Dalam buku Kelakar Madura Buat Gus Dur, Sujiwo Tejo menghadirkan sebuah lanskap naratif yang unik. Pria kelahiran Jember Jawa Timur itu menjadikan humor sebagai pintu masuk memahami bangsa.
Membaca buku ini serasa duduk di sebuah warung kopi sederhana, mendengarkan kisah-kisah ringan yang perlahan menjelma menjadi refleksi sosial yang dalam. Sosok Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi poros utama, bukan sekadar sebagai tokoh politik, melainkan sebagai manusia dengan kelakar cerdas yang menghidupkan ruang publik.
Sejak halaman-halaman awal, pembaca diajak menyelami relasi hangat antara Gus Dur dan masyarakat Madura. Bagi Gus Dur, orang Madura bukan sekadar objek humor, melainkan subjek budaya dengan karakter kuat, yang polos, ngeyel, tetapi jujur.
Dalam salah satu kisah, ketika muncul gejolak politik yang mengancam posisinya sebagai presiden, masyarakat Madura bahkan menunjukkan loyalitas ekstrem dengan ancaman memisahkan diri dari Indonesia. Namun, dengan gaya khasnya, Gus Dur meredam situasi hanya dengan penjelasan sederhana, tentang mahalnya biaya negara baru dan repotnya membuat paspor. Kelakar yang tampak ringan, tetapi efektif meredakan emosi kolektif.
Dalam kata pengantar, Inayah Wahid menegaskan bahwa Gus Dur sejatinya adalah komedian yang punya profesi sampingan sebagai Presiden. Pernyataan ini bukan sekadar pujian, melainkan kunci membaca keseluruhan buku. Humor dalam buku ini bukan pelarian dari realitas, melainkan cara paling jujur untuk menyingkapnya.
Salah satu kekuatan buku ini terletak pada fragmen-fragmen kisah yang sederhana namun membekas. Misalnya, cerita tentang Tolak, seorang anak kecil yang menganggap kembang turi sebagai celurit. Dialog polos itu tercatat dalam buku.
“Itu celurit ya, Mak?”
“Kembang Turi.”
“Celurit.”
“Kembang Turi, Cong.”
“Celurit, Mak.”
“Ya sudah, celurit. Sana untuk main. Jangan dimakan.” (halaman 25).
Dialog ini bukan sekadar lucu. Ia menggambarkan bagaimana realitas bisa dipahami secara berbeda oleh setiap individu, dan bagaimana kebenaran kadang bersifat lentur dalam kehidupan sehari-hari.
Kisah lain yang tak kalah menarik muncul dalam satire politik yang dibungkus humor. Dalam sebuah rapat menjelang kedatangan Gus Dur, seorang tokoh berkata, “Gampang. Sor mejo keh uuuulane jo gelo wis caaarane. Masa sih Gus Dur nggak mau mendengar nasihat seorang Presiden?”
Kelakar ini menjadi kritik halus terhadap ambisi kekuasaan sekaligus absurditas politik itu sendiri.
Tidak hanya itu, buku ini juga menyuguhkan humor-humor yang menggigit, seperti dalam kisah Pemilu Paling Murah.
“Nah itu gampang, tidak usah ada anggaran paku, pemilu bisa murah, di Madura banyak paku...” (halaman 67).
Atau satire tajam tentang politik nasional.
“Untung Akbar Tanjung bukan orang Madura, karena di Madura adanya Taman Nak-Kanak.” (halaman 53).
Setiap kelakar terasa seperti jebakan. Kita tertawa lebih dulu, lalu diam sejenak karena maknanya menyentuh sesuatu yang lebih dalam.
Sebagai pembaca yang menuntaskan buku ini, saya merasakan bahwa karya ini bukan sekadar kumpulan anekdot. Ia adalah esai panjang tentang Indonesia, tentang bagaimana kita sering terjebak dalam keseriusan yang artifisial, sementara kebenaran justru muncul dalam keluguan. Sujiwo Tejo berhasil meramu narasi prosais dengan komedi, menjadikannya semacam esai hidup yang mengalir.
Tokoh-tokoh seperti Pak Baidowi juga memperkuat kesan tersebut. Ucapannya sederhana, tetapi sarat makna.
“Bagaimana kita bisa pusing dipimpin Gus Dur, bumi tiap saat berputar saja kita juga tidak pusing.”
Kalimat ini terasa seperti tamparan halus bagi mereka yang terlalu rumit memaknai hidup.
Pendek kata, buku ini adalah ajakan untuk berdamai dengan diri sendiri dan realitas. Kita diajak menertawakan diri, bukan dalam arti merendahkan, tetapi sebagai bentuk kesadaran bahwa hidup tidak selalu harus dipahami secara kaku. Humor menjadi jembatan menuju kebijaksanaan.
Buku ini juga terasa sangat relevan hari ini, ketika ruang publik dipenuhi narasi penuh kepalsuan. Di tengah hiruk-pikuk itu, Kelakar Madura Buat Gus Dur hadir sebagai pengingat bahwa kejujuran sering datang dalam bentuk yang paling sederhana: tawa.
Identitas Buku
- Judul: Kelakar Madura Buat Gus Dur
- Penulis: H. Sujiwo Tejo
- Penerbit: Imania
- Cetakan: I, Januari 2018
- Tebal: 200 Halaman
- ISBN: 978-602-8648-25-7
Baca Juga
-
Kentut Kosmopolitan: Catatan Nakal tentang Jakarta ala Seno Gumira Ajidarma
-
iQOO 16: Monster Performa dengan Kamera Periskop 50MP dan Chip 2nm Terbaru
-
Honor Win Turbo, HP Gaming Baru dengan Tenaga dan Baterai Tak Masuk Akal
-
Trump T1: HP dengan Spesifikasi Premium, Buatan Perusahaan Donald Trump
-
Kepedulian yang Disalahartikan: dari Niat Tulus ke Beban Tak Bertepi
Artikel Terkait
-
Review The Sheep Detectives: Hadir dengan Humor Absurd dan Emosi Mendalam!
-
Membaca Mata yang Enak Dipandang: Cermin Retak Masyarakat Kita yang Masih Sangat Relevan
-
Tuhan Maha Asyik: Menggugat Cara Beragama yang Kaku dan Dangkal
-
Satire di Balik Tawa: Membaca Indonesia Lewat Buku Esai Lupa Endonesa
-
Hasil BRI Super League: Taklukkan Bali United, MU Menjauh dari Zona Merah
News
-
Menolak Romantisasi Seni Gratisan yang Mematikan Seniman: Jeritan Jaran Abang dari Kota Budaya
-
Tembus Beasiswa Petra Future Leaders 2026, Inilah Sosok Christopher Kevin Yuwono
-
Masih Banyak yang Menganggap Sama, Apa Bedanya Paskah dan Kenaikan Yesus Kristus?
-
Membawa Ruh Yogyakarta ke Bandung: Sinergi Budaya dan Bisnis LBC Hotels Group
-
Upacara Adat Majemukan Desa Glagahan: Merajut Syukur dan Menjaga Warisan Leluhur
Terkini
-
Sinopsis Midnight Taxi, Drama Jepang yang Dibintangi Furukawa Kotone
-
Review The Square: Konfrontasi Dramatis antara Seni dan Realitas Primal!
-
Penolakan LCC Ulang oleh SMAN 1 Pontianak dan Versi Lite Pemberontakan Kaum Pintar
-
Anime Sci-Fi Cyborg 009: Nemesis Umumkan Yuki Kaji Jadi Joe Shimamura
-
Seni Menjalani Proses dengan Enjoy di Buku The Art of Divine Timing