Di Indonesia, Ramadan selalu datang dengan kehangatan, suara azan yang bersahut-sahutan, meja makan yang penuh, dan kebersamaan yang terasa begitu dekat. Namun tahun ini, saya menyambut Ramadhan dengan cara yang berbeda, jauh dari rumah, di tempat yang sebelumnya terasa asing dan tidak saya kenali. Di tengah perbedaan itu, saya justru belajar memahami makna Ramadhan dengan cara yang lebih dalam dan personal.
Nama saya Muhammad Al Fatih Azzami, seorang remaja 17 tahun asal Yogyakarta yang saat ini menjadi bagian dari program KL-YES 2025–2026 yang disponsori oleh Departemen Luar Negeri AS. Sudah sekitar tujuh bulan saya tinggal di Sheboygan, Wisconsin, bersama host family (keluarga angkat). Saya tinggal di rumah bersama host family saya dan bersekolah di Sheboygan North High School, yang berjarak sekitar 7 mil dari tempat tinggal saya.
Pada awalnya, semuanya terasa canggung dan penuh penyesuaian. Namun perlahan, suasana itu berubah menjadi hangat. Host family saya tidak hanya menerima saya sebagai siswa pertukaran, tetapi juga memperlakukan saya seperti bagian dari keluarga. Dari mereka, saya belajar banyak hal tentang kehidupan sehari-hari, tentang perbedaan, dan tentang cara memahami orang lain dengan lebih terbuka. Rasa rindu terhadap rumah memang sesekali hadir, tetapi kehadiran mereka membuat saya mengingat akan rumah dan mengobati perasaan kesendirian saya.
Ramadan di sini memiliki ritme yang berbeda. Di wilayah Midwest seperti Wisconsin, waktu puasa saat ini berlangsung sekitar 12 hingga 13 jam, dimulai sekitar pukul 05.30 dan berakhir sekitar pukul 17.36. Menjelang akhir Ramadhan, durasinya perlahan akan bertambah lama. Untuk menentukan waktu sahur dan berbuka, saya biasanya menggunakan aplikasi dan jadwal dari masjid terdekat. Pada waktu yang sama musim yang sedang beralih dari dingin ke semi membuat suasana terasa tenang, bahkan membantu saya menjalani puasa tanpa terlalu merasa lelah atau haus.
Untuk makanan buka puasa, saya sering memasak. Hobi saya ini justru menjadi cara saya untuk mengobati rasa rindu saya akan rumah. Saat waktu sahur, saya biasanya menghabiskan sisa makanan berbuka atau memasak sesuatu. Di sisi lain, mencari makanan halal di kota kecil seperti Sheboygan tidak selalu mudah, sehingga saya belajar untuk lebih selektif dalam memilih makanan, dan sesekali menyesuaikan dengan pilihan yang ada.
Menjalani Ramadhan sebagai seorang Muslim di lingkungan yang berbeda tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Jarak ke masjid yang cukup jauh membuat saya tidak bisa sering beribadah di sana. Banyak hal yang biasanya terasa dekat di Indonesia, kini harus saya lakukan sendiri dan semua terasa berbeda. Namun, di balik itu semua, saya menemukan dukungan yang tidak saya.
Host family dan teman-teman saya menunjukkan rasa ingin tahu dan kepedulian yang tulus. Mereka bertanya tentang Ramadhan, mencoba memahami, dan menghargai apa yang saya jalani. Hal-hal sederhana seperti itu memberi rasa tenang, dan membuat saya merasa diterima. Meski ada komunitas Muslim di sekitar, saya lebih sering menjalankan ibadah, termasuk salat tarawih, secara mandiri di rumah.
Perbedaan suasana memang terasa. Ramadan di sini lebih sunyi, tanpa hiruk-pikuk suara sahur atau suara azan yang biasa saya rasakan di Indonesia. Namun, justru dalam kesunyian itu, saya belajar untuk lebih dekat dengan diri sendiri. Saya belajar menjaga konsistensi di
tengah aktivitas sekolah dan keseharian yang tetap berjalan seperti biasa. Saya juga belajar bahwa kekuatan menjalani Ramadhan tidak hanya datang dari lingkungan, tetapi dari niat dan keteguhan hati.
Baca Juga
-
Film Komang: Angkat Kisah Cinta Penyanyi Raim Laode dan Toleransi Beragama
-
Menanam Mindset Baru, Setiap Luka Bisa Jadi Peluang di From Zero to Survive
-
Terjebak di Lift, Film Thriller Indonesia Ini Sajikan Teror Mencekam
-
Menjual Borobudur: Ambisi Komersial di Balik Jubah Budaya
-
Gurih & Manis! 5 Ide Isian Stoples Lebaran Selain Kue Kering
Artikel Terkait
Ulasan
-
Film Komang: Angkat Kisah Cinta Penyanyi Raim Laode dan Toleransi Beragama
-
Menanam Mindset Baru, Setiap Luka Bisa Jadi Peluang di From Zero to Survive
-
Terjebak di Lift, Film Thriller Indonesia Ini Sajikan Teror Mencekam
-
Dusta Indah dan Doa yang Nyata: Mengenal Sosok Ibu dalam Karya Kang Maman
-
Buku Semoga Kamu Ikhlas Hadapi Dunia: Memahami Hidup Tanpa Memaksa Keadaan
Terkini
-
Menjual Borobudur: Ambisi Komersial di Balik Jubah Budaya
-
Gurih & Manis! 5 Ide Isian Stoples Lebaran Selain Kue Kering
-
Lebaran dan Tradisi: Antara Rindu, Ritual, dan Makna yang Selalu Kembali
-
Kenshi Yonezu Raih Best Sound/Performance di TAAF 2026 Berkat Lagu Anime
-
Cuma di Bali! Saat Nyepi, Bandara Internasional Bisa Tutup Total Seharian