Things Left Behind adalah novel terjemahan dari Korea karya Kim Sae-byoul dan Jeon Ae-won. Isinya penuh petuah tentang kehidupan dan kematian yang disampaikan melalui pengalaman penulis sebagai jasa pembersih barang dan tempat milik orang-orang yang sudah meninggal.
Banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik. Alasan besar diterbitkannya buku ini adalah untuk berbagi kepada pembaca bahwa di sekitar kita terdapat begitu banyak kematian menyedihkan yang tidak diketahui siapa pun.
Diskoneksi antargenerasi menjadi salah satu penyebab paling banyak dalam masalah yang berujung pada tindakan mengakhiri hidup. Kecanggihan zaman menghadirkan jarak dan kesepian antara orang tua dan anak. Tak jarang orang tua merasa sangat kesepian, sementara anak merasa semuanya biasa saja.
Buku ini menunjukkan bahwa banyak hal diajarkan oleh mereka yang telah tiada. Terlepas dari agama apa pun, pelajaran kehidupan bisa dipetik dari mana saja.
Hampir rata-rata pekerjaannya adalah membersihkan tempat kejadian perkara. Meski awalnya diliputi rasa risih dan takut, setelah memahami betapa berharganya pekerjaan ini, penulis semakin menghargai dan mencintai profesinya.
Ada seorang dokter gigi muda lulusan Universitas Seoul yang meninggal dalam keadaan memilukan. Tidak ada yang mengetahui penyebab utamanya.
Jika dilihat dari luar, hidupnya tampak bahagia tanpa kekurangan apa pun. Namun dari surat yang ditemukan—surat untuk ibunya yang tak pernah dikirim—terlihat bahwa dokter muda itu memikul terlalu banyak tanggungan dan tanggung jawab, serta menyimpan mimpi yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Hal yang cukup menyayat hati terjadi saat membersihkan rumah seorang ayah yang meninggal sendirian dan baru diketahui setelah 20 hari. Anak-anaknya mengobrak-abrik seisi rumah untuk menemukan surat wasiat dan sertifikat tanpa menunjukkan kesedihan.
Dari sebuah pigura yang hampir dibuang karena mereka kesal tidak menemukan apa-apa, ternyata tersimpan cek jutaan won untuk mengurus pemakamannya sekaligus memenuhi apa yang dicari anak-anaknya.
Kekosongan hati akan kasih sayang sering kali menjadi sebab seseorang mengalami depresi, meski dari luar tampak baik-baik saja. Hal ini terlihat ketika petugas kebersihan membersihkan TKP kasus seorang siswa kelas 3 SMA yang melakukan tindakan kriminal terhadap ibunya yang terobsesi pada nilai sempurna.
Sejak kecil, jika nilainya kurang sedikit saja, ia tidak boleh tidur dan harus belajar semalaman. Tekanan tanpa ruang empati perlahan membentuk luka yang dalam.
Saat membersihkan apartemen murah yang disewa seorang nenek yang meninggal sendirian dengan damai, petugas menemukan emosi yang sulit dijelaskan. Sang nenek menolak tinggal bersama anak-anaknya karena tidak ingin merepotkan. Sementara itu, anaknya telah berusaha membujuk agar ibunya tinggal bersama daripada sendiri saat sakit tanpa ada yang menjaga.
Seuntai bunga seruni yang diberikan tetangga sebagai ungkapan belasungkawa terasa sangat berarti. Di tengah kota, jarang sekali ada tetangga yang begitu peduli. Lebih banyak orang merasa keberatan, apalagi jika kematian terjadi dengan cara yang tidak wajar.
Pekerjaan penulis pun penuh ironi. Ia sering tidak mendapat sambutan hangat dan dianggap membawa hal-hal kelam. Beruntung, putrinya sangat mencintainya dan tidak pernah malu meski pekerjaan ayahnya dipandang aneh.
Ada pula kisah seorang pengusaha besar yang ditipu oleh kawan yang paling dipercaya hingga dijerat hukum. Kehilangan kepercayaan meninggalkan kekecewaan dan kehampaan yang begitu dalam hingga merasa tak sanggup lagi menjalani hidup. Tak jarang pula tempat yang dibersihkan berkaitan dengan himpitan ekonomi.
