang kerja, tetapi tentang mimpi, kegagalan, kompromi, persahabatan, dan mentalitas generasi muda.

Novel ini mengajak pembaca untuk tidak mudah menyerah, tidak larut dalam keluh kesah, dan tetap berani bermimpi. Tanpa harus menjadi “jongos berdasi” yang kehilangan jati diri demi bertahan hidup.

Identitas Buku

  • Judul: Kami (Bukan) Jongos Berdasi
  • Penulis: J.S. Khairen
  • Penerbit: Grasindo
  • Tahun Terbit: 2024
  • Tebal: 378 halaman
  • ISBN: 978-602-05-3080-2
  • Genre: Fiksi, Komedi, Young Adult
  • Seri: Kami (Bukan) Sarjana Kertas #2

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS