Bagi mereka yang belum akrab dengan isi kepala Pidi Baiq, membaca judul Al-Asbun: Manfaatulngawur pasti akan memantik rasa bingung sekaligus ganjil. Namun, di jagat hiburan dan literasi Indonesia, siapa yang tidak mengenal sosok seniman nyentrik ini melalui mahakarya novel dan film Dilan 1990? Banyak dari kita, termasuk saya, yang pertama kali kepincut dengan isi kepala Pidi Baiq lewat gombalan maut Dilan yang sukses membuat Milea (dan para pembaca) jatuh hati.
Berbeda jauh dengan trilogi romansa remaja tersebut, Al-Asbun hadir dengan format yang sangat unik dan berani. Buku ini disajikan dengan struktur menyerupai kitab suci, lengkap dengan pembagian nama surat dan penomoran ayat.
Sesuai dengan tajuknya yang terdengar asal bunyi dan serampangan, nama-nama bab atau "surat" di dalamnya pun terkesan konyol, mulai dari surat Lemon Tea, Dipipimu, Cerutu, Sensasi, Durian, Rapia, Kangguru, Diskotek, Gelombang, Nyamuk, Sawah, Awun, Tahu, Toilet, Trotoar, Coklat, Tehguru, Tahi Cecak, Bonbin, Guoguo, hingga surat Lampu.
Menurut penuturan sang penulis, kata "Al" diambil dari bahasa Arab yang berfungsi sebagai penentu kata benda (setara dengan kata The dalam bahasa Inggris), sedangkan "Asbun" merupakan akronim dari "Asal Bunyi". Jika serial Drunken ditulis dengan gaya catatan harian yang bahasanya berantakan dan menabrak aturan ejaan, Al-Asbun justru dirajut dengan kalimat-kalimat yang tertata rapi, dingin, dan berwibawa layaknya sebuah teks kuno yang sakral.
Dialog Nyeleneh yang Memantik Renungan
Daya tarik utama buku ini terletak pada pemikiran-pemikiran tidak biasa dari Pidi Baiq yang dipresentasikan melalui dialog antara guru dan murid, obrolan keseharian bersama anak dan istri, serta interaksi dengan tokoh-tokoh fiktif lainnya.
Percakapan yang dihadirkan sekilas terdengar aneh, namun jika diresapi, ia menyimpan kedalaman makna yang luar biasa. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tergolong menggelitik, dan jawaban nyeleneh yang diberikan kerap membuat pembaca terdiam sejenak, mengangguk, menggelengkan kepala, berpikir keras, hingga akhirnya tersenyum sendirian.
Tengok saja salah satu ayat satir dalam surat Lampu yang berbunyi: "Janganlah kalian bersedih karena kita lahir dari orang tua yang bersenang-senang." (Lampu, 21:1). Pidi juga melempar kritik sosial yang sangat tajam sekaligus kocak mengenai fenomena pemilihan umum dalam surat Rapia: "Ketika jalanan telah seminggu menjadi galeri foto, dipenuhi dengan beragam spanduk berisi gambar orang-orang yang tidak kukenal, yaitu wajah menarik yang telah dimanipulasi dengan photoshop agar terlihat lebih menawan." (Rapia, 6:10).
Sentilan terhadap esensi demokrasi itu berlanjut pada ayat berikutnya ketika Ghoras Paleo IV, siswa pertama, bertanya: "Wahai guru, apakah kelak guru akan memberikan suara?" Sang guru pun menjawab dengan enteng: "Hohoho, insyaallah, Ghoras, jika suaraku tidak serak, aku akan memberikan suara." (Rapia, 6:12), yang kemudian ditutup dengan konklusi filosofis: "Rakyat adalah mulut yang menjadi bisu karena hak suaranya diambil saat pemilu." (Rapia, 6:39).
Mempermainkan Logika dengan Surealisme Ringan
Buku ini juga dipenuhi dengan kontemplasi teologis dan psikologis yang dikemas secara jenaka. Pidi menuliskan, "Ya Allah, jangan sampai Engkau beranggapan aku tidak tahu bahwa sesungguhnya Engkau adalah Tuhan yang maha mendengar, hanya karena aku memuji-Mu dengan pengeras suara." (Tahu, 13:22). Pada bagian lain, ia berujar, "Jika Tuhan menunjukkan diri-Nya, maka Tuhan tidak adil karena orang yang buta tidak bisa melihat-Nya." (Trotoar, 15:6).
Untuk urusan relasi kemanusiaan, Pidi berpesan, "Rasakanlah sendiri bagaimana rasanya jika engkau dibenci, sebelum engkau benar-benar membenci orang lain. Semoga dengan demikian, engkau akan berpikir dua kali untuk membenci." (Kangguru, 7:9). Ia juga membedah kecemasan manusia dengan sangat presisi: "Orang yang kau sayangi dan orang yang kau tidak suka, keduanya dapat menjadi sumber kekhawatiran. Seseorang yang kau cintai membuatmu merasa khawatir bahwa dia mungkin akan meninggalkanmu. Sedangkan orang yang kau benci akan membuatmu cemas bahwa dia bisa saja mendekat padamu." (Awun, 12:10-11).
