Lintang Siltya Utami | Harsa Permata
Poster Film Tabula Rasa (Layar.id)
Harsa Permata

Menonton film Tabula Rasa (2014) yang disutradarai oleh Adriyanto Dewo ini, kita selain disuguhkan dengan indahnya keberagaman dan toleransi, terdapat juga pelajaran penting: tidak semua orang awalnya mau menerima toleransi. Hal itu harus melalui proses yang tidak instan. Apalagi di momen bulan Syawal ini, di mana kita bicara soal saling memaafkan, film ini memberi gambaran nyata bahwa proses menuju "titik nol" atau suci kembali itu butuh perjuangan batin yang besar.

Karakter utama film ini adalah Hans (Jimmy Kobogau), Mak (Dewi Irawan), Natsir (Ozzol Ramdan), dan Parmanto (Yayu Unru). Uniknya, setelah saya coba riset online, dari tiga pemeran karakter orang Minang dalam film ini, mungkin hanya Dewi Irawan yang benar-benar berdarah Minang. Namun perbedaan ini justru memperkuat pesan filmnya.

Kisah bermula dari panti asuhan tempat Hans tinggal bersama adik-adik sepantinya di Serui, Papua. Mereka berdoa dengan cara Kristen, memohon berkat atas makanan yang akan mereka makan. Setelah itu Hans mengikuti sebuah pertandingan sepakbola, yang dimenangkan timnya, karena gol yang dicetak oleh Hans. Bakat Hans ini menarik perhatian seorang pencari bakat yang memberinya sebuah kartu nama supaya ia pergi ke Jakarta, untuk bermain di salah satu klub di Jakarta.

Singkat cerita, Hans berangkat ke Jakarta naik pesawat capung, diantar oleh adik-adik sepanti, dan ibu pengasuh panti asuhan, yang dipanggilnya Mama. Setelah itu layar berganti dengan Hans yang sudah pincang, mengejar truk pengangkut beras. Karena tak mampu berlari, ia kalah sigap dari para kuli serabutan lainnya yang berhasil naik ke atas truk yang tengah melaju.

Hans tetap dapat bayaran kemudian dari memungut butiran beras yang tercecer di lantai gudang. Bayaran yang tak seberapa itu, digunakannya untuk membeli makanan. Setelah malam, Hans pergi ke tenda kecil buatannya, yang ia jadikan tempat tinggal, setelah itu ia pergi lagi ke jembatan penyeberangan di atas rel kereta. Hans sepertinya sudah putus asa, dan ingin menghabisi nyawanya sendiri, dengan meloncat dari atas jembatan penyeberangan.

Keesokan harinya, Mak, seorang perempuan Muslim, perantau Minang, menemukan Hans tertidur di atas jembatan penyeberangan. Ternyata ia tak jadi bunuh diri, Mak kemudian memegang hidung Hans, untuk mengecek apakah ia masih hidup atau tidak. Refleks Hans menggerakkan tangannya, berbalas refleks Mak yang memukul kepala Hans sampai pingsan.

Mak yang menyesali perbuatannya, kemudian membawa Natsir, karyawan di rumah makan Minang “Takana Juo” miliknya. Kemudian setelah dipapah berdiri, mereka bertiga berjalan menuju rumah makan milik Mak. Di sana, Mak langsung memasak Gulai kepala Ikan Kakap, masakan yang digemari oleh almarhum anaknya. Gulai itu disuguhkannya untuk Hans, yang memakannya dengan lahap.

Konflik dalam film ini bermula dari sikap Parmanto, yang kurang begitu suka dengan Hans, karena tampilannya yang gelandangan. Bakat memasak Hans semakin membuat Parmanto, yang bekerja sebagai juru masak di rumah makan Takana Juo, menjadi tambah tidak suka. Apalagi dalam perjalanan cerita sempat digambarkan bahwa rumah makan mulai sepi pengunjung. Parmanto meminta Mak untuk mengurangi bumbu atau memberhentikan Hans. Mak menolak kedua opsi Parmanto tersebut.

