Bagi banyak orang, ibu kota tampak seperti pelabuhan harapan yang menjanjikan kemakmuran. Dari kejauhan, ia terlihat layaknya surga yang dipenuhi cahaya dan peluang. Namun, melalui novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna, kita diajak untuk menyelami bayang-bayangnya dan menyingkap apa yang tersembunyi di balik gemerlap tersebut.
Alih-alih kesuksesan yang manis, kita justru menemukan perjuangan hidup yang getir; tentang para perantau yang datang membawa mimpi, namun harus pulang dengan luka yang tak pernah sembuh.
Nasib Perantau di Balik Rimba Beton
Membaca buku ini menyadarkan saya bahwa setiap perantau yang mengadu nasib ke ibu kota sebenarnya tengah mempertaruhkan nyawa. Mereka bertahan di sela-sela gedung pencakar langit yang acuh, berjuang keras sekadar untuk menyambung napas.
Brian Khrisna dengan sangat apik menggambarkan bagaimana kota ini bisa menjadi medan yang sangat kejam bagi mereka yang tak memiliki kuasa. "Surga" yang mereka dambakan ternyata memiliki sudut kelam di mana harapan sering kali layu sebelum sempat berkembang.
Lingkaran Setan Kemiskinan dan Krisis Moralitas
Lebih jauh, novel ini membedah bagaimana kemiskinan bekerja layaknya lingkaran setan yang tak berujung. Kita melihat bahwa jeratan ekonomi sering kali memaksa seseorang mengambil keputusan instan yang justru merugikan masa depan mereka. Mereka bekerja keras bukan untuk naik kelas sosial, melainkan hanya agar tidak tenggelam lebih dalam dari batas kemanusiaan.
Hal yang paling menarik dalam novel ini adalah caranya menggugat standar moral kita. Kita kerap terlalu mudah menghakimi seseorang tanpa memahami latar belakang tindakannya. Dalam Sisi Tergelap Surga, batas antara benar dan salah menjadi sangat tipis. Novel ini menyadarkan kita bahwa di bawah tekanan ekonomi yang mencekik, moralitas menjadi barang mewah yang sulit digapai. Apakah seseorang layak dicap jahat jika ia terpaksa melanggar aturan hanya demi sesuap nasi esok hari?
Cermin Retak Realitas Sosial
Novel ini bukan sekadar fiksi biasa, melainkan cermin retak yang memantulkan kenyataan pahit masyarakat kita. Brian Khrisna mengajak kita untuk tidak melihat dunia secara dikotomis, hitam dan putih saja. Kota besar digambarkan sebagai entitas yang tega melumat nilai-nilai kemanusiaan demi perputaran uang. Sebagai pembaca, saya merasa diundang untuk lebih berempati dan tidak terburu-buru menghakimi kesulitan orang lain.
Akhirnya, Sisi Tergelap Surga adalah pelajaran berharga bagi siapa pun yang ingin mengadu peruntungan jauh dari rumah. Kehidupan kota sering kali menuntut bayaran yang mahal. Namun, di tengah pekatnya kegelapan, kita masih bisa menemukan satu hal berharga: kejujuran. Kejujuran bahwa hidup memang berat, dan di setiap kesulitan, kita selalu punya pilihan—apakah tetap bertahan menjadi manusia baik atau justru ikut larut dalam kegelapan itu sendiri.
Identitas Buku:
- Judul: Sisi Tergelap Surga
- Penulis: Brian Khrisna
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Tahun Terbit: 2023
- Genre: Fiksi / Drama Sosial
Baca Juga
-
Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat: Mengapa Terlalu Berusaha Justru Menjauhkan Bahagia?
-
Realita Buruh dan Nasib Kelas Pekerja dalam Novel Lelaki Malang, Kenapa Lagi?
-
Lorong Menuju Laut: Perlawanan Perempuan Sangihe Melawan Korporasi dalam Novel Dian Purnomo
-
Buku Tetsuya Kawakami: Menemukan Makna Literasi di Toko Buku Tua
-
Novel Kuda: Dendam dan Pengkhianatan yang Menembus Zaman
Artikel Terkait
-
Membuka Portal Dunia Baru di Novel Bumi Karya Tere Liye
-
Realita Buruh dan Nasib Kelas Pekerja dalam Novel Lelaki Malang, Kenapa Lagi?
-
Review Novel Di Tanah Lada Ziggy Z: Luka di Balik Kepolosan
-
Pandemi dan Teori Konspirasi di Novel Si Putih Karya Tere Liye
-
Para Kriminal Berjas Rapi: Satire ala Tere Liye di Negeri Para Bedebah
Ulasan
-
Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat: Mengapa Terlalu Berusaha Justru Menjauhkan Bahagia?
-
Nostalgia Ramadan: Keabadian Lagu 'Cinta Rasul' Sulis dan Haddad Alwi
-
Review Buku Puasa Para Nabi: Mengurai Hikmah Bulan Ramadan
-
New Wisata Wendit: Ikon Legendaris Malang yang Cocok Jadi Destinasi Liburan Keluarga
-
Penghakiman Sosial dalam Cerpen Malam Terakhir Karya Leila S. Chudori
Terkini
-
5 Lipstik Anti-Luntur, Tetap Cantik saat Makan dan Minum di Bukber
-
Sinopsis GOAT, Tekad Besar Si Kambing Kecil di Arena Roarball
-
5 Night Cream untuk Kulit Kusam, Bikin Wajah Auto Cerah di Pagi Hari!
-
Disorot soal Kontribusi LPDP, Tasya Kamila Minta Maaf dan Bahas Pajak
-
Melipat Jaring di Jalan Raya: Mengembalikan Marwah Pembangunan Masjid