Buku berjudul Di Tepi Sungai Dajlah ini ditulis oleh Buya Hamka, seorang ulama, sastrawan, dan tokoh pergerakan nasional yang sangat dihormati di Indonesia. Buku ini pertama kalai diterbitkan pada tahun 1952, namun edisi yang saya miliki diterbitkan oleh Gema Insani. Buku ini tergolong dalam genre perjalanan (travelogue) dan sejarah, yang menceritakan pengalaman pribadi penulis saat mengunjungi Baghdad, Irak, pada tahun 1950.
Beberapa sub bab judul membawa kita menelusuri Irak seperti Menuju Baghdad, Baghdad dan Irak, Raja-Raja Bani Hasyim, Paham Syi'ah, Tempat Ziarah Kaum Sunni, hingga Indonesia di Irak. Susunan bab ini membawa pembaca seolah diajak berkeliling dan memahami negeri tersebut secara bertahap.
Dalam buku ini tokoh utamanya adalah penulis sendiri yaitu Buya Hamka yang bertindak sebagai narator yang mengajak kita melihat dunia melalui matanya. Selain itu, buku ini juga memperkenalkan kita pada tokoh-tokoh besar diantarannya para khalifah Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, serta tokoh-tokoh penting dalam sejarah Islam dan perbedaan mazhab.
Konflik yang diangkat dalam buku ini bukanlah konflik fiksi, melainkan konflik nyata yang terjadi di masyarakat dan sejarah. Hamka mengulas secara mendalam tentang perbedaan paham antara kaum Sunni dan Syi'ah yang sudah berlangsung lama. Ia juga menyoroti perguliran kekuasaan dari berbagai dinasti serangan bangsa Mongol, hingga kondisi sosial masyarakat Irak pasca perang. Selain itu, ada juga refleksi mendalam tentang hubungan antara bangsa Indonesia dan Belanda pasca kemerdekaan yang penuh dengan dinamika perasaan dan identitas.
Saya menemukan kalimat indah dan mendalam, yang berkesan.
"Wasiatnya (Iskandar Makedonia) pun dilaksanakan yaitu kedua belah tangannya mesti diulurkan ke luar supaya orang-orang mengetahui bahwa betapa pun besar keuasaan dan kekayaan manusia, ia akan pulang ke akhirat hanya dengan tangan kosong jua." (Hamka, 37).
Saya melihat sebuah pandangan yang mendalam tentang sifat manusia dan kefanaan dunia. Hamka mengingatkan bahwa meskipun manusia memiliki kekuasaan dan kekayaan yang besar, pada akhirnya semua itu tidak akan berarti di akhirat. Pandangan ini mengajarkan kita untuk selalu rendah hati dan mengutamakan amal ibadah serta keikhlasan hati, karena hanya amal yang tulus yang akan menemani kita pulang ke akhirat nanti. Jadi, pesan utama dari kutipan ini adalah pentingnya menempatkan nilai spiritual dan moral di atas kekayaan duniawi, sebagai bekal menghadapi kehidupan setelah mati.
"Kami ini bangsa Indonesia, dan madzhab kami adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah (sunni), madzhab Syafi'i. Namun kami tidak membenci zuriah Nabi saw. (keturunan Nabi saw). Kami berziarah kemari dari tempat yang jauh karena kami pun cinta kepada Husain ra." (Hamka, 70 - 71).
Hamka menekankan bahwa meskipun ada perbedaan pandangan, kedua kelompok ini tetap bersatu dalam keyakinan dasar Islam: mengakui satu Tuhan dan Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya. Jadi inti perbedaannya terletak pada siapa yang memimpin dan bagaimana cara memahami serta menerapkan ajaran agama Islam dengan tidak membenci satu sama lain.
Untuk kelebihan dari buku ini, Hamka pandai mendeskripsikan tempat sehingga saya bisa membayangkan suasana Baghdad saat itu. Buku ini bukan hanya cerita jalan-jalan tapi kaya akan ilmu sejarah, agama, dan sosiologi, khususnya tentang akar budaya masyarakat setempat. Penulis juga membahas perbedaan mazhab Sunni dan Syi'ah dengan cukup seimbang atau tidak memihak.
Kekurangan dari buku ini karena merupakan catatan perjalanan lama, beberapa deskripsi kondisi tempat atau bangunan mungkin sudah tidak relevan dengan kondisi Irak saat ini. Bagi pembaca yang tidak suka sejarah, ada beberapa bagian yang terasa agak berat karena banyak memuat nama-nama tokoh sejarah dan istilah budaya.
Identitas Buku
- Penulis: Buya Hamka
- Penyunting: Mardiati
- Perwajahan dan Penata Letak: Tutik Dwi Suwarsih
- Ilustrator Sampul: Yuuryuuni
- Desain Sampul: 2tik
- Penerbit: Gema Insani
- ISBN: 9786022506324
- Tebal: 176 Halaman
Tag
Baca Juga
-
Perjalanan Panjang Amy & Rogers: 4 Hari dalam Mobil yang Mengubah Segalanya
-
Dihukum Tanpa Tahu Kesalahan: Sisi Gelap Birokrasi dalam Mahakarya Franz Kafka
-
Perburuan: Harga Sebuah Prinsip Pahlawan yang menjadi Mangsa di Tanah Sendiri
-
Sang Maharani: Ketika Rumah Sendiri menjadi Tempat yang Paling Berbahaya
-
Cengkeraman Penjajah dan Cita-cita Seni: Konflik Batin Pangeran dari Timur
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Drama Alice in Borderland, Teka-Teki Permainan Kartu yang Mematikan
-
Misteri "Mr. S": Buku Bergambar Paling Kocak yang Wajib Dibaca Anak Sebelum Masuk Sekolah
-
Insecurity Is My Middle Name: Seni Berdamai dengan Kekurangan
-
The Catalyst: Kenapa Semakin Dipaksa, Orang Justru Semakin Sulit Berubah?
-
Membaca Sejarah Nama Bahasa Indonesia: Bahasa yang Mencerminkan Pikiran
Terkini
-
Dari Rp500 Ribu Jadi Skandal Rp24,5 Miliar: Begini Cara "Orang Dalam" Bobol BPJS Ketenagakerjaan
-
Jangan Asal Cas! Ketahui 9 Tips Jitu Bikin Baterai Android Awet Seharian
-
Deathstalker: Hadir dengan Petualangan Pahlawan Barbar Melawan Penyihir!
-
Eternal Sunshine of the Spotless Mind: Saat Kenangan Tak Bisa Sepenuhnya Hilang
-
Review Home School: Saat Belajar di Sekolah Tak Harus Lewat Buku Pelajaran