Parmanto kemudian pindah kerja ke rumah makan Padang baru di seberang Takana Juo. Rumah makan baru ini jauh lebih besar, fasilitas lebih lengkap, dengan karyawan lebih banyak. Mak, Natsir, dan Hans, baru paham kalau Parmanto bekerja di sana, setelah berkunjung ke sana. Mak mengetahuinya setelah mencicip rendang rumah makan tersebut. Ia lalu bergegas ke dapur, dan memarahi Parmanto yang tengah memasak di sana.

Pertengkaran pun tak terelakkan, Natsir dan Hans kemudian melerai, mereka kemudian membawa Mak pulang ke rumah makan Takana Juo, yang sekaligus jadi tempat tinggal mereka. Di sana Hans mengusulkan Mak untuk memasak gulai kepala ikan kakap, untuk menyaingi rumah makan baru tersebut. Mak menolak keras usulan Hans. Natsir kemudian menjelaskan pada Hans bahwa gulai kepala ikan itu adalah makanan kesukaan almarhum anak Mak, yang meninggal saat gempa besar di Ranah Minang pada tahun 2009.

Setelah Natsir memberi tahu Mak bahwa ia telah menceritakan makna gulai kepala ikan kakap tersebut bagi Mak, Mak kemudian setuju untuk memasak gulai kepala ikan bersama Hans. Benar dugaan Hans, bahwa berkat menu tersebut, pengunjung mulai ramai kembali. Bahkan Parmanto meminta karyawan rumah makan tempat ia bekerja untuk membeli gulai kepala ikan tersebut. Parmanto kemudian menangis saat memakan gulai tersebut.

Perdamaian antara Parmanto, Hans, dan Natsir terjadi saat Mak sakit parah dan harus dibawa ke rumah sakit oleh Natsir, meninggalkan Hans sendirian menyelesaikan pesanan dalam jumlah besar, untuk sebuah pesta. Parmanto tanpa disuruh, datang ke rumah makan Takana Juo untuk membantu Hans menyelesaikan pesanan. Di sana ia bertemu Natsir, yang awalnya masih kesal, tapi didamaikan oleh Hans. Pesanan selesai, tapi Parmanto menolak untuk kembali bekerja di Takana Juo, karena ia tidak mau ada dua nakhoda.

Sikap toleran dalam film ini, tidak langsung serta merta disadari oleh semua karakter. Awalnya Mak, dengan latar belakang suku dan agama yang berbeda dari Hans, yang bersedia menampung Hans dan memberinya pekerjaan di rumah makan. Berikutnya, Natsir, yang suka dengan kepribadian Hans yang suka melawak. Sementara, untuk Parmanto, itu kurang lebih terjadi karena mencicipi masakan kepala ikan kakap buatan Hans, selain itu kondisi luar biasa, yaitu Mak harus dirawat di rumah sakit, ada semacam simpati dari hati Parmanto, yang mendorongnya untuk menolong Hans.

Film ini sebenarnya ingin menyampaikan pada Indonesia, bahwa keberagaman di Indonesia adalah sifat asli bangsa kita, yang sudah diturunkan dari budaya nenek moyang bangsa Indonesia sejak dulu kala. Keberagaman bumbu, cara makan—Hans sempat membuat papeda kuah kuning, yang dimakannya bersama Mak, Hans mengajari Mak bahwa makan papeda langsung dihisap dan ditelan saja tanpa dikunyah—agama, bahasa, budaya dan lain-lain, adalah khas Indonesia.

Di bulan Syawal ini, cerita dari dapur Takana Juo mengingatkan kita bahwa memaafkan dan menerima perbedaan adalah aset dan kekayaan bangsa kita, yang membedakan kita dari bangsa-bangsa lain di dunia. Dari sepiring gulai dan papeda, kita belajar menjadi manusia yang kembali fitri dengan menghargai sesama.