Kesuksesan ‘film monster’ seringkali membuat sekuelnya terasa enggak terelakkan. Setelah ‘Troll’ (2022) berhasil mencuri perhatian sinefil global dengan perpaduan mitologi Norwegia dan sensasi blockbuster yang ramah keluarga, ‘Troll 2’ muncul dengan mengemban janji eskalasi yang lebih besar, konflik yang lebih luas, dan taruhan yang lebih personal. Namun, seperti halnya sekuel lainnya, film ini yang memperbesar skala belum tentu memperdalam cerita. Ups.
Betewe, Film Troll 2 yang tayang di Netflix sejak 1 Desember 2025 disutradarai kembali sama Roar Uthaug, dengan naskah ditulis Espen Aukan, dan kembali dibintangi Ine Marie Wilmann sebagai Nora Tidemann, didampingi Kim S. Falck-Jorgensen, Mads Sjogard Pettersen, dan Karoline Viktoria Sletteng Garvang.
Memangnya kali ini mengisahkan tentang apa, sih? Kepoin, yuk!
Sinopsis Film Troll 2
Cerita Troll 2 masih berpusat pada Nora Tidemann, pakar folklor dan troll yang sebelumnya sempat kehilangan kepercayaan pemerintah. Ketika troll raksasa bernama Jotun kembali aktif dan mulai mengancam wilayah Norwegia, Nora kembali diminta membantu pemerintah memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Situasi menjadi lebih rumit ketika terungkap Jotun nggak sendirian. Dia memiliki anak. Fakta tersebut memicu konflik internal di antara para troll sekaligus memunculkan dilema baru bagi manusia.
Di sisi lain, pemerintah Norwegia menghadapi tekanan politik besar, sementara sejarah lama yang berkaitan dengan Raja Olaf dan pengusiran troll mulai mengemuka, seakan-akan mengisyaratkan ancaman ini nggak sebatas masalah monster, melainkan juga kisah masa lalu yang belum selesai.
Ini menarik sebenarnya, tapi ….
Review Film Troll 2
Untungnya aku nonton Film Troll 2 dengan ekspektasi yang nggak muluk-muluk. Memang benar, film ini lebih banyak aksi, konflik yang lebih tajam, dan eksplorasi mitologi yang lebih dalam. Sayangnya, meski film ini tampak lebih besar secara visual, isinya kok cenderung jinak.
Masalah utama Film Troll 2, menurutku, eksekusi yang setengah-setengah. Film ini punya banyak ide menarik, di mulai dari hubungan ayah dan anak di antara troll, sejarah Norwegia yang problematis, serta konflik moral tentang apakah troll benar-benar monster. Namun, hampir semua ide itu hanya disentuh di permukaan, lalu dilupakan begitu saja, bahkan sebelum berkembang menjadi sesuatu yang benar-benar berkesan.
Nora masih menjadi karakter paling simpatik sih. Aku suka gimana dia tetap digambarkan sebagai sosok yang percaya troll bukan semata ancaman, melainkan makhluk dengan emosi dan sejarah. Namun, konflik pribadinya, termasuk hubungannya dengan sang ayah yang menjadi sumber ketertarikannya pada troll, terasa kayak subplot yang dilupakan begitu saja.
Karakter pendukung pun nggak jauh berbeda. Andreas, pejabat pemerintah yang cerewet kayak cuma jadi sumber humor ringan daripada figur yang membawa ketegangan emosional. Hubungannya dengan sang istri yang sedang hamil seharusnya bisa jadi taruhan personal yang kuat, tapi jarang benar-benar dimanfaatkan. Ancaman terhadap keluarga mereka pun terasa formalitas, bukan dorongan dramatis yang mendesak.
Marion dan Kapten Kris juga sebenarnya berpotensi konflik lho. Skeptisisme versus empati, profesionalisme versus emosi. Namun, semuanya cepat mereda. Hampir semua karakter terlalu cepat sepakat, terlalu sopan, dan terlalu ‘baik’ untuk film yang seharusnya berbicara tentang kehancuran dan luka sejarah.
Bahkan, gagasan terkait legenda nasional dan sejarah heroik Norwegia mungkin menyimpan sisi kelam, khususnya dalam cara manusia memperlakukan troll. Sayangnya, ketika film ini mulai menyinggung hubungan antara Jotun dan sejarah Raja Olaf, sama sekali nggak ada ‘pesan’ yang lebih tajam.
Yang jelas, film ini terlalu banyak bermain di zona nyaman sebagai tontonan keluarga ketimbang benar-benar menggali konsekuensi moral dari sejarah yang diceritakannya.
Agak disayangkan, tapi bukan berarti film ini nggak layak tonton. Film ini menghibur dan mudah ditonton, terlepas terlalu berhati-hati dan kurang meninggalkan kesan mendalam. Bila Sobat Yoursay penasaran, cuz buka Netflix!
Baca Juga
-
Review Lucky: Bertabur Bintang, Sayangnya Naskah Terlalu Dangkal Dinikmati
-
Review The Devil's Mouth: Film yang Gagal Memaksimalkan Ide Besarnya
-
Ternyata Fanatisme Film Samakdo Lebih Horor dari Teror Setan, Ngeri Banget!
-
Spider-Man: Brand New Day dan Awal Era Mutan di Marvel Cinematic Universe
-
Review Film 'Sajen Satu Suro': Bukan Sekadar Horor Mistis, Ini Sisi Gelap Dosa Manusia!
Artikel Terkait
-
Tommy Shelby Kembali! Film Peaky Blinders: The Immortal Man Sajikan Fan Service yang Tajam
-
Dari Bandar Narkoba hingga Kekerasan Seksual, Isu Berat di My Name (2021)
-
One Piece Live Action S2 Rajai Global Top 10 Netflix, Raih 16,8 Juta Views
-
Spinoff Bridgerton Disiapkan, Bakal Angkat Kisah Cinta Pasangan Fenomenal Ini
-
Bocoran Artis dan Alur Cerita Serial TV Assassin's Creed, Sutradara Chernobyl Pimpin Proyek
Ulasan
-
Buku Sibling Rivalry, Mengurai Trauma Masa Kecil dan Persaingan Antarsaudara
-
Dear Muslim Child: Buku Inspiratif untuk Tumbuhkan Percaya Diri Anak Muslim
-
Mencicipi Nasi Telur Mang One Jambi: Telur Garing, Nasi Daun Jeruk, dan Sensasi Paru Mercon
-
Ulasan Novel Supernova Akar, Petualangan Bodhi Mencari Jati Diri
-
Review You and Everything Else: Saat Persahabatan Jadi Sumber Luka Dalam
Terkini
-
Di Depan Penyakit, Tak Ada Nasionalisme yang Lebih Penting dari Kesembuhan
-
Kirsten Dunst Gabung Sekuel The Housemaid, Intip Sinopsis dan Jadwal Tayang
-
Mau Tampil Gentle? Intip 4 OOTD Dandy Smart Casual ala Kang Hoon
-
5 Coffee Shop 24 jam untuk Kamu yang Bosan Nugas di Kos
-
Yurizal, BPJS, dan Harga Sebuah Empati