Satu kesalahan yang terus berulang dalam banyak film anak-anak, yakni ‘kepolosan’ sering disalahartikan sebagai ‘kebodohan’. Seolah-olah, ketika anak melihat dunia dengan cara yang sederhana, itu berarti mereka belum cukup memahami bagaimana hidup bekerja. Imajinasi dianggap sebagai pelarian, rasa ingin tahu dipandang sebagai ketidaktahuan.
Padahal, bisa jadi, kita (orang dewasa) yang perlahan kehilangan kemampuan untuk melihat dunia dengan jernih. Di titik itulah film Na Willa hadir, bukan untuk mengoreksi anak-anak, tapi untuk diam-diam menegur kita, lho.
Diadaptasi dari novel karya Reda Gaudiamo dan disutradarai Ryan Adriandhy, film ini memilih pendekatan yang sederhana, tapi terasa jujur. Film ini tidak mencoba membuat anak-anak terlihat seperti versi mini orang dewasa, melainkan mengajak kita kembali memahami cara mereka memaknai dunia.
Dan ingatan itu perlahan menemukan bentuknya ketika film ini membawa kita ke tahun 1968. Film ini tentu saja mengisahkan Na Willa (Luisa Adreena), anak yang menjalani hari-harinya bersama sang ibu, Mak (Irma Novita Rihi), sementara ayahnya jarang berada di rumah karena bekerja di bidang pelayaran.
Dengan pendekatan episodik, cerita mengikuti keseharian Na Willa yang dipenuhi aktivitas sederhana. Mulai dari bermain bersama teman-temannya, pergi ke pasar, hingga berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.
Dari rutinitas itulah, film ini memotret bagaimana ‘anak’ membangun ingatan, imajinasi, dan cara pandangnya terhadap dunia.
Konflik yang dihadirkan pun tidak besar. Salah satu yang paling terasa adalah ketika Na Willa harus menghadapi rasa sepi, saat teman-temannya mulai bersekolah sementara dia tetap berada di rumah karena Mak memilih untuk mengajarinya sendiri. Sebuah situasi yang mungkin terlihat biasa, tapi bagi anak-anak, bisa terasa sangat besar.
Dan di sinilah film Na Willa mulai terasa berbeda. Film ini memahami bahwa dunia anak-anak tidak membutuhkan dramatisasi berlebihan untuk terasa hidup. Hal-hal kecil justru menjadi pusat cerita. Kita bisa melihat rasa senang yang tulus, ketakutan yang datang tanpa alasan jelas, hingga rasa penasaran terhadap hal-hal baru.
Sebagai penonton, aku pelan-pelan ikut masuk ke dalam dunia itu. Dan jujur, ada momen di mana aku merasa tercubit. Karena aku sadar, aku sudah terlalu lama melihat dunia dengan cara yang kaku.
Yang membuat film ini semakin hidup adalah cara Ryan Adriandhy membangun imajinasi. Dia tidak memaksakan keanehan, melainkan membiarkannya mengalir secara alami. Ada momen ketika surat dari ayah dibaca, lalu dunia di sekitar Na Willa berubah seperti panggung teater. Imajinasi dan realita bercampur tanpa terasa janggal.
Pendekatan ini membuatku (dan mungkin juga kamu) melihat dunia dari sudut pandang anak-anak. Cara pandang yang mungkin terasa asing bagi orang dewasa, tapi sebenarnya pernah kita miliki.
Dan mungkin, justru sudah lama kita lupakan. Lewat karakter Mak, film ini menyentil peran orang dewasa. Dia digambarkan sebagai sosok ibu yang tegas, perhatian, tapi tetap manusiawi dengan punya batas dan kesalahan. Dari situ, film ini menyampaikan pesannya: anak-anak belajar bukan dari apa yang kita katakan, tapi dari apa yang kita lakukan.
Pesannya begitu jujur tanpa terasa menggurui. Malahan jadi media introspeksi bagi orang dewasa yang sering merasa sudah paling benar. Di titik ini, Na Willa terasa lebih dari sebatas film anak-anak.
Di akhir, film ini tidak menawarkan klimaks besar atau ledakan emosi. Hanya meninggalkan perasaan hangat, sekaligus sedikit kosong. Seperti membuka kembali kenangan lama, lalu menyadari bahwa banyak hal telah berubah, termasuk cara kita melihat dunia. Sudahkah Sobat Yoursay nonton film Na Willa? Sempatkan nonton film spesial Idulfitri 2026 ini, ya. Selamat menonton!
Baca Juga
-
Ukuran Monster di Troll 2 Tambah Gede, tapi Ceritanya Kok Jadi Jinak?
-
Pelangi di Mars, Ketika Film Anak Gagal Memahami Anak
-
Iron Lung, Teror Kosmik dari Ruang Sempit yang Menghimpit
-
Project Hail Mary, Persahabatan Antar Planet di Tengah Ancaman Kosmik
-
I Love Boosters, Satir Kapitalisme Dunia Fashion yang Absurd
Artikel Terkait
Ulasan
-
Film Penerbangan Terakhir: Kritik Arrival Fallacy dalam Karier yang Sukses
-
Kisah Penebusan Dosa dan Keteguhan Prinsip dalam Hidup di Novel Janji
-
Banjir Air Mata: Kisah Haru di Kolom Komentar Ada Titik-titik di Ujung Doa
-
Memaknai Arti Sahabat Sejati di Novel Aldebaran Bagian 1 Karya Tere Liye
-
Hantu Masa Lalu dan Teka-teki 19 Triliun dalam Novel Tentang Kamu
Terkini
-
Kisah Sunyi Seorang Death Doula di Ujung Kehidupan
-
Samsung Galaxy A57 Segera Rilis: Tipis, Kencang, dan Makin Ngegas di KelasMid-Range
-
Batal Debut September 2026, Ini Bocoran Tanggal Peluncuran iPhone Fold Terbaru
-
Gen Z di Hari Raya: Antara Kewajiban Tradisi dan Realita Zaman
-
Lebaran Jangan Sampai Bikin Kulit Kusam! 6 Cara Kembalikan Wajah Glow Up Setelah Keriuhan Hari Raya