Resensi ini berangkat dari kerinduan panjang untuk kembali bertemu dengan tokoh-tokoh yang pernah hidup dalam novel-novel sebelumnya, Lalita. Dalam novel Maya, Ayu Utami menghadirkan kelanjutan yang tidak sekadar menjawab rasa penasaran, tetapi juga memperluas horizon pembaca tentang cinta, sejarah, dan makna kebenaran yang kerap luput dari kesadaran.
Alih-alih berfokus pada Yuda, Parang Jati, dan Marja sebagaimana harapan awal, novel ini justru menempatkan Yasmin sebagai pusat narasi. Dua tahun setelah Saman dinyatakan hilang bersama Larung, Yasmin menerima tiga pucuk surat misterius dari kekasih gelapnya itu.
Surat-surat tersebut bukan hanya membangkitkan harapan, tetapi juga membuka pintu ke dalam labirin batin yang penuh teka-teki. Bersama surat itu, terselip sebutir batu akik, objek kecil yang kemudian menjelma simbol besar, bahkan terkait mitos kekuasaan seperti Supersemar.
Perjalanan Yasmin membawanya ke Padepokan Suhubudi, tempat spiritual yang menjadi simpul pertemuan antara rasionalitas modern dan kebatinan Jawa. Di sana, ia bertemu kembali dengan Parang Jati, sosok yang menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Dalam suasana magis sendratari Ramayana, realitas dan ilusi bercampur, hingga Yasmin seakan melihat bayangan Saman dalam wujud lamanya sebagai Frater Wisanggeni.
Struktur novel yang terbagi menjadi tiga bagian, Kini, Dulu, dan Kelak ini, membuat cerita bergerak lincah antara waktu dan perspektif.
Pada bagian “Dulu”, pembaca diajak menelusuri jejak Saman di masa Orde Baru, ketika kekuasaan begitu represif. Di sinilah Ayu Utami menyisipkan kritik sosial yang tajam. Kisah kekerasan terhadap rakyat kecil, seperti pemotongan tangan petani, menghadirkan kenyataan pahit yang sulit dilupakan.
Salah satu kutipan yang menggugah muncul ketika narasi mempertanyakan batas antara kewarasan dan kejujuran.
“Tentang seorang perempuan yang dituduh gila. Padahal barangkali perempuan itu hanya jujur.” (Halaman 94).
Kutipan ini menjadi semacam cermin, bahwa kebenaran sering kali ditentukan oleh siapa yang berkuasa, bukan oleh realitas itu sendiri.
Tema besar "maya" sebagai ilusi menjadi benang merah yang merajut seluruh cerita. Apa yang tampak belum tentu nyata, dan apa yang diyakini benar belum tentu mutlak. Novel ini seperti mengajukan pertanyaan filosofis yang tak pernah selesai, apakah kebenaran itu absolut, atau sekadar konstruksi manusia?
Ayu Utami juga piawai mempertemukan hal-hal yang sering dipertentangkan: sains dan spiritualitas, logika dan mitos. Tokoh-tokohnya menjadi representasi cara manusia memahami kehidupan. Ada yang rasional, emosional, hingga yang berada di antara keduanya. Dalam konteks ini, pembaca diajak untuk tidak sekadar menerima, tetapi juga meragukan.
Ini dia salah satu pernyataan reflektif yang kuat itu, “Ada yang tak bisa kamu mengerti dengan akal rasional. Bahkan dengan akal budi.” (Halaman 105).
Kekuatan novel ini terletak pada keberaniannya dalam menggugat. Ia tidak menawarkan jawaban, melainkan membuka ruang perenungan. Bahkan sejarah pun diperlakukan sebagai sesuatu yang harus terus digali, bukan dilupakan.
“Kita punya pilihan. Untuk lupa atau untuk terus menerus menggali sejarah dan menolak lupa.” (Halaman 164).
Namun, di balik kedalamannya, novel ini bukan tanpa cela. Alur yang padat dengan dialog filosofis membuat ritme cerita terasa melambat. Bahasa yang kompleks menuntut kesabaran dan ketelitian pembaca. Ada pula kesan bahwa bobot cerita belum sepenuhnya mencapai puncaknya, seolah masih menjadi jembatan menuju seri berikutnya.
Meski demikian, pesona novel Maya tetap tak terbantahkan. Ia adalah karya yang tidak hanya dibaca, tetapi juga direnungkan. Ia menggoda, menantang, sekaligus mengusik keyakinan yang selama ini dianggap mapan.
Dalam kisah ini, Yasmin nanti menemukan cara baru mencintai Saman, bukan sekadar sebagai sosok, tetapi sebagai perjalanan batin.
Membacanya pun, tanpa sadar, ikut menjalani perjalanan serupa. Menyelami ilusi, mempertanyakan kebenaran, dan mungkin menemukan diri sendiri di antara keduanya.
Identitas Buku
- Judul: Maya
- Penulis: Ayu Utami
- Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
- Cetakan: I, Desember 2013
- Tebal: 249 Halaman
- ISBN: 978-979-910-626-1
- Genre: Sastra / Novel
Baca Juga
-
Tecno Pova 8 5G Resmi di Indonesia, Bawa Baterai 8.000 mAh dan Kamera Sony
-
Novel Dari Hari ke Hari: Sejarah Besar Diceritakan dari Mata Seorang Bocah
-
Tecno Pova 8 Pro 5G Resmi Meluncur: Bawa Layar 144Hz, Dimensity 7400 Ultimate, dan Baterai 6.500 mAh
-
ASUS ExpertBook P5 G2: Laptop Tipis yang Mengubah AI Menjadi Teman Bisnis
-
Desa Les Buleleng Bali Menanam Masa Depan Lewat Konservasi Terumbu Karang
Artikel Terkait
Ulasan
-
Dianggap Mitos hingga Diakui Pahlawan Nasional: Siapakah Ratu Kalinyamat?
-
Novel Celebrity Wedding, Pernikahan Kontrak Antara Akuntan Publik dan Musisi
-
1000x Ghea Indrawari, Lagu yang Bikin Saya Berhenti Membandingkan Cinta
-
Ulasan Ketok Mejik: Aksi Konyol Para Mekanik Mempertahankan Rumah Warisan
-
Novel Dari Hari ke Hari: Sejarah Besar Diceritakan dari Mata Seorang Bocah
Terkini
-
5 Merek Sepatu Lokal dengan Visual Keren dan Harga Terjangkau
-
4 Clay Mask Ampuh Bersihkan Pori untuk Cegah Bruntusan pada Kulit Berminyak
-
Underemployment: Saat Keringat Sarjana Cuma Jadi Angka Formal
-
Desa Les Bekali Generasi Muda dengan Bahasa Inggris, Siap Mendunia?
-
Naturalisasi Pemain Sepak Bola: Proses Kemenangan atau Kesalahan Berulang?