Yang paling berkesan adalah pengaruh keluarga terhadap seseorang yang menderita gangguan tertentu—apakah didukung atau justru dijauhi. Dalam satu kasus, rumah yang penuh barang seperti isi toko ternyata milik seorang ayah dengan gangguan mencuri yang sebenarnya bisa diobati. Namun keluarganya memilih membuangnya karena malu secara sosial.
Selain itu, banyak pula kisah tentang lansia yang tinggal sendirian, tunawisma yang tidak memiliki identitas, bahkan orang-orang yang meninggal tanpa ada keluarga yang mengurus. Ada jenazah yang langsung dikremasi karena tidak ada keluarga maupun tempat untuk menyimpannya.
Kematian tanpa orang-orang yang mengurus terasa begitu sunyi. Sesungguhnya tidak ada orang yang benar-benar tidak memiliki keluarga. Yang ada hanyalah orang-orang yang dibuang oleh keluarganya atau orang miskin yang tidak mendapat perhatian dari siapa pun.
Pekerjaan ini membuat penulis melihat hal-hal yang tidak dilihat banyak orang. Kematian di tengah keluarga dengan kasih sayang—yang menjadi impian semua orang—justru jarang terjadi.
Pada akhirnya, penulis menghimbau untuk peduli kepada siapa pun tanpa berlebihan, bahkan kepada tetangga sendiri. Di tengah perumahan atau apartemen, barangkali sepatah kata hangat di pagi hari atau semangkuk sup bisa membuat seseorang merasa hidupnya berharga dan tidak memilih jalan kematian sendirian.
Membaca buku ini benar-benar menyentuh hati terdalam dan membuat saya berkaca: sudahkah saya peduli kepada orang lain? Sudahkah saya cukup hadir bagi mereka di sekitar saya? Bahasa terjemahannya sangat baik, tidak rancu, dan mudah dipahami.
Tak lupa, di bagian akhir, penulis yang sangat berpengalaman menangani berbagai TKP mencantumkan langkah-langkah yang bisa dilakukan saat seseorang mulai mengalami depresi, sebagai upaya meminimalkan risiko agar tidak semakin terpuruk. Buku ini bukan sekadar kisah tentang kematian, melainkan pengingat tentang nilai kehidupan dan pentingnya kepedulian.
Identitas Buku:
Judul: Things Left Behind: Hal-Hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada
Penulis: Kim Sae-byoul dan Jeon Ae-won
Penerjemah: Anna Lee
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Kesepuluh, Juni 2025
ISBN: 978-602-06-5751-6
Baca Juga
-
Tarian Bumi: Eksplorasi Nestapa dan Belenggu Kasta Perempuan di Bali
-
Corpus Uterus: Menelusuri Rahim, Trauma Sejarah, dan Perlawanan Perempuan
-
Gadis Minimarket: Perjuangan Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tuntutan Dunia
-
Menyoal Kewaspadaan Rakyat di Tengah Kultus Mas Bahlil Ganteng
-
Paya Nie: Kisah Pilu Perempuan Aceh di Tengah Konflik Berdarah TNI dan GAM
Artikel Terkait
Ulasan
-
Neko to Kiss: Mengadopsi Kucing yang Merupakan Jelmaan Teman Satu Kelas
-
Ulasan Propeller One-Way Night Coach: Film yang Asyik Curhat Sendiri
-
50 Cara Merayakan Luka dan Menertawakan Kehilangan di Buku Eminus Dolere
-
Dari Wattpad ke Layar Lebar: Menimbang Adaptasi Film After yang Pro-Kontra
-
Review Film Passenger: Horor Road Trip yang Semakin Langka di Hollywood
Terkini
-
Dibanderol Rp750 Juta, Ponsel Lipat Vertu AlphaFold Dilapisi Kulit Eksotis dan Emas Berlian
-
Acer AR Vision GR0 Resmi Meluncur, Kacamata Pintar Bisa Terhubung ke Android, iPhone, dan PC
-
Bocoran Galaxy Z Fold8: Bodi Super Ringan 210 Gram dan Minim Lipatan Layar
-
5 Masker Rambut yang Ampuh Atasi Rambut Rusak untuk Wanita Berhijab
-
Menakar Tren Slash Career: Alasan Gen Z Tak Cukup Punya Satu Profesi