“Lontara bukan hanya sekadar aksara, bukan hanya media perantara. Ia juga saksi sebuah sejarah dan kutukan cinta.” Kalimat yang tergores rapi pada halaman kedelapan novel karya Windy Joana ini seolah menjadi lonceng pembuka yang kuat. Ia memberikan pesan mendalam tentang betapa sakralnya kehadiran Lontara dalam jalinan kasih dua insan.
Novel ini membawa kita pada kisah cinta yang melampaui logika: sebuah ikatan jiwa yang bertahan sejak abad ke-15 hingga masa kini. Meski terdengar mustahil bagi nalar, Windy Joana berhasil merajut narasi ini menjadi rangkaian cerita yang memikat dan terasa nyata.
Pertemuan yang Menggetarkan di Leiden
Cerita dimulai dengan pertemuan yang tampak biasa namun sarat emosi di gedung Lembaga Ilmu Bahasa dan Antropologi Kerajaan Belanda, Universitas Leiden, pada tahun 2022. Di sana, Sailendra dan Mabello bertemu. Sailendra adalah seorang pria dengan garis wajah yang entah mengapa sanggup membuat air mata Mabello jatuh hanya dengan mendengar namanya. Begitu pula sebaliknya, Sailendra merasakan debaran yang asing namun akrab di dadanya.
Bagi Sailendra, ini mungkin pertemuan pertama mereka di tanah Belanda. Namun, bagi Mabello, pertemuan ini adalah akhir dari penantian ribuan tahun yang menyiksa. Mabello dikisahkan sebagai sosok To Manurung—utusan dari langit yang turun ke bumi pada tahun 15 Masehi. Identitasnya yang misterius dan keterkaitannya dengan mitologi Sulawesi Selatan menjadi fondasi utama yang membuat pembaca penasaran sejak bab-bab awal.
La Galigo dan Romansa Tanah Wajo
Salah satu kekuatan utama novel ini adalah keberanian penulis dalam menyisipkan istilah serta kosakata dari naskah Bugis-Makassar kuno, Sureq La Galigo. Melalui aksara Lontara, pembaca diajak menyelami sistem kepemimpinan dan kepercayaan masyarakat Sulawesi Selatan di masa lampau. Dalam naskah tersebut, To Manurung dipercaya sebagai sosok yang dikirim untuk meredam kekacauan. Namun, kehadiran Mabello di tanah Wajo justru memicu konflik.
Kelompok bangsawan setempat merasa terhina karena menganggap wilayah mereka sudah damai di bawah kepemimpinan Sailendra, yang dijuluki Puange ri Ampulung. Di tengah ketegangan politik dan ego para bangsawan, benih cinta justru tumbuh di antara Sailendra dan Mabello. Sayangnya, cinta mereka harus kalah oleh tuntutan jabatan. Sailendra lebih memilih mempertahankan kekuasaannya di Wajo daripada memperjuangkan Mabello, hingga akhirnya Mabello diusir dan dipaksa hidup dalam kesunyian tanpa batas waktu yang jelas.
Penantian Ribuan Tahun dan Reinkarnasi
Sebagai sosok yang memiliki garis keturunan langit, Mabello dihukum untuk hidup selamanya di "dunia bawah" selama ia belum menikah dengan kaum bangsawan. Selama ribuan tahun, ia mengganti identitas berkali-kali, membawa kepedihan cinta yang hanya diingat oleh dirinya sendiri. Hingga pada tahun 2022, saat ia bekerja sebagai seorang filolog yang melakukan digitalisasi naskah kuno di Belanda, ia kembali dipertemukan dengan Sailendra yang kini lahir kembali sebagai seorang ahli sejarah.
Pertemuan mereka di tengah deretan naskah Lontara kuno menjadi momen yang sangat emosional. Ada luka lama yang terbuka, namun juga ada harapan yang kembali menyala. Apakah nasib mereka akan berakhir bahagia kali ini, ataukah sejarah pahit itu akan berulang kembali? Pertanyaan inilah yang membuat pembaca sulit untuk meletakkan buku bersampul hijau yang menawan ini.
Jembatan Menuju Budaya Lokal
Novel Lontara bukan sekadar kisah cinta fiksi biasa. Ia adalah upaya Windy Joana untuk memperkenalkan kembali budaya Bugis-Makassar, termasuk karya sastra terpanjang di dunia, La Galigo, kepada generasi masa kini yang mungkin mulai merasa asing dengan akar budayanya sendiri. Perpaduan konsep sejarah, reinkarnasi, dan duka yang mendalam membuat novel ini terasa sangat berkesan.
Bagi siapa pun yang menyukai kisah cinta yang tidak biasa atau ingin belajar tentang sejarah Sulawesi Selatan dengan cara yang lebih menyenangkan, novel ini adalah jawaban yang tepat. Windy Joana berhasil membuktikan bahwa sejarah tidak harus kaku; ia bisa menjadi sangat hidup dan menggetarkan ketika disampaikan melalui narasi cinta yang tulus.
Identitas Buku:
- Judul Buku: Lontara
- Penulis: Windy Joana
- ISBN: 57127042300052
- Jumlah Halaman: 327 Halaman
- Penerbit: LovRinz Publishing
- Tahun Terbit: 2023
Baca Juga
-
Senyum Karyamin: Menelusuri Jejak Kemanusiaan di Balik Ironi Desa
-
Review Ayahku (Bukan) Pembohong: Menemukan Hakikat Kejujuran dalam Dongeng
-
Bill Gates dan Obama Mewajibkan Baca Buku Ini! Membedah Rahasia Dominasi Sapiens ala Harari
-
Leiden 2020-1920: Saat Sejarah Menjadi Misteri yang Harus Diselidiki
-
Karya Hendri Teja: Membayangkan Gejolak Batin Tan Malaka Lewat Fiksi
Artikel Terkait
-
Buku Petunjuk Hidup Bebas Stres dan Cemas: Sebuah Upaya Menghalau Kecemasan
-
Buku Love Yourself First: Mencintai Diri Secukupnya
-
Terjebak Utang Demi Story Estetik? Pelajaran Hidup dari Buku Yang Mahal Gengsi Kita
-
Pergulatan Moral Kolonial dalam Kumpulan Cerpen Teh dan Pengkhianat
-
Lika-Liku Hidup Santri di Buku Setegar Batu Karang, Seindah Senja Sore
Ulasan
-
Membolang di Namorambe: Tempat 19 Teman dari Berbagai Sirkel Berkumpul
-
Senyum Karyamin: Menelusuri Jejak Kemanusiaan di Balik Ironi Desa
-
Jatuh Cinta Lagi oleh Nadhif, Teror Manis bagi Hati Saya yang Belum Sembuh
-
Beda Frekuensi: Ketika Cinta Tak Harus Selalu Sejalan
-
Saya Insecure, Bernadya Rilis Lagu Baru, dan Semuanya Jadi Lebih Buruk
Terkini
-
Paradoks Kemiskinan: Mengapa Biaya Hidup Orang Kecil Jauh Lebih Mahal?
-
6 HP Realme dengan Kamera Terbaik dan RAM Besar 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Mulai Rp5 Jutaan Saja, Laptop Ryzen 5 Ini Cocok Buat Kuliah dan Kerja
-
Remaja, Passion, dan Realitas Karier yang Tak Selalu Sejalan
-
Bye-bye Kulit Kasar! Ini 5 Pilihan Body Wash Yogurt yang Super Melembapkan