M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi scolling media sosial (Pexels/Ron Lach)
e. kusuma .n

Saya pernah berada di titik di mana waktu terasa berjalan cepat, tapi anehnya tidak ada satu pun hal bermakna yang benar-benar saya lakukan. Jam demi jam habis hanya untuk satu aktivitas: scrolling, dari bangun tidur sampai menjelang tidur lagi.

Jari-jari ini seperti punya kehidupannya sendiri untuk terus menggeser layar tanpa tujuan yang jelas. Awalnya memang terasa menyenangkan, tapi lama-lama, ada rasa kosong yang sulit dijelaskan. Waktu berlalu begitu saja tapi hati tetap kosong.

Terjebak dalam Ilusi “Sebentar Lagi”

Saya sering berkata ke diri sendiri, “Lima menit lagi saja.” Tapi lima menit itu berubah jadi satu jam, bahkan lebih. Anehnya, saya sadar sedang membuang waktu dan tetap melakukannya. Bukan cuma sehari, bahkan hari-hari selanjutnya juga terulang.

Scrolling memberi ilusi kalau saya sedang beristirahat atau menghibur diri seolah jadi me time paling murah yang menyenangkan untuk refreshing pikiran. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya, pikiran saya terus dipenuhi informasi.

Entah itu video pendek, opini orang, berita, hingga tren terbaru, semua konten datang tanpa jeda. Bukannya rileks, saya malah kelelahan secara mental. Saya jadi bertanya: ini benar-benar istirahat, atau hanya pelarian?

Hidup Orang Lain Terlihat Lebih “Hidup”

Semakin lama saya scrolling, semakin sering saya merasa tertinggal. Melihat orang lain produktif, traveling, sukses di usia muda, atau sekadar terlihat bahagia, membuat saya tanpa sadar mulai membandingkan hidup.

Padahal, saya tahu itu hanya potongan kecil dari realita mereka. Tapi tetap saja, efeknya nyata. Saya mulai merasa hidup saya datar, kurang menarik, bahkan terasa gagal. Lucunya, saya menghabiskan waktu berjam-jam melihat kehidupan orang lain, sementara hidup saya sendiri justru tidak bergerak.

Overload Informasi, Minim Refleksi

Setiap hari, saya mengonsumsi begitu banyak konten, dari yang ringan sampai yang serius. Tapi semakin banyak saya melihat, semakin sedikit yang benar-benar saya pahami atau renungkan.

Informasi yang datang terlalu cepat dan terlalu banyak hingga tidak ada ruang untuk mencerna. Akhirnya, semuanya terasa lewat begitu saja, tidak membekas. Saya seperti kenyang, bukan karena “makanan” bergizi tapi lebih seperti terlalu banyak “junk food” untuk pikiran.

Kehilangan Koneksi dengan Diri Sendiri

Salah satu hal yang paling saya sadari adalah saya jadi jarang benar-benar “diam”. Tidak ada waktu untuk sekadar duduk tanpa distraksi, tanpa layar. Padahal, di momen-momen hening itulah biasanya saya bisa mengenal diri sendiri lebih dalam.

Saya seolah kehilangan momentum untuk memahami diri sendiri—apa yang saya rasakan, apa yang saya butuhkan, apa yang sebenarnya saya kejar. Scrolling tanpa henti membuat saya terus terhubung dengan dunia luar, tapi justru menjauh dari diri sendiri.

Waktu Habis, Tapi Tidak Ada yang Bertambah

Ini bagian yang paling mengganggu. Setelah berjam-jam scrolling, saya sering bertanya: “Apa yang saya dapat hari ini?” Jawabannya sering kali: tidak ada. Dan memang benar-benar tidak ada yang bertambah, hanya waktu yang habis.

Tidak ada skill baru, tidak ada progres berarti, bahkan kadang tidak ada kenangan yang bisa diingat. Waktu berlalu begitu saja tanpa jejak yang jelas. Dan di situlah rasa kosong itu muncul karena apa yang saya lakukan tidak benar-benar memberi makna.

Pelan-pelan Belajar Mengambil Kendali

Mengenali situasi ini, saya tidak langsung berhenti scrolling sebab jujur saja, itu sulit. Tapi saya mulai mencoba lebih sadar dengan membatasi waktu penggunaan aplikasi atau sengaja menyisihkan waktu tanpa layar.

Saya juga mulai mengganti sebagian waktu scrolling dengan hal kecil: membaca beberapa halaman buku, menulis, atau sekadar berjalan tanpa membawa ponsel hanya untuk mengembalikan diri ke dunia nyata.

Memang tidak selalu berhasil. Kadang saya tetap kembali terjebak, tapi setidaknya sekarang saya lebih sadar kapan saya sedang “lari” ke scrolling, dan kapan saya benar-benar butuh istirahat.

Mengisi, Bukan Sekadar Menghabiskan

Scrolling itu tidak sepenuhnya buruk. Ada banyak hal menarik dan bermanfaat di dalamnya. Hanya saja, saat dilakukan tanpa batas dan tanpa sadar, ia berubah jadi jebakan halus yang membuat kita seolah terjebak dalam hiburan semu.

Saya pun akhirnya belajar kalau waktu bukan hanya tentang berapa banyak yang kita habiskan, tapi bagaimana kita mengisinya. Karena pada akhirnya, yang kita cari bukan sekadar hiburan, tapi rasa cukup bahwa hidup ini benar-benar dijalani, bukan hanya dilewati.

Dan mungkin, sesekali, kita memang perlu berhenti scrolling untuk mulai benar-benar hidup. Kalau kamu, sudahkah berpihak pada kesadaran diri kembali pada real life atau masih terus terjebak scrolling tanpa henti?