Dalam dunia sastra Indonesia kontemporer, nama Seno Gumira Ajidarma selalu menghadirkan warna yang khas. Tajam, satir, tetapi tetap renyah dibaca. Ia lahir pada 19 Juni 1958 dan berkarier sebagai wartawan sejak 1977.
Seno terbiasa membaca realitas dengan mata jurnalis sekaligus mengolahnya dengan imajinasi sastrawan. Kekuatan itulah yang terasa begitu kental dalam buku Kentut Kosmopolitan, sebuah kumpulan esai yang pertama kali terbit pada 2008 oleh Koekoesan dengan tebal 296 halaman.
Buku ini memuat 65 esai yang sebelumnya tersebar di berbagai media. Masing-masing tulisan berdurasi baca singkat, sekitar 700 kata, namun menyimpan daya ledak refleksi yang panjang.
Sebagai sekuel dari Affair: Obrolan tentang Jakarta, buku ini melanjutkan kegelisahan Seno dalam membaca kota metropolitan sebagai teks yang hidup. Jakarta, dalam tangannya, bukan sekadar ruang geografis, melainkan medan tafsir yang penuh konflik makna, identitas, hingga absurditas.
Di antara kekuatan utama buku ini terletak pada cara Seno memotret Homo Jakartensis, sebutan ironis bagi manusia Jakarta yang hidup dalam paradoks. Dalam esai seperti "Jakarta sebagai Teks”, “Jakarta dan Ruang”, hingga “Jakarta yang Sebenarnya?”, pembaca diajak menyadari bahwa kota ini bukan hanya tempat tinggal, melainkan konstruksi imajinasi tentang sukses, harga diri, dan harapan.
Pertanyaan sederhana seperti mengapa orang-orang dari kota sejuk seperti Bandung tetap berbondong ke Jakarta, dijawab dengan cerdas, karena Jakarta hidup di kepala mereka sebagai simbol keberhasilan.
Seno bahkan mengutip gagasan Roland Barthes tentang pembaca sebagai subjek dengan pluralitas teks dalam dirinya. Maka, Jakarta pun menjadi teks terbuka, ditafsirkan berbeda oleh setiap orang yang menghuninya.
Namun, kekuatan Kentut Kosmopolitan tidak berhenti pada tema besar kota. Justru daya pikatnya muncul dari hal-hal remeh yang diolah menjadi refleksi filosofis. Dalam esai berjudul “Kentut Kosmopolitan”, misalnya, Seno mengangkat tema yang tampak sepele (kentut) menjadi kritik sosial tentang kepura-puraan manusia modern.
“Menahan kentut dianjurkan oleh kesopanan, tetapi sangat tidak berguna untuk kesehatan. Dalam pergaulan orang-orang sopan, kentut tetap diberlangsungkan diam-diam.”
Kutipan ini bukan sekadar humor, melainkan sindiran telak terhadap budaya yang menutupi kebenaran demi citra. Di sinilah Seno bermain, membongkar kemunafikan dengan cara yang menggelitik.
Bagian lain yang tak kalah menarik hadir dalam kumpulan esai seperti “Mie Atjeh”, “Flu Ikan! Flu Sayur! Flu Udara!”, “Masih Sekitar Toilet”, hingga “Luwak, Monyet, dan Kita”. Tema-tema ini meluas dari isu keseharian hingga kritik budaya, bahkan menyentuh persoalan global seperti pandemi, narsisme, dan relasi manusia dengan hewan.
Meski ditulis dalam rentang waktu 2004–2020, sebagian besar esai tetap terasa relevan, seolah waktu tidak benar-benar bergerak di Jakarta. Yang berubah hanya teknologinya.
Struktur buku ini terbagi menjadi dua bagian, Kentut 1 dan Kentut 2, menunjukkan evolusi pemikiran Seno. Jika bagian pertama lebih banyak mengulas fenomena urban klasik, maka pada bagian kedua terasa lebih kontemporer dengan tambahan esai baru dan pembaruan konteks.
Dari segi gaya bahasa, buku ini relatif ramah bagi pembaca pemula. Kosakata yang digunakan ringan, mengalir, dan sering kali humoris. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan lapisan makna yang membutuhkan perenungan. Tak heran jika membaca buku ini tidak bisa tergesa-gesa. Setiap esai seperti mengajak berhenti sejenak, merenung, lalu tersenyum kecut.
Bagi pembaca berusia di atas 13 tahun, buku ini bisa menjadi pintu masuk yang menyenangkan ke dunia esai kritis. Namun, beberapa bagian tetap memerlukan kedewasaan dalam memahami konteks sosial dan satir yang disampaikan.
Menurut pandangan saya, buku Kentut Kosmopolitan bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan pengalaman membaca yang utuh. Buku ini mengajak pembaca tidak hanya melihat Jakarta, tetapi juga menertawakan, mengkritik, dan bahkan mencurigainya.
Dalam dunia yang sering tidak utuh, seperti yang disinggung dalam esai “Kalau Tak Utuh”, membaca buku ini justru menghadirkan keutuhan pengalaman intelektual, kepuasan yang jarang ditemukan.
Identitas Buku
Judul: Kentut Kosmopolitan, Obrolan Urban
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Pabrik Tulisan
Cetakan: I, Desember 2020
Tebal: 336 Halaman
ISBN: 978-623-925-983-9
Baca Juga
-
iPhone 17e Resmi Hadir, Berikut Spesifikasi dan Alasan Mengapa Layak Dibeli
-
LG UltraGear 45GX950A-B, Monitor OLED 45 Inci Cocok untuk Gamer Profesional
-
Masih Hangat!Honor X80 Pro Max Resmi Debut 22 Juni:Usung Baterai 11.000 mAh dan Layar 10.000 Nits
-
Hutan yang Menelan Rahasia dalam Buku Dosa di Hutan Terlarang
-
Membaca Tembang Talijiwo: Seni Menertawakan Kekacauan Hidup
Artikel Terkait
Ulasan
-
Divorce Attorney Shin: Memahami Perceraian dari Sisi yang Lebih Manusiawi
-
Kebenaran yang Dikubur dan Bungkamnya Masyarakat dalam Film Tanah Sengketa
-
Pemandi Jenazah: Ketika Ritual Terakhir Menjadi Sumber Teror
-
Obsession Membuktikan Hollywood Mampu Mengemas Mitos Pelet Begitu Memikat
-
Berlari Bersama Forrest Gump: Mengapa Ketulusan Adalah Senjata Terkuat Menghadapi Dunia yang Kejam
Terkini
-
4 Dark Spot Serum Ampuh Bikin Kulit Glowing dan Bekas Jerawat Auto Memudar
-
Usung Kisah Emosional William Shakespeare, Hamnet Tayang 6 Juli di Netflix
-
Piala Dunia 2026: Tembus Babak 16 Besar, Kanada Sukses Cetak Sejarah Baru!
-
Belanda, Piala Dunia, dan Predikat Juara Tanpa Mahkota yang Masih Abadi
-
Sinopsis Agent Kim Reactivated, So Ji-sub Taruhkan Nyawa Demi Anak