Bahkan, pertanyaan polos anak kecil pun dijawab dengan logika parodi yang memukau. Saat anak tertuanya bertanya mengapa nyamuk selalu berisik di dekat telinga, Pidi menjawab: "Mereka sedang mengeluh, Nak. Nyamuk itu berteriak, meminta kita untuk segera memberi obat (nyamuk). Jika kita memenuhi permintaan mereka, mereka akan segera berhenti." (Nyamuk, 10:28).
Permainan Logika yang Membebaskan Pikiran
Jujur saja, berbeda dengan serial Drunken yang renyah dan langsung membuat terbahak, Al-Asbun pada awalnya sempat membuat saya kebingungan mencari arah dan maksud ceritanya. Seandainya Pidi Baiq membaca ulasan ini, mungkin ia akan berkomentar dengan gaya khasnya: "Hohoho, kasihan banget sampai bingung, lha wong Al-Asbun cuma buku lucu..." Namun, setelah dibaca secara perlahan dengan fokus penuh, lembar demi lembar buku ini bertransformasi menjadi bacaan yang sangat menarik, inspiratif, dan kaya akan pesan tersirat.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr. Haidar Baqir dalam kata penutupnya, untuk memahami esensi buku Al-Asbun, kita harus membebaskan pikiran terlebih dahulu dari sekat-sekat logika konvensional. Kita perlu mengosongkan cangkir kepala kita dan membiarkan Pidi membawa kita berjalan-jalan di dunianya. Dari sana, kita baru bisa menangkap mutiara kebijaksanaan yang ingin ia bagikan. Apa yang diucapkan Pidi bukan sekadar permainan rima kata, melainkan sebuah permainan logika yang menyerupai gaya penulisan esais atau penyair surealistik.
Kesimpulan
Pada akhirnya, seperti yang diakui oleh sang penulis sendiri, Al-Asbun sejatinya adalah buku biasa yang bertujuan memberikan hiburan semata melalui rangkaian ucapan yang (seolah-olah) tidak bermakna. Buku ini tentu tidak suci dan tidak berniat mendikte pembaca dengan pemahaman teologis yang kaku. Oleh karena itu, kita tidak perlu membedahnya secara serius atau menganalisisnya dengan pisau teori yang berat; cukup nikmati ia sebagai sebuah hiburan yang murni.
Di balik pemilihan judulnya yang nyeleneh, saya melihat ada secercah kerendahan hati dari seorang Pidi Baiq dalam membagikan cara pandangnya yang distingtif. Bagai ilmu padi, kian berisi kian menunduk, Pidi yang kaya akan perspektif unik memilih untuk tidak tampil menggurui.
Melalui karya-karyanya serta interaksi kasualnya di media sosial sebagai "Surayah" atau "Ayah", kita bisa merasakan bahwa di balik pemikirannya yang ajaib, ia adalah sosok yang bersahaja dan hangat. Akhir kata, sebuah "salam sayang" saya sematkan untuk menutup ulasan ini, terinspirasi dari ayat pembuka dalam surat Lemon Tea: "Salam dariku dan itu adalah salam sayang. Ini aku yang telah memakan roti. Tahukah kamu roti apakah itu? Roti bakar di atas sebuah piring yang dihidangkan pada waktu yang menyenangkan." (Lemon Tea, 1:1).
Identitas Buku:
- Penulis: Pidi Baiq
- Penyunting: Ridwan Fauzy dan Ahmad Mahdi
- Penerbit: DAR! Mizan (PT Mizan Publika)
- Tahun Terbit: 2010 (Cetakan pertama)
- Jumlah Halaman: 173 - 176 halaman
- ISBN: 9789790660878
Baca Juga
-
Bukan Hanya Sapi atau Kambing: Sudahkah Anda Menyembelih 'Sifat Binatang' di Dalam Diri?
-
Satu Hari Bersama Mantan: Saat Cinta Remaja Berujung Tragedi dan Kehilangan
-
Ajaklah Tuhan ke Tanah Jawa: Antara Fakta Sejarah dan Hubungan Spiritual
-
Review Bungkam Suara: Satire Tajam J.S. Khairen tentang Ilusi Kebebasan
-
Membaca Kapan Nanti: Sastra Absurd yang Menantang Konsentrasi Pembaca
Artikel Terkait
Ulasan
-
Penebusan Dosa Sang Mantan Pecandu: Review Jujur Serial Fantasi Epik 'Agent from Above'
-
Menghilangkan Penat dan Stress dengan Berwisata Alam di Pancar Wonotirto
-
Review Anime Farmagia, Pemberontakan Para Petani Melawan Tirani
-
Children of Heaven: Angkat Tema Kemiskinan dengan Pendekatan yang Humanis
-
Paya Nie: Kisah Pilu Perempuan Aceh di Tengah Konflik Berdarah TNI dan GAM
Terkini
-
Dilema Kaum Rebahan di Tengah Gejolak Ekonomi: Chill atau Mulai Bergerak?
-
Laptop Asus ROG Zephyrus G14, Senjata Baru Gamer dan Content Creator Profesional
-
Jejak Sampah di Balik Tombol 'Checkout': Sudah Siapkah Berhenti Jadi Konsumen Pasif?
-
5 Tips Jitu Memilih Pelembap Wajah yang Pas untuk Hasil Lembap Optimal
-
Jangan Cuma Rendang! Sulap Daging Kurban Jadi 4 Hidangan Nusantara yang Lebih Menggoda