Pernah merasa lelah tanpa tahu apa sebabnya? Tubuh tidak terlalu bekerja keras, tetapi pikiran seperti berlari maraton tanpa garis finis. Atau pernah merasa dunia ini terlalu jahat karena selalu membuat kita tergesa. Mengejar target, standar, validasi, dan ekspektasi yang tak pernah ada habisnya?
“Berhentilah sejenak. Duduk dan…” begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan buku Love Yourself First. Buku ini mengajak kita duduk dulu. Menarik napas. Mengakui bahwa kita lelah, dan itu tidak apa-apa.
Isi Buku
Buku karya Devi Ardiyanti dan Mirna Rahmasari ini terdiri dari lima bab utama yang seluruhnya berpusat pada relasi kita dengan diri sendiri. Bab pertama, “Hai, Kamu Lelah, ya?”, membahas berbagai sumber kelelahan baik fisik maupun emosional, serta bagaimana cara meresponsnya dengan lebih sehat. Kelelahan bukan selalu soal kurang tidur, tetapi juga tentang terlalu lama memendam, terlalu sering membandingkan, dan terlalu keras pada diri sendiri.
Bab kedua, “Kamu Tidak Harus Terus Berlari”, menjadi pengingat penting bagi generasi yang tumbuh dalam budaya serba cepat. Kita sering merasa tertinggal hanya karena melihat orang lain melaju lebih dahulu. Padahal, hidup bukan perlombaan dengan satu garis akhir yang sama. Buku ini mengajak pembaca memahami bahwa berhenti bukan berarti gagal. Jeda adalah bagian dari perjalanan.
Memasuki bab ketiga, “Jangan Cemas Apalagi Insecure”, pembahasan menjadi lebih konkret. Penulis menjelaskan apa itu toxic environment dan insecurity, dampaknya terhadap kesehatan mental, serta langkah-langkah untuk keluar dari lingkaran tersebut. Di era media sosial, rasa tidak cukup sering muncul tanpa kita sadari. Kita membandingkan proses kita dengan hasil akhir orang lain. Akibatnya, cemas dan khawatir menjadi teman sehari-hari.
Bab keempat, “Mereka dan Kamu Itu Berbeda”, menegaskan satu hal sederhana tetapi sulit diterapkan: setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Membandingkan pencapaian hanya akan menggerogoti rasa syukur dan ketenangan. Buku ini mengingatkan bahwa standar hidup orang lain tidak harus menjadi standar kita.
Bab penutup, “Yuk, Duduk Dulu!”, menjadi semacam ruang refleksi. Di akhir setiap bab, pembaca disuguhkan lembar refleksi diri. Bagian yang terasa sangat personal dan aplikatif. Pembaca tidak hanya memahami teori, tetapi juga diajak menuliskan dan mengevaluasi pengalaman sendiri. Inilah kekuatan buku ini: ia tidak berhenti pada wacana, melainkan mendorong implementasi dalam kehidupan sehari-hari.
Kelebihan dan Kekurangan
Menariknya, buku ini juga merujuk pada beberapa karya populer seperti Alasan untuk Tetap Hidup karya Matt Haig dan Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti? karya Kim Sang-hyun. Referensi ini memberi gambaran tambahan bagi pembaca yang belum sempat membaca buku-buku tersebut.
Dalam konteks kecemasan, buku ini relevan dengan hasil Survei Kekhawatiran Nasional yang dikutip dari buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Survei daring yang dilakukan pada 11–18 November 2017 dengan 3.634 responden menunjukkan bahwa 63% responden merasa lumayan hingga sangat khawatir tentang hidup secara umum. Kekhawatiran itu beragam: pendidikan (53% responden pelajar/mahasiswa), relationship (30% yang sedang menjalin hubungan), status lajang (45%), hingga pekerjaan atau bisnis (37%).
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa rasa cemas dan insecure bukan pengalaman personal semata. Kita tidak sendirian.
Melalui pengenalan singkat tentang Stoisisme atau Filosofi Teras, pembaca diajak memahami tiga prinsip penting: membedakan apa yang bisa kita kendalikan dan tidak, menyadari bahwa baik-buruk bergantung pada tafsir jiwa, serta memahami bahwa situasi hidup pada dasarnya netral. Perspektif ini membantu pembaca membangun pola pikir yang lebih stabil dan rasional.
Secara gaya bahasa, Love Yourself First menggunakan narasi yang ringan, lembut, dan mudah dipahami. Bagi pembaca yang menyukai buku self-improvement dengan “tamparan keras”, buku ini mungkin terasa kurang menantang. Namun justru di situlah letak kekhasannya. Ia tidak memarahi, tetapi merangkul.
Secara keseluruhan, buku ini cocok sebagai pengantar bagi pembaca yang baru ingin memulai buku nonfiksi, khususnya tema self-love dan kesehatan mental. Di tengah tuntutan hidup yang melelahkan, buku ini mengingatkan satu hal mendasar: sebelum menyenangkan dunia, belajarlah menyenangkan diri sendiri terlebih dahulu. Duduklah sejenak. Tarik napas. Dan mulai hari ini, utamakan dirimu.
Identitas Buku
- Judul: Love Yourself First: Mencintai Diri Secukupnya
- Penulis: Devi Ardiyanti & Mirna Rahmasari
- Penerbit: Terang Sejati
- Tahun Terbit: 2023
- Tebal: 200 halaman
- ISBN: 978-623-94260-4-0
- Kategori: Pengembangan Diri/Psikologi Populer
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Oposisi Dilemahkan dari Parlemen, Kritik Rakyat vs Musuh Imajiner
-
Indonesia Negara Maritim, Kenapa Teknologi Transportasinya Belum Berdaulat?
-
Sejarah Kelam Palembang Berdarah: Luka 1965 yang Tertinggal di Sungai Musi
-
Keruntuhan Wibawa Mataram di Perlawanan Penguasa Madura Atas Hegemoni Jawa
-
Jujukan Bromo: Persinggahan Tak Terduga dengan View Elok dan Ramah Kantong
Artikel Terkait
Ulasan
-
Sisi Kelam Naruto Shippuden: Dari Marginalisasi Hingga Radikalisme Rakyat
-
Review Lupin Part 1: Drama Thriller Kriminal Prancis yang Penuh Kejutan!
-
Ulasan Hyper Knife: Obsesi, Pengkhianatan, dan Dendam di Meja Operasi
-
The Dude in Me: Ketika Bertukar Tubuh Bisa Mengubah Cara Kita Melihat Dunia
-
Review Crawlers: Teror Laba-Laba Mengubah Apartemen Jadi Ruang Paling Maut
Terkini
-
Dean Zandbergen Batal Jadi WNI, Duo Striker Brazil Justru Bisa Bela Timnas!
-
Arc Raiders dan The Finals Resmi Diadaptasi Jadi Film dan Serial TV
-
Rilis Masterpiece, LNGSHOT Lantunkan Pujian Tertinggi untuk Pujaan Hati
-
4 Night Hair Serum yang Bikin Rambut Halus dan Bernutrisi Setiap Pagi
-
Menolak Ego Sektoral: Ini yang Akan Dikritik Tan Malaka dari Demo DPRD DIY