Sekar Anindyah Lamase | Oktavia Ningrum
Matahari Minor (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Matahari Minor karya Tere Liye merupakan buku ke-14 dalam serial BUMI, dan sejak kalimat pertamanya saja, pembaca sudah diajak masuk ke atmosfer yang berbeda:

Namaku Seli, dan aku bisa mengeluarkan petir.”

Kalimat itu bukan hanya pengenal tokoh, tapi juga penanda bahwa cerita kali ini bergerak dari sudut pandang yang baru. Tidak lagi Raib, melainkan Seli yang menjadi pusat narasi.

Perubahan POV ini memberi nuansa segar, sekaligus risiko: bagi pembaca lama yang sudah terlanjur nyaman dengan suara Raib, peralihan ini bisa terasa janggal. 

Klan Baru, Teror Baru

Petualangan kali ini membawa Seli dan Raib ke klan baru: klan yang malam-malamnya adalah horor panjang. Sebuah tempat yang diselimuti kekuatan gelap, di mana separuh wilayahnya berada dalam bayang-bayang kegelapan.

Atmosfernya mencekam, muram, dan penuh rasa tidak aman. Ini bukan sekadar klan baru, tapi ruang yang secara emosional terasa lebih berat dibanding klan-klan sebelumnya.

Uniknya, konflik besar dalam cerita dipicu oleh pesan misterius melalui teknologi mimpi. Sebuah elemen fiksi yang memperkaya dunia serial BUMI, sekaligus memperdalam sisi psikologis cerita.

Seli terus-menerus mengalami mimpi aneh, yang perlahan membentuk puzzle besar petualangan mereka. Rasa penasaran dibangun bukan hanya lewat aksi, tapi lewat kegelisahan batin tokohnya.

Tanpa Ali, Hadirnya Si Putih

Satu perubahan besar lain adalah absennya Ali. Setelah memilih menetap di SagaraS bersama ibunya, posisi Ali kini “digantikan” oleh Si Putih, karakter yang sejak lama dinanti comeback-nya oleh pembaca setia. Dan benar saja, kehadiran Si Putih bukan sekadar tempelan. Ia mulai menunjukkan perannya secara signifikan dalam dinamika cerita.

Relasi baru ini membentuk komposisi tim yang berbeda: Raib, Seli, dan Si Putih. Tidak ada lagi trio klasik yang penuh celetukan khas Ali, sehingga nuansa cerita terasa lebih sunyi, lebih serius, dan lebih gelap.

Alur: Seru, Tapi Tidak Seimbang

Secara struktur, Matahari Minor masih membawa ciri khas Tere Liye: narasi rapi, dunia yang konsisten, dan dialog yang mengalir. Namun, problem klasik serial panjang kembali muncul.

Awal cerita terasa lambat dan cukup bertele-tele. Eksplorasi klan baru yang justru paling menarik, baru benar-benar terasa saat cerita hampir menuju akhir. Ketika konflik mulai memuncak, alur justru terasa terburu-buru. Akibatnya, pembaca seperti ditarik dari suasana mencekam yang sedang matang, lalu langsung dilempar ke klimaks.

Plot twist-nya sendiri relatif bisa ditebak, tetapi tetap bekerja secara emosional karena pembaca sudah terikat dengan karakter dan misterinya.

Antara Kehilangan, Penerimaan, dan Perspektif

Di balik petualangan fantasi, Matahari Minor membawa pesan reflektif yang kuat. Bahwa dalam setiap kehilangan, selalu ada jawaban. Dalam setiap luka, selalu ada potensi kedamaian.

Buku ini mengajarkan pembaca untuk melihat dari sisi lain ketika sesuatu yang buruk terjadi. Tidak semua peristiwa pahit hadir untuk menghancurkan, sebagian hadir untuk membentuk. Pesan tentang penerimaan (acceptance) menjadi benang merah emosional yang mengikat cerita.

Dan ya, seperti biasanya khas serial Bumi, ending-nya menggantung. Sangat menggantung. Membagongkan. Menyebalkan. Membuat penasaran. Pertanyaan demi pertanyaan dibiarkan terbuka: tentang ILY, tentang Si Tanpa Mahkota, tentang Ali, tentang Si Putih, dan tentang arah besar konflik serial ini ke depan.

Ini adalah tipe ending yang membuat pembaca teriak kesal tapi tetap menunggu buku berikutnya.

Identitas Buku

  • Judul Buku: Matahari Minor
  • Penulis: Tere Liye
  • Penerbit: Sabak Grip Nusantara
  • Tahun Terbit: November 2022
  • ISBN: 978-623-99878-9-3
  • Tebal: 363 Halaman
  • Genre: Fiksi, Fantasi, Fiksi Remaja
  • Seri: Bumi #14